Pentingnya Menanamkan Rasa Malu dan Rasa Bersalah dalam Diri Kita

0
1779

Oleh: Zaitun
Dosen UMRAH Tanjungpinang, Provinsi Kepri Studi Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung

Suatu hari di ruang perkuliahan, waktu menunjukkan pukul 13.00 WIB. Saat dimulainya perkuliahan, seorang dosen telah lebih awal tiba dalam kelas diikuti beberapa mahasiswa. Suasana hening, kemudian sang dosen angkat bicara sambil menoleh mahasiswanya yang sudah ada dalam kelas.

”Siapa yang tampil persentasi pada hari ini? seorang mahasiswa menunjukkan tangannya dan berkata: ”Saya Prof,”.

Kemudian sang dosen pun berkata lagi: ”Tampaknya peserta kuliah baru 60 persen. Kita akan mulai 5 menit lagi,” sang mahasiswa pun saling pandang dan memang jumlah peserta kuliah yang seharusnya 13 orang yang baru hadir 7 orang, sisanya belum menujukkan tanda-tanda memasuki kelas.

Suasana kembali hening di kelas. Setelah 5 menit berlalu baru bermunculan peserta kuliah satu per satu. Ada yang mengetuk pintu dengan malu, masuk dan menyalami dosen serta mengambil tempat duduk.

Ada pula yang masuk dengan wajah nyengir bersembunyi dalam rasa salah. Sang dosen membuka kelas dengan suara lembutnya namun tegas sambil berkata:

”Sesungguhnya dalam diri bangsa kita ini rasa malu dan rasa bersalah itu sangat penting dan perlu ditumbuh kembangkan,”.

Suasana kelas menjadi hening dan peserta kelas saling pandang satu sama lainnya denga menyimpan rasa tanya di kepala : Kenapa rasa bersalah dan rasa malu itu penting???

Deskripsi dari cerita di atas merupakan salah satu contoh saja dari seribu satu peristiwa yang dapat kita amati dan bahkan telah kita alami dalam interaksi sosial yang kita jalani sehari-hari.

Tentunya kita pun akan bertanya : Mengapa rasa malu dan rasa bersalah penting ditanamkan dalam diri kita? Secara etimologi dalam kamus besar Bahasa Indonesia disebutkan berkaitan rasa bersalah dan rasa malu yaitu : rasa1/ra·sa/ n 1 tanggapan indra terhadap rangsangan saraf, seperti manis, pahit, masam terhadap indra pengecap, atau panas, dingin, nyeri terhadap indra perasa); 2 apa yang dialami oleh badan: pedih dan nyeri di perut merupakan gejala sakit lambung; 3 sifat rasa suatu benda: gula-nya manis. 4. tanggapan hati terhadap sesuatu (indra): -sedih (bimbang, takut); 5 pendapat (pertimbangan) mengenai baik atau buruk, salah atau benar: —-adil;—-tak mengapa hidung dikeluani, pb orang yang kurang pikir atas sesuatu yang terjadi pada dirinya sehingga mendapat susah juga;

Baca Juga :  Solidarity Is Our Priority

Adapun kata malu : ma·lu a 1 merasa sangat tidak enak hati (hina, rendah, dsb) krn berbuat sesuatu yang kurang baik (kurang benar, berbeda dengan kebiasaan, mempunyai cacat atau kekurangan, dsb): ia—- karena kedapatan sedang mencuri uang; aku—- menemui tamu karena belum mandi; 2 segan melakukan sesuatu karena ada rasa hormat, agak takut, dsb: murid yang merasa bersalah itu—menemui gurunya; tidak usah — untuk menanyakan masalah itu kpd ulama. 3. kurang senang (rendah, hina, dsb): ia berasa — berada di tengah-tengah orang penting itu; — bertanya sesat di jalan ( — berdayung perahu hanyut; — makan perut lapar), pb kalau tidak mau berikhtiar, tidak akan mendapat kemajuan; — kalau anak harimau menjadi anak kucing (kambing), pbtidak sepatutnya kalau anak orang baik-baik atau pandai menjadi jahat atau bodoh; — tercoreng pd kening, pb malu yg tidak dapat dihilangkan lagi krn sudah diketahui orang banyak; tidak tahu — , kitidak bermalu; tidak pernah merasa malu; — besar malu yg amat sangat; — mata segan; hormat;

Rasa malu dan rasa bersalah adalah benih-benih untuk membentuk dari disiplin. Mari sejenak kita renungkan serta evaluasi diri kita. Dalam waktu 24 jam yang kita lalui dengan seribu satu aktivitas kita yang di mulai dari “bangun pagi sampai tidur lagi” berapa banyak rasa malu dan rasa bersalah yang menghiasi aktivitas kita. Rasa malu dan rasa bersalah tidak terlepas dari peran kita dalam kehidupan. Ambil saja contoh dalam salah satu tri pusat pendidikan yaitu keluarga.

Keluarga adalah pusat pendidikan dan muara pembentukan karakter penghuni di dalamnya. Komponen dalam keluarga minimal ada bapak, ibu dan anak-anak. Bapak, ibu dan anak-anak tentunya memiliki peran yang saling terkait satu sama lainnya. Dalam suatu keluarga ada pendidikan yang mengalir menjadi aturan yang ditanankan dan dilaksanakan oleh orang orang yang ada di dalamnya atau disebut dengan hidden curriculum.

Hidden curriculum keluarga yang satu pasti tidak sama dengan keluarga yang lain, namun tujuan yang ada di dalamnya berupa aturan yang memang tidak tertulis tapi ‘mengalir’ dan dilaksanakan oleh semua anggota keluarga.

