Pengusaha Disandera di Pesawat

0
306
APARAT TNI-AU Lanudal saat simulasi pengamanan sandra di Bandara RHF Tanjungpinang, Selasa (3/12). f-istimewa

Simulasi Pengamanan di Bandara RHF

TANJUNGPINANG – Kru pesawat Express Air Jenis Dornier 328-100 menyandera penumpangnya yang merupakan salah satu pengusaha di Bandara Raja Haji Fisabilillah (RHF) Tanjungpinang, Selasa (3/12).

Para pelaku meminta tebusan US$ 1 juta atau sekitar Rp14 miliar. Saat itu, salah satu pelaku melepaskan tembakan sebagai bentuk ancaman agar permintaan mereka diketahui.

Aksi tembakan itu terdengar Ground Handling Maskapai Express Air. Di dalam pesawat terdengar suara letusan senjata api. Kemudian dilaporkan kepada pihak terkait di bandara.

Melalui koordinasi secara berjenjang, Executive General Manager (EGM) Bandara RHF Tanjungpinang M. Syahril menghubungi wakil-wakil Komite Keamanan Bandara RHF yaitu Danlanud RHF dan Danwing Udara I untuk segera membentuk tim pembebasan sandera.

Adapun tim pembebasan sandera yang terlibat terdiri dari 1 orang negosiator dari Lanud RHF, 10 personel penyergap Lanud RHF, 3 personel penyergap Wing Udara I Tanjungpinang, 3 personel Penyergab Lanudal Tanjungpinang, 2 personel sniper dari Yon Raider Khusus 136/TS, 2 personel tim medis KKP Bandara, serta 2 personel Polsek Bandara RHF.

Dalam aksi pembebasan tersebut, negosiator dari Lanud RHF berhasil membuat kesepakatan antara penyandera dengan pertukaran antara sandera dan uang tebusan sebanyak US$ 1 juta yang diserahkan di depan pintu pesawat.

Ternyata pelaku dipancing keluar dari pesawat. Begitu muncul di luar pintu pesawat, satu tembakan melesat cepat dari senjata sniper, disusul pengepungan oleh Tim Sergap.

Selanjutnya pelaku lain yang terdiri dari pilot dan pramugara maskapai disergap dan dibawa ke dalam ruang pemeriksaan Personel Satpom Lanud RHF untuk dimintai keterangan dan diserahkan kepada pihak kepolisian untuk penyelidikan lebih lanjut.

Tim Komite Keamanan Bandara (TKKB) RHF Tanjungpinang berhasil menyelamatkan dua orang korban penyanderaan kru pesawat Express Air saat itu.

General Manager Angkasa Pura II Tanjungpinang, M. Syahril mengatakan, peristiwa itu merupakan latihan simulasi yang dilakukan untuk melatih sinergitas antar instansi yang ada di Tanjungpinang bersama dengan pihak komite keamanan yang telah dibentuk oleh Bandara RHF Tanjungpinang.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan No.80 tahun 2017, Pelatihan Keadaan Darurat Keamanan (Contingency Exercise) dengan skala besar (Full Scale) paling sedikit dilaksanakan satu kali dalam dua tahun.

Lebih lanjut GM Angkasa Pura II Tanjungpinang ini menjelaskan, apabila ada kejadian luar biasa yang dianggap sebagai rawan merah, maka Komando Bandara akan diserahkan sepenuhnya ke Lanud RHF sebagai komando awal, yang akan dikembalikan lagi setelah situasi terkendali.

Hal senada juga disampaikan oleh Komandan Lanud Raja Haji Fisabilillah Kolonel Pnb Andi Wijanarko yang mengatakan bahwa kegiatan tersebut bertujuan untuk menyegarkan kembali kemampuan unsur-unsur yang tergabung dari Komite Keamanan Udara Bandara RHF yaitu Angkasa Pura, dan TNI Polri.

”Sesuai dengan Peraturan Menteri Nomor 125 tahun 2015 apabila terjadi keadaan merah dan Angkasa Pura tidak dapat mengatasi, maka semua keamanan bandara diserahkan kepada TNI,” tegasnya.

Selaku penanggung jawab keamanan udara wilayah Kepri, Danlanud menegaskan komitmennya untuk senantiasa mengamankan wilayah udara Kepri.

”Merupakan tanggung jawab saya untuk mengamankan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan keamanan bandar udara,” tegas Danlanud RHF. (abh)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here