Pendidikan Seksualitas yang Komprehensif

0
403
Miswanto

Oleh: Miswanto
Sosiologi Stisipol Raja Haji

Berbagai fenomena yang terjadi di Indonesia, agaknya masih timbul pro kontra di masyarakat, lantaran adanya anggapan bahwa membicarakan seks adalah hal yang tabu dan pendidikan seks akan mendorong remaja untuk berhubungan seks. Sebagian besar masyarakat masih beranggapan pendidikan seks sebagai suatu hal yang vulgar.Selama ini, jika kita berbicara mengenai seks, maka yang terbersit dalam benak sebagian besar orang adalah hubungan seks.Padahal, seks itu artinya jenis kelamin yang membedakan laki-laki dan perempuan secara biologis. Seksualitas menyangkut be berapa hal antara lain dimensi biologis, yaitu berkaitan dengan organ reproduksi, cara merawat kebersihan dan kesehatan; dimensi psikologis, seksualitas berkaitan dengan identitas peran jenis, perasaan terhadap seksualitas dan bagaimana menjalankan fungsinya sebagai makhluk seksual, dimensi sosial, berkaitan dengan bagaimana seksualitas muncul dalam relasi antar manusia serta bagaimana lingkungan berpengaruh dalam pembentukan pandangan mengenai seksualitas dan pilihan perilaku seks, dan dimensi kultural, menunjukkan bahwa perilaku seks itu merupakan bagian dari budaya yang ada di masyarakat.

Berdasarkan kesepakatan internasional di Kairo 1994 (The Cairo Consensus) tentang kesehatan reproduksi yang berhasil ditandatangani oleh 184 negara termasuk Indonesia, diputuskan tentang perlunya pendidikan seks bagi para remaja. Dalam salah satu butir consensus tersebut ditekankan tentang upaya untuk mengusahakan dan merumuskan perawatan kesehatan seksual dan reproduksi serta menyediakan informasi yang komprehensif termasuk bagi para remaja.

Ada dua faktor mengapa pendidikan seks sangat penting bagi remaja.Faktorpertama adalah ketika anak-anak tumbuh menjadi remaja, mereka belum paham dengan pendidikan seks—sebab orang tua masih menganggap bahwa membicarakan mengenai seks adalah hal yang tabu.Sehingga dari ketidakpahaman tersebut para remaja merasa tidak bertanggungjawab dengan seks atau kesehatan anatomi reproduksinya.

Faktor kedua, dari ketidak pahaman remaja tentang seks dan kesehatan anatomi reproduksi, mereka kemudian mencaricari informasi yang dapat menjawab pertanyaan mereka.Di lingkungan sosial masyarakat konten mengenai seksualitas dan reproduksi ditawarkan dalam beragam media. Sejumlah sarana seperti VCD, majalah, internet, bahkan tayangan televise pun saat ini memuat konten pornografi yang mengarah kepada hal yang tidak layak untuk di konsumsi oleh remaja. Dalam mengakses beragam media tersebut, banyak remaja yang belum mampu memilih apa yang layak dikonsumsi pada usianya dan apa yang tidak. Sehingga apa yang diperagakan dalam media tersebut dianggap sebagai hal biasa.

Pendidikan seksualitas yang efektif harus disesuaikan dengan umur remaja, budaya dalam konteks kehidupan remaja, serta memberikan informasi yang akurat.Hal tersebut mencakup kesempatan bagi remaja untuk mengeksplorasi sikap dan nilai, serta kemampuan pengambilan keputusan ataupun keterampilan hidup lainnya yang dibutuhkan remaja untuk dapat membuat keputusan terkait dengan kehidupan seksualnya.

Persoalan di atas masih membayang-bayangi kita (pemerintah dan LSM) karena target Millenium Developmen Goals (MDGs) 5A dan 6A untuk penurunan Angka Kematian Ibu dan penurunan prevalensi penyebaran HIV dan AIDS bisa dikatakan sangat sulit dicapai. Pada intinya, kebijakan pemerintah dalam menyelesaikan kedua isu ini tidak menghubungkan dua hal penting: remaja dan SRHR (Sexuality andReproductive Health and Rights atau Hak Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas). Remaja masih dianggap anak kecil yang tidak perlu dipenuhi hak-haknya dan SRHR masih dianggap tabu. Selama SRHR tidak dianggap sebagai hak setiap orang (padahal pemerintah sudah menandatangani Pro gramof Action ICPD tahun 1994), dan orang muda tidak dilibatkan dalam proses pe rumusan kebijakan terkait masalah di atas.

