Penerapan Pendidikan Multikultural Sebagai Solusi

0
246

Oleh : William Hendri, SH.,MH
Wakil Sekretaris ICMI Kota Tanjungpinang

Pendidikan multikultural pada dasarnya dapat didefinisikan sebagai pendidikan yang beorientasi kepada penyadaran keragaman budaya pada daerah atau wilayah setempat. Menurut Farida Hanum, pendidikan multikultural merupakan “pendidikan untuk atau tentang keragaman kebudayaan dalam merespon perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan”.

Indonesia adalah salah satu negara multikultural terbesar di dunia, ditandai dengan melihat kondisi sosio-kultur maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Ada berbagai macam budaya, suku, etnis, ras, golongan, aliran kepercayaan, agama dan lainnya. Dengan kondisi masyarakat Indonesia seperti ini, konflik horizontal mudah terjadi, apalagi adanya provokator yang berniat mengadu domba antar satu suku dengan suku lainnya. Perang antar suku, agama atau konflik horizontal ini pernah terjadi di beberapa daerah di Indonesia, seperti di Kalimantan yakni perselisihan antar suku, kemudian di Ambon yakni perselisihan antar agama. Yang sangat disedihkan sekali, ketika terjadi peledakan bom bunuh diri di beberapa gereja di Jakarta yang memakan korban tidak bersalah membuat kita semakin khawatir akan kelompok-kelompok radikal yang melakukan kekerasan dengan mengatasnamakan agama, apalagi pelaku bom bunuh diri juga melibatkan anak-anak. Tentunya hal ini sudah melanggar norma utama bangsa kita disamping norma agama yaitu Pancasila sebagai sumber segala norma yang berlaku di Indonesia.

Setelah adanya kenyataan pahit yang pernah terjadi tersebut, sangat perlu membangun upaya-upaya preventif agar masalah pertentangan agama atau suku tidak akan terulang lagi di masa mendatang. Memberikan pendidikan tentang pluralisme dan toleransi beragama melalui sekolah adalah beberapa upaya yang preventif yang dapat diterapkan. Berkaitan dengan hal ini maka penting bagi institusi pendidikan dalam masyarakat yang multikultural untuk mengajarkan perdamaian dan resolusi konflik seperti yang ada dalam nilai-nilai pendidikan multikultural.

Paulo Freire pernah menyebutkan bahwa pendidikan bukan merupakan “menara gading” yang berusaha menjauhi realitas sosial dan budaya. Pendidikan menurutnya harus mampu menciptakan tatanan masyarakat yang terdidik dan berpendidikan, bukan sebuah masyarakat yang hanya mengagungkan prestise sosial sebagai akibat kekayaan dan kemakmuran yang dialami. Selanjutnya Paulo juga mengungkapkan tentang pentingnya pendidikan sebagai penyadaran. Menurutnya, pentingnya penyadaran ini karena manusia tidak sekadar “hidup” (to live), tetapi “mengada” atau bereksistensi. Dengan bereksistensi, manusia tidak hanya ada “dalam dunia”, tetapi juga “bersama dengan dunia”.

Dalam pendidikan multikultural, tenaga pendidik tidak hanya dituntut untuk mampu secara professional mengajarkan mata pelajaran yang diajarkannya. Akan tetapi juga mampu menanamkan nila-nilai keragaman yang inklusif kepada para peserta didik. Pada akhirnya, dengan langkah-langkah demikian, output yang diharapkan dari sebuah proses belajar mengajar nantinya adalah para lulusan sekolah atau universitas yang tidak hanya pandai sesuai dengan disiplin ilmu yang ditekuninya, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai keberagaman dalam memahami dan menghargai keberadaan para pemeluk agama dan kepercayaan yang lain.

Senada dengan itu, Sri Sultan Hamengkubuwono X juga mengungkapkan bahwa dalam pendidikan multikultural tenaga pendidik harus memberi contoh sikap dan keteladanan seperti yang ada pada nilai-nilai multikultural, dengan demikian para peserta didik akan mengikutinya. Selanjutnya beliau menambahkan kalau mau menjadi tenaga pendidik yang baik, harus bisa menjadi contoh yang menghargai perbedaan, bersikap toleran, cinta damai dan saling menghargai kepada peserta didiknya.

Pendidikan multikultural menawarkan salah satu alternatif melalui penerapan strategi dan konsep pendidikan yang berbasis pada pemanfaatan keragaman yang ada di masyarakat, khususnya yang ada pada peserta didik seperti keragaman etnis, budaya, bahasa, agama, status sosial, gender, kemampuan, umur dan ras. Pendekatan melalui pendidikan multikultural yang terpenting, strategi pendidikan tidak hanya bertujuan agar supaya peserta didik mudah memahami pelajaran yang dipelajarinya, akan tetapi juga untuk meningkatkan kesadaran mereka agar selalu berperilaku humanis, pluralis, dan demokrastis.

