Peningkatkan Publikasi Ilmiah (Internasional) Para Dosen

0
632

Oleh: Dr. Agung Dhamar Syakti
Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan – Universitas Maritim Raja Ali Haji
Editor Kepala Jurnal Terakreditasi Nasional (Omni-Akuatika)

Munculnya Permenristekdikti No. 20/2017 tentang Pemberian Tunjangan Profesi dan Tunjangan Kehormatan Profesor menimbulkan kegaduhan dikalangan para Dosen terutama bagi mereka yang telah memiliki jabatan akademik Lektor Kepala (LK) dan Guru Besar (GB : Profesor). Pasalnya, Kementrian akan mengevaluasi kinerja mereka berdasarkan produktivitas ilmiah berupa publikasi ilmiah pada jurnal nasional terakreditasi, ilmiah internasional, paten atau karya momumental lainnya seperti tertuang didalam pasal 4 dan 8 dari Permen ini. Konsekwensi dari kegagalan memenuhi pasal 4 (LK) dan pasal 8 (GB) akan berakibat pada pemotongan atau penghentian sementara tunjangan profesi (LK) dan tunjangan kehormatan (GB). Dari Pangkalan Data Perguruan Tinggi (PDPT), jumlah dosen seluruh Indonesia adalah sebanyak 190.769 orang dimana distribusinya adalah 71.204 dosen tanpa jabatan akademik, 30.767 berjabatan akademik Asisten Ahli, 43.691 Lektor, 30.010 Lektor Kepala dan hanya ada 5.097 Guru Besar.

Apa pentingnya publikasi bagi seorang dosen atau bagi pemerintah Indonesia ?, publikasi bagi Dosen adalah suatu indikator dari salah satu dari Tridharma-nya di perguruan tinggi (pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat), khususnya dharma yang ke-2 yakni penelitian. Hasil penelitian tentunya harus dipublikasikan agar dapat digunakan sebagai acuan bagi ilmuan-ilmuan lain dalam pengembangan risetnya. Problemnya, seleksi agar artikel ilmiah kita dapat dipublikasikan pada jurnal-jurnal bereputasi secara nasional ataupûn intrenasional sangat ketat. Sistem penilaian sejawat (peer review) menjadi momok ketika data riset yang kita gunakan kurang memadai atau kurang dapat dipertanggunjawabkan kesahihannya (reliable), hasilnya peer review tidak akan merekomendasikan tulisan kita untuk dipublikasikan. Nah, ketika dosen telah berhasil mempublikasikan hasil risetnya, ini dapat diartikan sebagai kontribusi nyata dari dosen kepada ilmu dan keilmuan yang dikembangkannya. Dosen sendiri didefinisikan sebagai pendidik profesional dan ilmuan (UU No. 14/ 2005 tentang Guru dan Dosen) dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui Tridharma perguruan tinggi. Bagi pemerintah, apa maknanya?, publikasi dan juga produk Kekayaan Intelektual lain seperti Patent, Hak Cipta, Disain Industri dan Prototipe adalah salah indikator keberhasilan dari kesiapan suatu bangsa memanfaatkan teknologi dan mengembangkan inovasi untuk kemaslahatan rakyatnya disamping bentuk pertanggungjawaban penggunaan dana masyarakat dari pajak.

Pertanyaanya apakah para LK dan GB mampu mengemban amanah tersebut? Dari target yang dicanangkan untuk tahun 2017 sebanyak 14.785 publikasi internasional (Rakernas Kemristekdikti, 2017) LK dan GB di targetkan hanya akan mampu mensuplai publikasi sebanyak 3.101 (LK) dan 382 (GB) publikasi. Artinya hanya 10 % (LK) dan 7.5 % (GB) yang dianggap akan dapat memenuhi amanat Permenristekdikti No. 20/2017, selebihnya (> 90 %) harus bersiap siap kehilangan tunjangan profesi dan tunjangan kehormatannya.

Jadi bagaimana target-target Kemristekdikti dapat dicapai?, jawabannya, tidak akan pernah bisa!, selama dua permasalahan dasar belum terpecahkan agar tuntutan produktifitas dapat direalisasikan. Pertama, infrastruktur kerisetan harus dibangun, artinya sarana dan prasarana terkait laboratorium riset di perguruan tinggi di Indonesia. Mengingat disparitas kualitas yang tinggi diantara PT seluruh Indonesia dan terkonsentrasinya jumlah dosen pada PTN dan PTS yang maju, strateginya dapat diawali dengan fokus pada penguatan 100 PTN dan 100 PTS terpilih terlebih dahulu dengan dukungan pembangunan lab dan peralatannya masing-masing 100 milyar, (< 20 trilyun). Jumlah besar dana ini dapat diberikan sebagai paket multi years dalam kurun waktu 4-5 tahun. Perlu diketahui baru ada kurang dari 210 dan 4300-an perguruan tinggi di Indonesia yang dosen-dosennya tercatat sebagai penulis publikasi internasional pada lembaga pengindeks SCOPUS yang selalu dijadikan acuan bagi Kemristekdikti dalam menilai kredibiliats suatu jurnal ilmiah. Kedua dapat berupa dukungan bantuan editing service bagi publikasi yang akan diterbitkan di jurnal-jurnal intrenasional. Kita mahfum bahwa kualitas bahasa Inggris dari sebagian besar peneliti di Indonesia masih perlu dibantu guna meningkatkan kualitas penulisan baik adri tata bahasa, grammar, punctuation, gaya selikung dan lain sebagainya. Jika target dari Kemristekdikti pada tahun 2017 adalah 15.000 publikasi maka sedikitnya dibutuhkan dana sebesar 50-75 milyar. Pendekatan ini jauh lebih produktif secara massive dibandingkan pendekatan insentif publikasi yang biasanya hanya akan dinikmati para dosen-dosen yang sudah lebih banyak pengalaman menulis di jurnal-jurnal ilmiah internasional. Efeknya kepercayaan menulis mulai terbangun bagi para dosen dengan segala jabatan akademiknya tanpa memandang jabatan fungsional akademiknya sebagai Lektor Kepala atau Guru Besar.

Bagaimana dengan di Perguruan Tinggi di Kepulauan Riau?, dari 60 perguruan tinggi baik dalam bentuk Universitas, Sekolah Tinggi, Politeknik atau Akademi hanya dua PT yang berhasil mencatatkan publikasinya pada jurnal internasional bereputasi terindeks Scopus. Keduanya adalah PT Negeri yakni Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) dan Politeknik Negeri Batam dengan jumlah publikasi kurang dari 50 untuk kedua PTN. Sebagai pembanding ITB memproduksi 8178 sedangkan Universitas Riau menelurkan 454 publikasi di Kancah Internasional. Jadi jelas kualitas Perguruan Tinggi di Kepri dalam bidang riset dan publikasi masih harus ditingkatkan. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here