Di samping itu pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi remaja relative masih rendah sebagaimana ditunjukkan oleh hasil Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia tahun 2007. Sebanyak 13% remaja perempuan tidak tahu tentang perubahan fisiknya dan hampir separuhnya (47,9%) tidak mengetahui kapan masa subur seorang perempuan. Adapun yang memprihatinkan kita semua adalah, pengetahuan remaja tentang cara paling penting untuk menghindari infeksi HIV masih terbatas. Hanya 14% remaja perempuan dan 95% remaja laki-laki menyebutkan pantang berhubungan seks, 18% remaja perempuan dan 25% remaja laki-laki menyebutkan menggunakan kondom serta 11% remaja perempuan dan 8% remaja laki-laki menyebutkan membatasi jumlah pasangan (jangan berganti-ganti pasangan seksual) sebagai cara menghindar dari HIV/AIDS. Sementara itu, data dari Kemenkes tahun 2010 menunjukkan bahwa hampir separuh (47,8%) kasus AIDS berdasarkan usia juga diduduki oleh kelompok usia muda (20-29 tahun). Hal ini menunjukkan bahwa perilaku seks berisiko terjadi pada usia remaja. Oleh karena itu, rendahnya pengetahuan tersebut menjadikan pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual penting untuk diberikan.

Berdasarkan suatu penelitian terdahulu mengenai pendidikan seksualitas di sekolah, Utomo, Donald, & Hull (2012) menunjukkan bahwa pendidikan seksualitas meskipun tidak diberikan dalam mata pelajaran khusus, namun telah diberikan secara terintegrasi dalam mata pelajaran pendidikan jasmani, kesehatan, dan olahraga (Penjaskesor), Biologi, Ilmu Pengetahuan Sosial, dan Pendidikan Agama. Meskipun demikian, Holzner dan Oetomo (2004) menyoroti kelemahan pendidikan seksualitas yang selama ini menggunakan wacana seks bagi kaum muda tidak sehat dan berbahaya. Dalam survei yang dilakukan oleh Holzner dan Oetomo (2004) di Karawang, Sukabumi dan Tasikmalaya juga menunjukkan bahwa 60% responden perempuan usia 15–24 tahun telah menerima pendidikan kesehatan reproduksi, namun mayoritas dari mereka (70%) menyatakan materi yang diberikan adalah bahaya dari seks. Pendidikan seksualitas semacam ini tidak memberdayakan kaum muda untuk memahami seksualitasnya dan menghindari perilaku seks yang berisiko bagi kesehatan reproduksi dan seksualnya.

Wacana pendidikan seksualitas yang ditujukan untuk mencegah ‘seks bebas’ ini sejalan dengan temuan Holzner dan Oetomo (2004), pendidikan seksualitas yang selama ini menggunakan wacana larangan (discourse of prohibition). Konstruksi seksualitas remaja dalam kebijakan terkait yaitu Undang-Undang Kesehatan No. 36 Tahun 2009, meskipun tidak menyebutkan pencegahan terhadap seks pranikah, namun menyebutkan bahwa pemeliharaan kesehatan remaja ditujukan untuk mempersiapkan menjadi orang dewasa yang sehat dan produktif, baik sosial maupun ekonomi (pasal 136 ayat 1), dan dilakukan agar remaja terbebas dari berbagai gangguan kesehatan yang dapat menghambat kemampuan menjalani kehidupan reproduksi secara sehat (ayat 2). Hal ini diinterpretasikan oleh para pemangku kebijakan sebagai upaya pencegahan remaja melakukan seks ‘bebas’.

Sejalan dengan mandat kebijakan tersebut, program BKKBN memiliki program GenRe (Generasi Berencana) di sekolah yaitu GenRe Goes to School yang berupa sosialisasi untuk pen cegahan remaja melakukan perilaku seks berisiko, mengkonsumsi napza (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif), aborsi, dan HIV/AIDS. Program ini mengkonstruksikan seks bagi kaum muda merupakan hal yang tidak berbahaya. Penelitian ini memandang bahwa discourse of prohibition dan mengkonstruksikan seksualitas remaja sebagai hal yang negative tidaklah cukup untuk memberdayakan remaja. Akan tetapi, perlu disadari bahwa pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual merupakan topik sensitif yang membutuhkan advokasi pada otoritas terkait dan pendidikan publik mengenai pentingnya pendidikan seks pada remaja. Untuk itu, penting untuk memahami norma budaya seputar seksualitas agar pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual dapat diterima.

Oleh karena itu, pendidikan seksualitas dan kesehatan reproduksi perlu memandang seksualitas secara komprehensif, yaitu mengakui berbagai dimensi mengenai seksualitas yang dihadapi remaja yang dapat mempengaruhi keputusan remaja menjalani seks berisiko atau tidak. Adanya dorongan seksual, kenikmatan seksual serta di sisi lain relasi gender, ajaran agama dan norma budaya, resiko kesehatan seksual dan reproduksi, dan risiko sosial perlu didiskusikan pada remaja berdasarkan pengalaman yang mereka jalani.

