Penghasil Gas, tapi Sedikit Dapat DBH

0
326

NATUNA – Sejak menjadi perhatian pemerintah pusat melalui kucuran anggaran pembangunan yang besar, namun Pemerintah Natuna hanya dapat mengelola anggaran itu hanya 10 persen. Bupati Natuna Hamid Rizal mengatakan, tidak semua yang bisa diserap daerah terkait besaran anggaran yang telah dikucurkan pemerintah pusat.

”Dari anggaran APBD Natuna, untuk pendidikan dialokasikan sebesar 20 persen dan 20 persen lagi anggaran kesehatan dan ditambah 10 persen dana desa. Semuanya itu, sudah tidak bisa diganggu gugat dan tinggal menjalankannya saja,” ujar Hamid Rizal, Jumat (26/5).

Ia menjelaskan, jika belanja pegawai sudah terserap sekitar 40 persen, maka hanya tinggal 10 persen dana yang bisa dikelola oleh Pemda.

”Makanya untuk pembangunan seperti infrastruktur, kita harus berlomba-lomba mengusulkan ke Pemerintah Pusat,” katanya.
Sekarang ini, Kabupaten Natuna sangat diperhatikan pemerintah pusat.

Bukti perhatian itu, pemerintah pusat telah menggelontorkan sekitar Rp 11,5 Triliun selama 5 tahun khusus infrastruktur. Sedangkan anggaran yang dapat dikelola, yakni melalui anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) yang diperoleh dari pengajuan proposal kepada pihak kementerian.

”Alhamdulullah, perhatian pemerintah pusat cukup besar kepada kita. Tapi saya minta pembangunan yang pasti, jangan cuma sosialisasi saja. Kita ingin pembangunan yang, dan dapat dirasakan oleh masyarakat,” ungkapnya.

Apalagi dengan kewenangan Dana Bagi Hasil (DBH) Migas, keputusan pembagiannya merupakan kewenangan gubernur.

”Padahal, daerah penghasil migas di Kepri itu Natuna. Sedangkan provinsi, cuma numpang lewat transfer anggaran saja,” cetusnya.

Hamid pun mengeluhkan pembagian DBH tersebut, pasalnya Natuna hanya memproleh sedikit. Ia berharap, dengan adanya perhatian pemerintah pusat akan Natuna pembangunan bisa secepatnya terealisasi.

”Sekarang ini kita hanya bisa berharap, semua pembangunan bisa cepat terlaksana,” harapnya.(HERDIANSYAH)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here