Ainul Yakin mengemukan bahwa pendidikan multikultural adalah strategi pendidikan yang diaplikasikan pada semua jenis mata pelajaran dengan cara menggunakan perbedaan-perbedaan kultural yang ada pada para peserta didik seperti perbedaan etnis, agama, bahasa, gender, kelas sosial, ras, kemampuan dan umur agar proses belajar menjadi efektif dan mudah. Pendidikan multikultural sekaligus juga akan melatih dan membangun karakter peserta didik agar mampu bersikap demokratis, humanis, dan pluralis dalam lingkungan mereka. Artinya peserta didik selain diharapkan dapat dengan mudah memahami, menguasai dan mempunyai kompetensi yang baik terhadap mata pelajaran yang diajarkan tenaga pendidik, peserta didik juga diharapkan mampu untuk selalu bersikap dan menerapkan nilai-nilai demokratis, humanisme dan pluralisme di sekolah atau di luar sekolah.

Kemudian Gibson menyebutkan bahwa pendidikan multikultural adalah sebuah proses dimana individu mengembangkan cara-cara mempersepsikan, mengevaluasi berperilaku dalam sistem kebudayaan yang berbeda dari sistem kebudayaannya sendiri. Peserta didik sangat penting memiliki kemampuan untuk dapat hidup dalam keragaman.

Dalam pendidikan multikultural diakui, tiap budaya mempunyai nilai kebenaran tersendiri yang membutuhkan pemahaman akan relativitas nilai budaya. Nilai-nilai inilah yang ada pada setiap peserta didik. Menjadikan peserta didik menjadi objek saja tentu tidak bijak. Menurut Paulo Freire, tujuan akhir dalam proses pendidikan adalah memanusiakan manusia (humanisasi) atau menjadikan manusia sesungguhnya. Dalam pendidikan Islam disebut sebagai manusia paripurna, insan kamil.

Menurut James Banks, bahwa pendidikan multikultural memiliki beberapa dimensi yang saling berkaitan satu dengan lain, yaitu : Pertama, Content Intergration, yaitu mengintegrasikan beberapa budaya baik teori maupun realisasi dalam mata pelajaran/disiplin ilmu; Kedua, the knowledge construction process, yaitu membawa peserta didik untuk memahami implikasi budaya ke dalam sebuah mata pelajaran (disiplin); Ketiga, an aquity paedagogy, yaitu menyesuaikan metode pengajaran dengan cara belajar peserta didik dalam rangka memfasilitasi prestasi akademik peserta didik yang beragam baik dari segi ras, budaya, agama ataupun sosial; dan Keempat, prejudice reduction, yaitu mengidentifikasi karakterisrik ras peserta didik dan menentukan metode pengajaran mereka.

Allison Cumming, McCann dalam “Multicultural Education Connecting Theory to Practice”, menyebut beberapa metode yang dapat digunakan dalam pendidikan multikultural :

1) Metode Kontribusi. Metode ini diterapkan dengan mengajak pembelajar berpartisipasi dalam memahami dan mengapresiasi kultur lain yang berbeda dengan dirinya. Dalam implementasinya yang lebih praktis, metode ini antara lain diterapkan dengan menyertakan peserta didik memilih buku bacaan bersama dan melakukan aktivitas bersama. Selain itu peserta didik juga diajak mengapresiasi event-event keagamaan maupun kebudayaan yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Pengampu pendidikan (kepala sekolah, guru) bisa melibatkan peserta didik di dalam pelajaran atau pengalaman yang berkaitan dengan event-event tersebut. Dalam hal tertentu peserta didik juga dapat dilibatkan untuk mendalami sebagian kecil dari kepelbagaian dari setiap tradisi kebudayaan maupun keagamaan;

2) Metode Pengayaan. Metode ini memperkaya kurikulum dengan literatur dari atau tentang masyarakat yang berbeda kultur, etnis, atau agamanya. Penerapan metode ini, misalnya dengan mengajak peserta didik menilai atau menguji dan kemudian mengapresiasikan cara pandang masyarakat tetapi peserta didik tidak mengubah pemahamannya tentang hal itu, seperti tata cara atau ritual ibadah, pernak-pernik dalam ritual ibadah, pernikahan, dan lain-lain;

3) Metode Transformatif. Metode ini memungkinkan peserta didik melihat konsep-konsep dari sejumlah perspektif budaya, etnik dan agama secara kritis. Metode ini memerlukan pemasukan perspektif-perspektif, kerangka-kerangka referensi dan gagasan-gagasan yang akan memperluas pemahaman pembelajar tentang sebuah ide. Jika ada metode pengayaan lebih banyak menggali titik temu dari etnisitas, budaya, dan agama, maka dalam metode transfomatif justru sebaliknya: menelanjangi nilai-nilai “negatif” dari budaya, etnik, dan juga agama; dan

4) Metode Pembuatan Keputusan dan Aksi Sosial. Metode ini mengintegrasikan metode transformasi dengan aktivitas nyata di masyarakat, yang pada gilirannya bisa berdampak terjadinya perubahan sosial. Peserta didik tidak hanya dituntut untuk memahami dan membahas isu-isu sosial, tapi juga melakukan sesuatu yang penting berkaitan dengan hal itu. Artinya, peserta didik tidak hanya berhenti pada penguasaan teori, tapi juga terjun langsung melakukan aksi-aksi nyata di masyarakat untuk menerapkan teori-teori yang mereka peroleh dari ruang pendidikan.

