Pengusaha Makin Kaya, Masyarakat Dapat Apa?

0
79
TIGA narasumber memaparkan materi tentang FTZ dan KEK, pada diskusi ekonomi Bintan yang digelar KDN, Sabtu lalu. f-yendi/tanjungpinang pos

Ketika KDN Bikin Diskusi FTZ dan KEK di Bintan

KIJANG – Diskusi dalam dialog ekonomi Bintan yang ditaja Kelompok Diskusi Nusantara (KDN) Kepri, berlangsung alot, Sabtu (30/6) lalu. Free Trade Zone (FTZ) di Kepri maupun Kawasan Ekonomi Khusus di Bintan ’disebut’ hanya memperkaya bagi pengusaha. Terus, masyarakat Bintan dapat apa dari FTZ dan KEK ini?

Di aula Gedung LAM Bintan, puluhan mahasiswa bersama forum RT/RW berharap, para pihak terkait dan pemerintah memberikan harapan besar, FTZ dan KEK Galang Batang bisa mengubah tingkat kesejahteraan buat masyarakat Bintan. Dalam diskusi itu, narasumber memaparkan keuntungan FTZ dan KEK Galang Batang, Bintan. Intinya memberikan peluang ekonomi dan pekerjaan bagi masyarakat Bintan.

Narasumber tersebut antara lain Azwirullah dari FTZ Kepri, Apriadi dosen STIE Pembangunan Tanjungpinang dan Anggota Komisi II DPRD Kepri Ing Iskandarsyah. Turut hadir dalam diskusi KDN itu Kepala Diskop UKM dan Perindag Bintan Dian Nusa, anggota DPRD Bintan Hasriawadi, Abi Manyu dan Radief Anandra dari BP Kawasan Bintan, Tatang dari TNI AL, Agus S dari Kodim 0315 Bintan, TNI AU, unsur pemerintahan Kabupaten Bintan dan tokoh masyarakat/pemuda.

Wakil Ketua KDN Kepri Suherry menyampaikan, dalam diskusi ini masyarakat Bintan masih banyak yang belum mendapat manfaat dari penerapan FTZ di Bintan, maupun Kepri pada umumnya. Begitu pula dengan pemberlakuan KEK Galang Batang. Sehingga, masih terjadi pro dan kontra penerapan FTZ serta KEK ini. Justru itu, KDN membuka forum diskusi tentang ekonomi di Bintan, dengan penetapan FTZ dan KEK Galang Batang ini.

”Tema yang kita angkat itu tentang peran Dewan Kawasan FTZ dan KEK, dalam memberikan kontribusi pada peningkatan perekonomian di Provinsi Kepri. Khususnya bagi masyarakat Bintan,” ujar Suherry.

Dari hasil diskusi ini, lanjut Suherry, KDN akan membuat rekomendasi dan diserahkan ke pemerintah pusat melalui BKPM nasional dan Kementerian Perekonomian RI. ”Kita tidak menggagalkan FTZ dan KEK ini. Tapi bagaimana solusinya, agar masyarakat Bintan mendapat keuntungan yang besar. Bukan pengusaha yang makin kaya. Sekarang ini, masyarakat Bintan dapat apa? Kan belum terlihat jelas,” tuturnya.

Kepala Diskop UKM dan Perindag Bintan Dian Nusa menyampaikan, saat ini, mungkin masyarakat Bintan berpikir, kondisi ekonomi sama saja dengan adanya FTZ/KEK ini, maupun dengan tidak ada FTZ/KEK tersebut. Seharusnya, ada kontribusi yang besar dengan diberlakukan FTZ dan KEK di Bintan. Contoh kecil, seharusnya harga barang di Bintan malah lebih murah dibandingkan daerah lain, karena tidak ada PPN dan PPh.

”Tapi nyatanya seperti apa, harga barang malah lebih tinggi,” sebut Dian Nusa.

Contoh lain, Bintan memiliki pelabuhan Seikolak yang ditetapkan sebagai pelabuhan FTZ. Ternyata, sudah banyak barang-barang impor dan barang mewah, yang masuk melalui pelabuhan tersebut tanpa PPN dan PPh (pajak). Kemudian, barang itu disebar ke provinsi lain se-Indonesia.

”Yang dapat untung dari pelabuhan FTZ itu, ya oknum-oknum pengusaha yang makin kaya. Sementara, masyarakat dapat apa? Ini yang harus kita carikan solusinya. Saya berharap diskusi KDN ini harus ada tindak lanjutnya,” harap Dian Nusa, saat membuka diskusi tersebut.

”Sehingga, FTZ dan KEK di Bintan benar-benar ada kontribusi terhadap masyarakat secara merata,” demikian ditambahkan Dian Nusa. (fre)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here