Pendidikan kesehatan reproduksi harus dianggap sebagai bagian dari proses pendidikan yang mempunyai tujuan untuk memperkuat dasar-dasar pengetahuan dan pengembangan kepribadian. Melalui pendidikan kesehatan reproduksi merupakan upaya bagi remaja untuk meningkatkan pemahaman, pengetahuan, sikap, dan perilaku positif tentang kesehatan reproduksi dan seksualnya, serta meningkatkan derajat reproduksinya.

Kapankah pendidikan kesehatan reproduksi diberikan? Sangat dimungkinkan pendidikan kesehatan reproduksi diberikan sejak usia dini, secara tidak langsung. Menurut Nurohmah (2013) tahapan usia dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi sejak usia dini, yaitu: Balita (1-5 tahun). Pada usia ini penanaman pendidikan kesehatan reprodukjsi cukup mudah dilakukan yaitu mulai mengenalkan kepada anak tentang organ reproduksi yang dimilikinya secara singkat. Dapat dilakukan ketika memandikan si anak dengan memberitahu organ yang dimilikinya, misalnya rambut, kepala, tangan, kaki, perut, penis dan vagina.Terangkan juga perbedaan alat kelamin dari lawan jenisnya.Tandaskan juga bahwa alat kelamin tersebut tidak boleh dipertontonkan dengan sembarangan. Pada usia ini juga perlu ditandaskan tentang sikap asertif yaitu berani berkata tidak kepada orang lain yang akan berlaku tidak senonoh. Dengan demikian dapat melindungi diri anak terhadap maraknya kasus kekerasan seksual dan pelecehan seksual.Usia 3–10 tahun, Pada usia ini, anak biasanya mulai aktif bertanya tentang seks. Misalnya anak akan bertanya dari mana ia berasal. Atau pertanyaan umum mengenai asal-usul bayi.Jawaban-jawaban yang sederhana dan terus terang biasanya efektif.Usia menjelang remaja, Pada saat ini, anak semakin berkembang, mulai saatnya diterangkan mengenai menstruasi (haid), mimpi basah, dan juga perubahanper ubahan fisik yang terjadi pada seseorang remaja. Orang tua bisa menerangkan bahwa si gadis kecil akan mengalami perubahan bentuk payudara, atau terangkan akan ada nya tumbuh bulu-bulu di sekitar alat kelaminnya. Pada saat usia remaja, seorang remaja akan mengalami banyak perubahan secara seksual. Orang tua perlu lebih intensif menanamkan nilai moral yang baik kepadanya.Berikan penjelasan mengenai kerugian seks bebas seperti penyakit yang ditularkan dan akibat-akibat secara emosi.

Adanya remaja yang telah aktif secara seksual dan faktor gender yang bermain dalam perilaku seks pranikah, belum banyak didiskusikan dalam pendidikan seksualitas di sekolah selama ini. Sementara itu, berbagai hasil penelitian juga menunjukkan bahwa remaja di Indonesia semakin cenderung untuk aktif secara seksual dibandingkan generasi-generasi sebelumnya (lih.Bennett, 2005 atau Smith- Hefner, 2006). Hal lain yang perlu dilihat dari data peng alaman remaja dalam penelitian yang di lakukan oleh Higgins dan Hirsch (2007) adalah melihat keterkaitan antara seksualitas dan kesehatan reproduksi yaitu aspek kenikmatan seksual (termasuk mencari kenikmatan seksual) dan keterkaitannya dengan risiko seksual. Seperti menurut Higgins dan Hirsch (2007) aspek ke nikmatan seksual (sexual pleasure dan sexualpleasure-seeking) dan dampaknya terhadap risiko seksual merupakan hal yang masih sulit untuk dipahami dalam program kesehatan reproduksi.Hal ini menunjukkan bahwa aspek sexual pleasure-seeking dilakukan dan memiliki dampak yang berbeda berdasarkan gender, namun masih belum di sadari dalam pemberian pendidikan seksualitas dan kesehatan reproduksi.

Program pendidikan seksualitas dan kesehatan reproduksi di Indonesia belum komprehensif karena cenderung fokus pada aspek biologis dan pencegahan penyakit menular (misalnya HIV dan AIDS). Pendidikan semacam ini tidak hanya terjadi di Indonesia, berdasarkan penelitian Allen (2011), pendidikan seksualitas banyak dikritik dibeberapa negara karena gagal menyediakan pemahaman yang komprehensif, tidak berdasarkan kebutuhan remaja, dan melupakan aspek ketimpangan gender dan ketidakadilan sosial yang lebih luas. Pendidikan yang hanya memfokuskan pada bahaya dan risiko hubungan seksual sebagaimana yang dikemukakan oleh Bay-Cheng (2003) tidaklah realistis dengan kondisi remaja dan akan gagal untuk memberikan informasi sebenarnya mengenai seksualitas dan tidak dapat memberdayakan remaja untuk bertanggungjawab terhadap kesehatan reproduksi dan seksualnya. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here