Pengguna Jasa Angkot Makin Sedikit

0
416
MENUNGGU penumpang: Bus saat menunggu penumpang di Terminal Sungai Carang, Bintancenter. Minimnya penumpang, umumnya angkot di Tanjungpinang tidak masuk ke Terminal Sungaicarang. F-ZAKMI/TANJUNGPINANG POS

TANJUNGPINANG – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Tanjungpinang, Abu Mansyur menyebutkan, kini masyarakat minim menggunakan jasa transportasi angkutan kota (angkot) di Tanjungpinang.

Inilah salah satu alasan membuat supir angkot enggan masuk ke dalam Terminal Sungai Carang, Bintancenter (Bincen) tersebut. Tentu akan rugi sebab bila datang namun tidak mendapatkan penumpang.

”Kami akui tidak ada pendapatan restribusi dari Terminal Sungai Carang ini,” kata Abu saat menghubungi Tanjungpinang Pos, Rabu (10/5) malam.

Alasan angkot tidak dilirik, kata dia, karena hampir semua masyarakat Kota Tanjungpinang kini memiliki kendaraan pribadinya. Milinil roda dua serta ada juga memiliki roda empat.

Sehingga banyak masyarakat menggunakan kendaraan pribadinya, dari pada jasa transportasi angkot. Apalagi kini proses menndapatkan kendaraan sudah lebih mudah. Dengan cara membeli secara tunai maupun kredit.

Masyarakat juga menilai, jika menggunakan jasa transportasi angkot, terbilang lama sampai ke tujuan. Sebab, supir angkot harus menunggu penumpang penuh baru jalan.

”Kalau tidak penuh penumpang, jarang supir angkot jalan. Karena mereka punya hitungan untuk biaya operasionalnya,” ucap dia.

Belum lagi harus berhenti disetiap jalur yang diinginkan penumpang.
Dituturkannya, bisa saja Dishub Kota Tanjungpinang kembali berlakukan supir angkot masuk ke dalam terminal, untuk mendapatkan retribusi Terminal Sungai Carang. Hanya saja, kata dia, sekarang yang perlu dipikirkan bagaimana supir angkot dapat penumpang.

Dengan tidak diberlakukan retribusi untuk masuk ke dalam Terminal Sungai carang saja, supir angkot sering mengeluh susahnya dapat penumpang.

Jika diberlakukan tentu akan membuat kehidupan mereka lebih sulit.
Bila penerapan retribusi dapat menambah penumpang, tentu sudah diterapkan sejak lama.

Ini malan membebani maka dibebaskan saja. ”Pemerintah lebih memberikan pelayanan kepada masyarakat saja, bukan semata-mata memikirkan pendapatan.

”Kasihan dengan supir angkot yang pendapatan sedikit, lalu bayar kalau bayar retribusi tentu semakin beban,” ungkapnya.

Meski seperti itu, ia berjanji Dishub Kota Tanjungpinang tetap berupayah untuk mencari solusi bersama Organisasi Angkutan Darat (Organda) atau pihak terkait dibidang jasa transportasi darat, untuk menghidupkan jas angkot di Terminal Sungai Carang dan Tanjungpinang. Sehingga kedepan ada retribusi terminal, yang bisa memberikan PAD Kota Tanjungpinang.

”Kita tetap berupayah. Terima kasih kepada dua anggota dewan yang sudah memberikan saran serta masukan melalui surat kabar Tanjungpinang Pos yang sudah terbit hari Rabu,” ucap dia.

Kondisi di Tanjungpinang, katanya jangan samakan di daerah Sumatera bagian darat dan Jawa, yang masyarakat masih menggunakan jasa angkot, bus dan sejenis.

”Daerah kita di Tanjungpinang jauh berbeda dengan dua daerah itu sebab kota kita kecil dan belum macet jadi masyarakat masih memilih menggunakan kendaraanm pribadi kemana-mana,” sebut dia. Berbeda dengan Jakarta karena macet. banyak memilih naik angkotan. (dri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here