Orang tua dalah modelling sekaligus panutan bagi anak-anaknya.orang tua yang berkarakter akan menjadikan anaknya berkarakter pula. Hal ini tentu saja bila peran dari masing –masing anggota dalam keluarga berlangsung sessuai dengan koridor dan dasar pijakan yang jelas yaitu pemahaman keagamaan yang benar.

Baca Juga :  Kendalikan Inflasi untuk Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Kepri

Idealnya seorang ayah berperan sebagai kepala keluarga, taat dalam beribadah, mecari nafkah yang halal, memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani keluarganya sekaligus sebagi pendidik dan pelindung bagi keluarganya.

Adapun peran seorang ibu adalah, melahirkan, mendidik, mejaga, mengasuh, membesarkan anak-anaknya, taat beribadah, melakukan berbagai aktivitas rumah tangga terkait manjemen kebutuhan suami dan anak-anaknya.

Di sisi lain peran anak adalah membantu orang tua nya sesuai umurnya, belajar, bermain, taat, dan berbakti kepada orang tua. Dalam peran yang dilaksanakan oleh masing-masing anggota keluarga sangat penting ditanamkananya rasa bersalah dan rasa malu agar tumbuh dan berkembang nilai disiplin dalam diri.

Ibarat menyemai benih bunga, tentu saja benih yang disemai dan ditanam tersebut selanjutnya akan dijaga, disiram, dipupuk sehingga dari benih tersebut tumbu akar, memiliki batang, daun dan bunga yang indah dipandang.

Begitu juga rasa malu dan rasa bersalah adalah refleksi dari peran yang terabaikan. Mengapa demikian? Implikasi dari peran yang kita lakoni memiliki dua konten yaitu hak dan kewajiban.

Adapun akumulasi peran seorang atau peran kita dalam menanamkan rasa bersalah dan rasa malu perilaku kita antara lain : malu dan bersalah bila tidak melaksanakan ibadah.

Malu dan bersalah jika malas bekerja, malu dan bersalah jika mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya, malu dan bersalah jika memalukan perbuatan yang tercela, malu dan bersalah jika anak-anak berbuat salah dan berbuat dosa.

Malu dan bersalah jika anak menjadi salah asuhan dan salah didikan, malu dan bersalah jika anak tidak taat, malu dan bersalah jika suasana rumah tangga tidak aman, nyaman dan tentram.

Malu dan bersalah bila berbohong dan berdusta, malu dan bersalah jika tidak belajar dengan baik, malu dan bersalah jika tidak memenej waktu dengan benar, malu dan bersalah jika tidak melaksanakan ibadah.

Malu dan rasa bersalah jika berkelahi, malu dan bersalah jika terlambat ke sekolah, malu dan bersalah jika mengabaikan kebersihan diri, malu dan bersalah jika membuang sampah sembarangan.

Malu dan bersalah jika tidak berbakti kepada orang tua dan orang yang lebih tua, rasa malu dan bersalah jika mencontek, malu dan bersalah jika berbuat ke onar, malu dan bersalah bila memaksakan kehendak dan lain sebagainya.

Baca Juga :  Partisipasi Keluarga dalam Penyembuhan Kejahatan Korupsi

Rasa malu dan rasa bersalah sangat penting ditanamkan dengan tujuan akan muncul dan kokohnya nilai disiplin. Melalui rasa malu dan rasa bersalah kita akan dapat mengevaluasi diri kita agar menjadi pribadi yang baik dan bermanfaat kepada sesama, sebagaimana dalam sebuah hadist disebutkan “manusia baik adalah manusia yang bermanfaat bagi sesamanya”.

Rasa malu dan rasa bersalah yang kita tanamkan dalam diri kita dan khususnya anak-anak kita akan menjadikan mereka pribadi berkarakter saat mereka berinteraksi di lingkungan baik itu dalam lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat nantinya.

Rasa malu dan rasa bersalah diibaratkan sebagai tiang beserta rambu-rambu lalu lintas yang ada di dalamnya, kapan harus berhenti dan kapan harus jalan.

Rasa malu dan rasa bersalah dapat juga berfungsi sebagai pengontrol diri. Sebagai contoh, bila kita telah tau dan paham akan aturan masuk kerja atau sekolah adalah pukul 07.30 pagi maka kita akan berusaha untuk datang ke sekolah atau ke tempat kerja kita lebih awal, agar tidak terlambat. Ini disebut dengan disiplin diri.

Sebagai renungan bagi kita berkaitan menanamkan rasa bersalah dan rasa malu, mari bercermin dari apa yang disampaikan oleh Raja Ali Haji dalam kutipan Gurindam Dua Belasnya yang sarat dengan nasihatnya berikut ini :

Apabila terpelihara mata, sedikitlah cita-cita, apabila terpelihara kuping, kabar yang jahat tiada damping, apabila terpelihara lidah niscaya dapat daripadanya faedah, bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan, dari pada segala berat dan ringan, apabila perut terlalu penuh, keluarlah fi’il yang tiada senonoh, anggota tengah hendaklah ingat, disitulah banyak orang yang hilang semangat.

Semoga dengan menanamkan rasa bersalah dan rasa malu dalam diri kita menjadi unsur penguat bagi kita dalam menghadapi berbagai tantangan di era global ini.

Sehingga kita tidak hanyut dan larut dalam buaian kemilau teknologi dan kita dapat menahan diri dan menerapkan nilai-nilai kebaikan yang ada dari teknolgi untuk umat, serta menyaring nilai-nilai negatifnya.***
Wallahu a’lam bisshowab

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here