Pengangguran Terdidik di Kepri Meningkat

0
881
WISUDA: Proses wisuda di salah satu perguruan tinggi di Tanjungpinang. Para akademisi menilai, banyak pengangguran terdidik di Kepri yang juga lulusan perguruan tinggi. F-suhardi/Tanjungpinang pos

Tanjungpinang – PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) Kepri, saat ini belum bisa membendung serta mencari cara bagaimana meminimalisir masalah pengangguran yang semakin meningkat saat ini. Sementara perguruan tinggi terus mencetak lulusan terdidik setiap tahun.

Pengamat Ekonomi Kepri Rafki Rasyid, menyampaikan, pengangguran di Provinsi Kepri lebih didominasi kondisi pasar kerja di Kota Batam.

Tahun 2016 tercatat 67 perusahaan yang tutup, jumlah ini meningkat di tahun 2015 yang tercatat ada sekitar 54 perusahaan. Hal ini menurutnya, karena dampak keterpurukan ekonomi serta minimnya lapangan kerja baru.

Walaupun BP Kawasan Batam melaporkan bahwa komitmen investasi nilainya meningkat, namun realisasi investasi relatif kurang menggembirakan.

Akibatnya lapangan pekerjaan khususnya di Batam relatif jalan ditempat dan kurang mampu menyerap pertambahan angkatan kerja yang mengalami pertumbuhan setiap tahunnya.

”Sehingga dampak dari pengangguran ini, menambah peningkatan pengangguran di tidak hanya lulusan SMP sampai SMA sederajat melainkan juga kelompok calon pekerja terdidik. Ini harus betul-betul diwaspadai pemerintah,” jelasnya

persoalan ini akan semakin berbahaya ketika sudah mengular sampai dengan angkatan kerja terdidik. Pemerintah harus bisa mencarikan solusi bagaimana caranya pekerja terdidik ini dapat diserap oleh pasar kerja.

Pemerintah harus bisa mendorong mereka untuk mendapatkan sertifikat keahlian. Jadi tidak hanya memiliki ijazah formal, para sarjana lulusan perguruan tinggi sebaiknya juga menambah keahlian sendiri di luar kampus sesuai dengan jurusan yang mereka kuasai,” tambah Rafki

Ketua Stisipol Raja Haji Tanjungpinang Endri Sanopaka, mengatakan, sebenarnya lembaga perguruan tinggi dan pemerintah harus merubah cara pandang, bahwa para pengangguran terdidik yang saat ini mulai didominasi oleh sarjana bukan dipersiapkan jadi pekerja.

Para sarjana itu, konsepnya dipersiapkan justru untuk membuka lapangan pekerjaan. Nah pemerintah seharusnya memfasilitasi para sarjana ini untuk dapat menjadi pengusaha muda.

”Kami yang di kampus mempersiapkan mereka untuk siap memiliki mental entrepreneur. Akan tetapi pemerintah harus memfasilitasi misalnya perizinan, kesempatan memperoleh kegiatan-kegiatan positif lainnya, jadi para sarjana tidak lagi fokus ingin jadi buruh atau ASN,” tegas pria yang juga sektretaris Dewan Pengupahan Pemkab Bintan ini.

Endri bahkan menilai, selama ini dampak minimnya lapangan kerja yang dibangun pemerintah, salah satu akibat masih banyak pembangun yang tidak tepat sasaran. Proyek yang hanya diberikan kepada para cukong besar saja.

Bayangkan kalau duit APBD dan APBN yang tersebar di daerah ini bisa laksanakan oleh para pengusaha-pengusaha muda, maka lapangan pekerjaan dengan sendirinya akan terbuka. (SUHARDI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here