Pendidikan Politik dan Demokrasi yang Sehat

0
358
Irwansyah Lubis

Oleh: Irwansyah Lubis
Wakil Ketua, Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan (HIMP) Stisipol Raja Haji Tanjungpinang, Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)

Kata “politik” bukan istilah dan bahasa yang baru di telinga publik. Kata ini sering terdegar lewat televisi dan sering dijumpai tulisan-tuisan yang berbau politik di dalam media sosial. Akan tetapi, memahami substansi politik, tidak semua orang dapat melakukanya. Sehingga istilah ini sering dijastifikasi sebagain orang dengan pengertian yang negatif. Tidak heran jika poltik itu sering di indentikkan dengan korupsi, penyelewengan kekuasaan dan bahkan diumpamakan layaknya tikus yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan bernegara. Padahal, jika dipahami secara substansi dan relevansinya dengan sebuah negara, maka politik tidak akan pernah terlepas dari kehidupan bernegara. Tanpa poltik atau strategi politik, maka sebuah negara tidak akan bisa menjalankan roda pemerintahan dengan maksimal, dan tidak akan pernah sampai pada pemerintahan yang kreatif untuk mewujudkan kesejahteraan kehidupan bernegara dan wujud dari esensi sebuah negara.

Melihat paradigma yang salah yang berada di tengah-tengah publik, maka tentunya jastifikasi tersebut haruslah diluruskan kapada substansinya. Supaya politik itu tidak diartikan sebagai alat tunggangan politik kotor dan alat untuk menghalalan segala cara untuk hasrat sebuah partai atau kelompok tertentu. Maka hal yang harus dilakukan adalah mengedepankan pendidikan politik yang sehat dan dilakukan oleh pemerintah dan dicontohkan oleh elit-elit politik. Sehingga masyarakat dapat memahami politik itu sebagai upaya untuk mewujudkan segala cita-cita kehudupan bernegara. Jika merujuk kepada peraturan undang-undang nomor 2 tahun 2008 tentang partai poltik “bahwa partai politik tersebut merupakan sarana partisipasi politik masyarakat dalam mengembangkan kehidupan demokrasi untuk menjunjung tinggi kebebasan yang bertanggung jawab”. Dan di dalam undang-undang tersebut menjadi rujukan untuk menguatkan argumentasi kita bahwa negara indonesia merupakan negara demokrasi “bahwa kaidah demokrasi yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat, aspirasi, keterbukaan, keadilan, tanggung jawab dan perlakuan yang tidak diskriminatif dalam negara kesatuan republik indonesia perlu diberi landasan hukum”.

Pendidikan politik memang harus dilakukan secara tepat upaya memindahkan pengertian yang salah kepada substansi yang sesungguhnya. karena ketika eliti-elit politi memperkosa tunggangan politik yang dinaikinya kepada perbuatan-perbuatan penyelewengan kekuasaan dan pelanggaran hukum akibat uang recehan yang berujung pada korupsi maka kepercayaan publik semakin terkikis untuk meyakini bahwa politik itu sebagai wadah atau tunggangan suci dalam mewujudkan kehidupan yang bermartabat dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Pendidikan politik sebenarnya tidak hanya ditujukan kepada masyarakat biasa saja, namun pendidikan politik justru harus menjadi keharusan kepada elit-elit politik untuk melakukan segala aktifitas politiknya kepada perpaduan yang benar dan selalu berada di garis hukum yang di buat oleh negara ini. Karena ketika elit-elit politik melakukan kesalahan dari substansi politik maka ada kemungkinan besar bahwa elit-elit politik pun belum memahami subtansi politik secara sempurna.

Jika kita ingin memahami defenisi politik dari segi akademisinya, maka Mexs Waber sebagai salah satu tokoh politik dari jerman yang ahli dalam bidang ekonomi dan sosial modern mengartikan bahwa politik itu adalah sarana perjuangan untuk sama-sama melaksanakan politik atau perjuangan untuk mempengaruhi pendistribusian kekuasaan, baik di antara negara-negara maupun di antara hukum dalam sebuah negara. Maka dari itu, memang politik tidak bisa dipisahkan dari sebuah negara begitupun dengan negara kita. Sejatinya, aktivitas-aktivitas di atas panggung politik tersebut adalah untuk mewujudkan segala hasrat yang sudah kita cita-citakan dalam kehidupan bernegera. Akan tetapi, dalam realisasi politik tersebut haruslah didasarkan kepada politik akal sehat yang mengedepankan kepentingan rakyat ketimbang kepentingan individu dan kelompok untuk memenuhi hasrat keinginan.

Dalam menjalankan aktvitas politik, harus juga mentaati peraturan yang dibuat oleh negara, Sehingga, ketika politik akal sehat dilakukan di dalam sebuah negara, maka akan menghasilkan resultante (kesepakatan) politik dan resltante hukum yang sempurna. Tujuanya, untuk terciptalah politik suci yang berazaskan kepada nilai-nilai dan budaya kita sebagai negara yang bermartabat. Lalu, akan lahirlah politikus-politikus yang cerdas dan santun. Begitupun ketika membuahkan hasil dari pengertian politik, tidak lagi dipandang sebagai kalimat yang jorok.

Ketika politik akal sehat sudah menjadi ciri khas dan identitas politik yang kita jalankan dengan baik, maka relevansi politik dengan demokrasi sehat akan terwujud. Demokrasi kita mengedepankan keinginan masyarakat sehingga kedaulatan itu diberikan kepada rakyat. Artinya, segala aktivitas politik dan hasrat politik yang sehat menjadi identitas yang harus kita terapkan demi terwujudkan kehidupan yang sejahtera dan akan menghantarkan negara ini kepada kemerdekaan yang hakiki. Merdeka dari kebodohan, dan merdeka dari segala bentuk penjajahan, baik penjajahan secara bersenjata maupun penjajahan non-senjata.

Selain itu, setelah citra politik kita tergantikan dengan citra yang baik dan menghilangkan segala bentuk kecurangan dalam memainkan politk di tanah air, maka antusias masyarakat dalam mengikuti aktivitas politik akan terangsang dan partisipasi dari masyarakat dalam aktivitas pesta demokrasi dalam memilih pemimpin negara akan lebih baik. Saat ini, memang masyarat sedang membutuhan bimbingan pemahaman substansi politik. Negara kita membutuhkan elit-elit politik yang cerdas dan tidak berketergantungan kepada pemilik modal, karena ketika elit-elit politik yang ada di negara ini berada dalam interpensi pemilik modal maka tidak ubahnya dia hanya sebagai boneka yang dimainkan orang dan alat untuk sebuah tujuan dan keuntungan dirinya dan kelompoknya. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here