Kemudian ada beberapa pendekatan yang kerap direkomendasikan dalam pendidikan multikultural seperti yang telah diulas oleh Mundzier Suparta dalam Islamic Multicultural Education, yakni :
1) Pendekatan Historis. Pendekatan ini mengandaikan bahwa materi yang diajarkan kepada peserta didik dengan napak tilas ke belekang. Maksudnya agar pendidik dan peserta didik mempunyai kerangka berprikir yang komprehensif hingga ke masa silam untuk kemudian merefleksikan masa sekarang dan untuk masa mendatang. Dengan demikian materi yang diajarkan bisa ditinjau secara kritis dan dinamis;
2) Pendekatan Sosiologis. Pendekatan ini mengandaikan terjadinya proses kontekstualisasi atas apa yang pernah terjadi di masa lampau. Dengan pendekatan ini materi yang diajarkan bisa menjadi aktual, bukan karena dibuat-buat tetapi karena senantiasa sesuai dengan perkembangan zaman yang terjadi, dan tidak bersifat indoktrinasi karena kerangka berpikir yang dibangun adalah kerangka berpikir kekinian;
3) Pendekatan Kultural. Pendekatan ini menitikberatkan kepada autentisitas dan tradisi yang berkembang. Dengan pendekatan ini peserta didik bisa melihat mana tradisi yang autentik dan mana yang tidak. Secara otomatis peserta didik juga bisa mengetahui mana tradisi Arab dan mana tradisi yang datang dari ajaran Islam. Pendekatan kultural memungkinkan kita melihat lebih kritis antara tradisi masyarakat tertentu dengan ajaran keagamaan yang memamg berasal dari ajaran agama;
4) Pendekatan Psikologis. Pendekatan ini berusaha memperhatikan situasi psikologis personal secara tersendiri dan mandiri. Artinya masing-masing peserta didik harus dilihat sebagi manusia mandiri dan unik dengan karakter dan kemampuan yang dimilikinya. Pendekatan ini menuntut seseorang pendidik harus cerdas dan pandai melihat kecenderungan peserta didik sehingga ia bisa mengetahui metode-motode mana saja yang cocok untuk pembelajar;
5) Pendekatan Estetik. Pendekatan estetik pada dasarnya mengajarkan peserta didik untuk berlaku sopan dan santun, ramah, mencintai keindahan dan mengutamakan kedamaian. Sebab segala materi jika hanya didekati secara doktrinal dan menekankan adanya otoritas-otoritas kebenaran maka peserta didik akan cenderung bersikap kasar. Sehingga mereka memerlukan pendekatan estetik untuk mengapresiasi segala gejala yang terjadi di masyarakat dengan melihatnya sebagai bagian dari dinamika kehidupan yang bernilai seni dan estetis; dan
6) Pendekatan Berperspektif Gender. Pendekatan ini mencoba memberikan penyadaran kepada pembelajar untuk tidak membedakan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan. Sebab sebenarnya jenis kelamin bukanlah hal yang menghalangi seseorang untuk mencapai kesuksesan, melainkan kerja nyata yang dilakukannya. Dengan pendekatan ini, segala bentuk konstruksi sosial yang ada di lembaga pendidikan yang menyatakan bahwa perempuan berada di bawah laki-laki bisa dihilangkan.

Keempat metode dan keenam pendekatan tersebut sangat memungkinkan bagi terciptanya kesadaran multikultural di dalam pendidikan dan kebudayaan. Dan tentu saja, tidak menutup kemungkinan berbagai metode dan pendekatan lainnya, yang dapat diterapkan. Kesadaran multikultural membantu peserta didik mengerti, menerima, dan menghargai orang dari suku, budaya dan agama berbeda.

Modelnya bukan dengan menyembunyikan budaya orang lain, atau menyeragamkannya sebagai budaya nasional, sehingga budaya lokal menjadi luntur dan hilang. Semua manusia diapresiasi dengan keunikan dan latar belakang etnis, budaya, dan agama masing-masing.

Sampai disini, maka penerapan pendidikan multikultural di Indonesia adalah merupakan sebuah solusi terbaik bagi bangsa Indonesia yang memiliki karakter masyarakat yang majemuk dan heterogen. Keragaman yang kita miliki ini adalah sebuah keniscayaan dan mesti kita jaga. Kontrak sosial yang telah ditorehkan bersama dalam lembaran sejarah oleh para pendiri dan pahlawan-pahlawan bangsa dengan tinta darah, janganlah menjadi sia-sia. Persatuan dan kesatuan bangsa mesti diperkuat demi selalu tetap terwujudnya semboyan “Bhineka Tunggal Ika”.**

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here