Pentingnya Pendidikan Anak dalam Keluarga

0
1410
Novi Riyani, S.Pd

Oleh : Novi Riyani, S.Pd
Purna SM-3T Indonesia dari Universitas Riau

Anak merupakan karunia dari Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Pentingnya keberadaan anak merupakan kodratnya manusia dalam menyambung garis keturunan. Bahkan keberadaan anak selalu dirindukan karena ia merupakan buah hati penyejuk pandangan mata, kebanggaan orang tua dan aset pembangunan bangsa. Itulah sejatinya anak yang ada dalam gambaran pemikiran kita. Suatu titipan yang harus dijaga dengan baik, agar kembali kepada penitip-Nya dengan baik pula. Disinilah arti pentingnya pendidikan, sebagai bekal anak tumbuh berkembang sesuai dengan tuntunan agama dan harapan bangsa.

Berkaitan dengan arti pentingnya pendidikan terhadap anak, Maha guru Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa setiap orang sejatinya adalah guru dan setiap rumah-rumah di Indonesia adalah sekolahnya. Ungkapan tersebut menjelaskan bagaimana seharusnya keluarga berperan terhadap pendidikan anak. Menempatkan keluarga sebagai madrasah pertama dan orang tua sebagai gurunya.

Selain itu keluarga juga berperan sebagai ruang konsultasi dimana semua permasalahan selalu akan ada solusi. Disinilah tempat dimana seharusnya anak tumbuh dengan penuh kesiapan dan kemantapan untuk menghadapi dunia sebagai tantangan untuk ditaklukkan.

Sebelum anak mulai berinteraksi dengan dunia luar, ia merupakan alat perekam yang sangat efektif. Anak masa ini disebut golden age. Hampir semua perkataan dan perbuatan yang sering diucapkan orang tua di rumah direkam dengan baik olehnya. Hal ini sering kita sadari, namun sebagai orang tua kurang memperhatikan implikasi tindakan tersebut.

Padahal, ini akan mempengaruhi psikis dan kognitif anak yang akan dibawa-bawa dalam berinteraksi dilingkungan sosialnya. Untuk itu perlu hal-hal baik yang harus dipupuk subur di lingkungan keluarga sehingga yang dibawanya ke lingkungan adalah kebaikan pula. Baik itu dari perkataan, perbuatan dan begitu pula ahlaknya. Begitulah hakikat pentingnya kehadiran dan perhatian orang tua dalam menjaga sikap dan perkataan di lingkungan keluarga. Dampaknya, ketika anak jauh dari keluarga akan mendorongnya mencari lingkungan yang baik sesuai dengan karakter psikis yang ia peroleh ketika ia bersama keluarganya.

Jika keluarga baik maka anak akan mencari lingkungan yang baik pula. Namun jika keluarga belum bisa menghadirkan kondisi tersebut, maka orang tua secara rela telah menyerahkan alam/lingkungan untuk mendidiknya. Padahal kita tahu bahwa tidak ada ujian yang bisa dilalui dengan baik tanpa persiapan yang baik. Padahal dunia adalah seberat-beratnya ujian.

Dewasa ini, kebanyakan orang tua masih menganggap kebahagiaan anak adalah memberikan semua keinginan anak. Smartphone dan sepeda motor diantaranya. Keduanya merupakan media anak untuk berseluncur di dunia maya dan dunia nyata. Smartphone memberikan ruang kepada anak untuk bisa berinteraksi dengan dunia luar dalam konteks kehidupan semu dan maya. Banyak contoh bahwa anak-anak yang keluyuran di dunia maya (internet) tanpa kesiapan dan pengawasan orang tua akan berakhir tragis dan menyedihkan di dunia nyata.

Ditambah lagi jebakan game online yang menjerat anak untuk selalu exist di dunia maya. Sehingga secara nyata psikis anak akan dibentuk asosial dan cenderung kontra produktif dengan kegiatan dikehidupan nyata. Lebih parah lagi sepeda motor. Bukan hanya pemikiran anak yang dibawa, tapi fisiknya juga turut serta keluyuran jauh dari penjagaan orang tua.

Mendidik anak dilingkungan keluarga saja kita kewalahan. Bagaimana mungkin dengan memberikan anak kebebasan. Sikap orang tua yang demikian akan memupuk subur sikap egois anak. Sehingga hubungan kekeluargaan antara anak dan orang tua akan didasarkan atas apa yang diberikan orang tua. Begitulah pemikiran anak bekerja.

Salah kaprah mendidik anak juga sering muncul karena pemikiran yang beranggapan bahwa karir dan prestise adalah tujuan yang paling penting yang harus dicapai. Kita berdalih bahwa semua itu untuk kebutuhan anak-anak. Jika ada uang dan prestise yang dimiliki secara otomatis akan mensukseskan anak.

Padahal, itu bukan jaminan dalam menghantarkan anak menuju gerbang kesuksesannya. Justru perhatian dan dorongan dari keluargalah yang memberikan rasa tanggung jawab kepada anak untuk sukses. Keluarga dimana orang tua adalah penanggung jawab utama dalam men-skenariokan anak hingga bisa berguna. Penanggung jawab dari apa yang ditimbulkan oleh perlakuan anak dimasa mendatang karena anak adalah titipan yang besar. Dituntuk kebaikan dan kesuksesannya di dunia dan petanggungjawabannya di akhirat.

Peran keluarga dalam mendidik dan memberikan dukungan sangat berdampak bagi anak untuk membentuk karakter dan kepribadian sosial. Bukan hanya cerdas secara intelektual tetapi menjadi generasi paripurna dengan keluhuran budi pekerti sebagai penerus bangsa. Dalam pelaksanaanya, orang tua langsung membimbing, mengarahkan dan memberikan contoh karena ikatan keluarga adalah ikatan yang paling kuat di dunia ini. Jika ikatan kekeluargaan tersebut dijaga dan dirawat dengan baik melalui hubungan yang harmonis, maka tugas orang tua sebagai guru akan sangat mudah dalam mendidik anak. Namun jika sebaliknya, seolah kita menghadapi orang asing yang tinggal di rumah kita. Umumnya kita sebagai orang tua sibuk memperbaiki taraf ekonomi, membangun daerah dan Negara yang layak serta kondusif kedepannya.

Namun, kita lupa bahwa anak-anak yang ada disetiap rumah-rumah Indonesia adalah aset bangsa yang butuh perhatian dan pendidikan dikeluarga kita. Membangun Indonesia jangka panjang adalah bagaimana membangun keluarga yang harmonis, dimana anak mendapat perhatian dan pengakuan. Dimana anak mampu membedakan yang baik dan yang buruk. Mengerti bahwa disetiap hak yang diberikan ada tanggung jawab yang menyertainya. Begitulah visi pendidikan keluarga sebagai madrasah pertama dan orang tua sebagai guru pertama anak. Untuk itu sebagai orang tua, marilah kita menjadi guru dan pembicara yang baik dilingkungan keluarga untuk masa depan anak yang lebih baik.***

Salam MBMI*
Maju Bersama Cerdaskan Bangsa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here