Pengusaha Enggan Manfaatkan PMK 229

0
515
OK Simatupang menyampaikan sambutan perwakilan pengusaha ke pemerintah dalam pertemuan beberapa waktu lalu. f-dokumen/tanjungpinang pos

BATAM – Pelaku industri di Batam mengaku kesulitan memanfaatkan fasilitas yang diatur dalam PMK 229 tahun 2017 tentang Tata Cara Pengenaan Tarif Bea Masuk Atas Barang Impor Berdasarkan Perjanjian Atau Kesepakatan Internasional. Walau aturan itu sudah berlaku sejak 28 Februari 2018, namun pengusaha belum memanfaatkan fasilitas dalam PMK itu. Alasannya, syarat yang harus dipenuhi dinilai memberatkan pengusaha.

Ketua HKI Kepri, OK Simatupang mengatakan, melalui aturan itu, memungkinkan pelaku usaha untuk mengekspor produk hasil industri ke daerah pabean lain di Indonesia tanpa dikenakan bea masuk sebesar 10 persen. “Tapi syarat yang diterapkan untuk mendapat fasilitas itu, memberatkan. Makanya belum ada pelaku industri yang memanfaatkannya,” katanya.

Dalam aturan itu, ada kewajiban industri menyediakan IT Inventory. IT itu dikoneksikan dengan sistem Bea Cukai secara online dan real time menjadi. Dengan sistem ini, Bea Cukai dimungkinkan memonitor pergerakan barang keluar masuk industri penerima fasilitas tersebut. Walau pengusaha tidak keberatan dengan sistem itu, namun pengusaha keberatan dengan pembangunan IT inventory.

“Karena butuh biaya biaya yang cukup besar. Standart platform IT Inventory yang diinginkan pemerintah juga belum jelas, karena tak ada aturan teknis yang memaparkan standar yang diminta,” imbuhnya.

Para pengusaha meminta pemerintah membuat platform, sehingga ada standarisasi. Sampa saat ini, set up IT inventory belum ada titik temu. Dimana, mengenai penyampaian konversi bahan baku menjadi barang jadi serta blueprint proses produksi juga disebut terlalu memberatkan.

“Ketentuan ini sebaiknya dihilangkan saja. Karena akan membuat persyaratan mendapatkan fasiltias tarif preferensi dari PMK 229/ 2017 semakin rumit,” harap OK.

Di sisi lain dinilai jika masalah logistik juga jadi dilematis tersendiri. Biaya logistik dari Batam menuju Jakarta dibandrol lebih kurang Rp 14 juta unutk kontainer 40 feet. Dengan ukuran yang sama, biaya logistik dari Singapura menuju Jakarta hanya Rp 10 juta.

“Sementara frekuensi transportasi logistik dari Batam menuju Jakarta yang hanya ada sekali seminggu. Sementara shipment dari Singapura menju Jakarta tersedia setiap hari. Jadi, ada kemudahan bea masuk, tapi biaya logistik mahal,” cetusnya.

Di pihak lain, Kabid Bimbingan Kepatuhan dan Layanan Informasi (BKLI) KPU Bea Cukai Batam, Raden evi mengatakan, perusahaan tak perlu membangun sistem IT Inventory baru untuk mendapat fasiltias tarif Preferensi. Setiap perusahaan dan industri sudah punya sistem inventorynya sendiri.

”Sistem ini memungkinkan perusaahan mengontrol stok bahan baku, barang modal dan produk yang dihasilkan,” sebutnya. (mbb)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here