Pendidikan Harus Berbasis Industri

0
39
SEJUMLAH guru SDN 003 Tepilaut mengawasi siswanya saat jam istirahat, belum lama ini. F-martunas/tanjungpinang pos

Kembalikan Kejayaan Tanjungpinang Seperti Tahun 1960-an

Kota Tanjungpinang sudah dijadikan Kota Pendidikan sesuai dengan Perda Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Tanjungpinang 2005-2025. Perda ini disahkan, 1 September 2016 lalu oleh DPRD Kota Tanjungpinang dan Pemko Tanjungpinang.

TANJUNGPINANG – NAMUN, sampai saay ini belum kelihatan wujud realisasi Tanjungpinang sebagai Kota Pendidikan. Harusnya, banyak siswa dari daerah lain di Indonesia yang datang ke Tanjungpinang untuk sekolah.

Hal yang sulit mengembalikan kejayaan Tanjungpinang seperti tahun 1960-an. Saat itu, banyak siswa dari Jambi, Riau dan Kalimantan yang datang ke Tanjungpinang untuk belajar. Apalagi, saat itu masih ada Sekolah Pendidikan Guru di Ibu Kota Provinsi Kepri ini.

Ketua Dewan Pendidikan Kota Tanjungpinang, Zamzami A Karim mengatakan, sulitnya Pemko mewujudkan Tanjungpinang Jadi Kota Pendidikan karena selama ini mengalami defisit. Sehingga, secara otomatis tidak banyak program kerja yang bisa dilakukan membangun kemajuan pendidikan di kota ini.

Kemudian, guru-guru yang ada masih menumpuk di perkotaan. Guru lebih menghindari daerah pinggiran karena beberapa alasan. Ini juga pertanda semangat mengabdi para guru mulai krisis.

Dulu, kata Zamzami, semangat pengabdian para guru sangat tinggi. Ditempatkan di hinterland sekalipun tidak mengeluh dan menjalankan tugasnya dengan baik. Di Kepri, kata dia, menyebaran guru di perkotaan dan pesisir tidak merata. Itu juga yang membuat Sumber Daya Manusia (SDM) antara perkotaan dan pedesaan semakin jauh. Sehingga perlu dicari solusi untuk mengatasinya.

Ia mencontohkan, Kecamatan Tambelan itu menghasilkan banyak Sumber Daya Manusia (SDM). Sehingga, perantau Tambelan banyak sukses di perantauan. ”Itu karena guru yang mengabdi di sana benar-benar bertugas dengan baik,” ujarnya kepada Tanjungpinang Pos via ponselnya, Jumat (9/2).

Kemudian, tambah mantan Ketua Stisipol Raja Haji Tanjungpinang ini, apabila Tanjungpinang ingin mengembalikan kejayaannya menjadi Kota Pendidikan, maka harus ada penguatan mata pelajaran yang sesuai dengan karakteristik provinsi ini.

Misalnya, lulusannya harus siap bekerja di berbagai industri di Batam dan Bintan. Jika sama saja dengan daerah lainnya, maka industri di Batam dan Bintan tetap melirik lulusan sekolah lain yang lebih bagus untuk dijadikan karyawannya.

”Kalau lulusan kita siap kerja dan banyak perusahan yang meminta menjadi karyawannya, maka daerah ini akan menjadi tujuan siswa untuk belajar. Harapannya, mereka akan kerja setelah lulus, jika tidak demikian, maka sulit,” tambahnya.

Salah satu yang diharapkan mampu menarik mahasiswa-mahasiswa luar Kepri untuk belajar di Tanjungpinang ini adalah Kampus Universitas Maritim Raja Ali Hari (UMRAH) dengan ciri khasnya, yakni kemaritiman. Namun, sejauh ini UMRAH belum menjadi tujuan utama mahasiswa luar untuk Kepri. Harusnya, UMRAH memperkuat kemaritimannya dan menjadi kekuatan kampus tersebut untuk menarik minat mahasiswa-mahasiswa lain dari luar daerah Provinsi Kepri.

Ditanya apakah penghapusan sekolah unggulan menyulitkan Tanjungpinang untuk menunaikan impiannya menjadi Kota Pendidikan, Zamzami mengatakan, tidak ada pengaruhnya. Karena selama ini, sekolah unggulan ada juga di daerah lain di Indonesia.

Untuk di Tanjungpinang sendiri, namanya saja yang unggulan. Siswanya unggul, namun belum tentu guru-gurunya unggul. Sekolah unggulan itu lebih pada pengumpulan siswa-siswa pintar yang disatukan dalam satu rombongan belajar. Guru pun mudah mengajarinya.(MARTUNAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here