Peran Ibu dalam Memperkuat Ketahanan Keluarga

0
626
Istiqomah, S.Pi

Istiqomah
Mahasiswi Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan UMRAH

Ketahanan keluarga merupakan peran yang erat bagi seorang ibu. Ibu yang identik dengan mengasuh anak, urusan dapur dan segala pekerjaan rumah, kini telah berganti rupa.

Berkarir, tumbuh di bidang ekonomi kreatif, adalah perubahan baru bagi sosok ibu masa kini. Di negara maju peran ibupun tak kalah hebatnya. Sebagai contoh, di Jepang ada istilah Kyoiku Mama (ibu pendidik). Seorang ibu tidak akan berhenti untuk mendorong anaknya agar terus belajar sekaligus menciptakan keseimbangan pendidikan yang baik dalam hal fisik, emosional, maupun sosial.

Menurut Sumiati, di Jepang juga ada istilah Ryosai Kentro (istri yang baik dan ibu yang arif) menggambarkan suatu kebijakan yang memposisikan kaum wanita sebagai ‘penguasa rumah’, yang bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi di rumah. Dari mulai pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, masalah keuangan, dan pendidikan anak.

Intinya menyerukan bahwa peran terhormat wanita adalah sebagai istri yang baik dan bijaksana, pembagian peran alami sesuai fitrah antara perempuan dan laki laki. Peran perempuan sebagai menteri dalam negeri dan motivator domestik rumah tangganya, sedangkan peran lelaki jadi mentri luar negeri keluarganya sebagai motivator logistik dan publik.

Motivasi utama para wanita Jepang yang memilih karirnya sebagai ibu rumah tangga profesional maupun sebagai ibu pendidikan adalah untuk meletakkan dasar pendidikan berperilaku sejak dini kepada anak-anaknya, terutama di masa-masa emas, yaitu pada usia tiga tahun pertama masa perkembangan pesat otak seorang anak.

Begitu juga dengan ibu Bill Gates, Mary Gates selain menjadi pelopor kesukesan Bill Gates yang mendirikan Microsoft ia juga merupakan pembisnis besar Amerika Serikat sebagaimana tercantum dalam obituari Mary di New York Times pada 1994 silam, Gates merupakan petinggi dari beberapa perusahaan besar, seperti First Interstate Bancorp, US West Inc, dan KIRO-TV. Semua yang telah diraih Mary Gates tak lepas dari perannya sebagai ibu rumah tangga, lewat perannya inilah ilmu program komputer mudah diserap. Microsoft mampu menanjak menjadi perusahaan software terbesar dunia.

Bisa dibilang, tanpa negosiasi Mary, belum tentu Microsoft bisa dikenal seperti sekarang ini. Sedangkan didalam negeri disibukkan dengan mahmud challenge yang viral di dunia maya beberapa saat lalu, dimana mamah muda yang berfoto memakai pakaian daster di satu sisi, dan berdandan/make up disisi lain. Secara tidak langsung mengandung pesan bahwa wanita berdaster jangan disepelekan, meskipun tidak asyik tetapi kaum ibu akan eksis kalau sudah ber-make up.

Namun, terlepas dari kesuksesan wanita hebat di dunia yang berkiprah dalam perannya menjadi ibu rumah tangga, tak luput pula eksploitasi merajalela merenggut mereka. Kondisi ini menjadi PR besar kita semua. Human traficcking yang melibatkan perempuan dan anak menjadi daftar panjang kasus-kasus kekerasan yang mengorbankan kehormaatan mereka.

Bisnis prostitusi menjamur, mucikari-mucikari yang mengobral paras dan kecantikan perempuan tak surut dari pemberitaan. Menurut data kementrian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak laporan Jaap E Doek, Unicef, dan End Child Prostitution Child Pornography and The Trafficking of Children for Sexual Purposes (ECPAT) menyebutkan, perdagangan perempuan dan anak untuk eksploitasi seksual di Asia mengorbankan 30 juta orang, termasuk untuk prostitusi.

Kita pernah dikejutkan dengan kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Yuyun (14), warga Desa Kasie Kasubun, Kecamatan Padang Ulak Tanding, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu. Belum lagi trend center anak remaja dengan fenomena Awkarin dan Anya Geraldine yang dipanggil oleh KPAI karena Vlogyang kontennya vulgar untuk ditonton anak-anak remaja serta mengkampanyekan pacaran goals yang sesungguhnya.

 

Beginilah ciri sistem Kapitalisme dalam menaungi perempuan, masalah-masalah yang diselesaikan tidak sampai ke akar-akarnya. Perempuan menjadi objek yang tidak dilindungi kehormatannya, perannya, bahkan hingga ia menutup usia martabatnya tetap saja terenggut. Mungkin negara-negara maju yang bisa kita saksikan di atas adalah bagian kecil yang berhasil mengambil perannya, namun bagaimana ibu-ibu yang minim ekonominya, minim skill pendidikannya, ibu dengan anak penyandang disabilitas karena kemiskinan yang melanda mereka, perempuan di negara-negara konflik yang diserang karena pakaian muslimahnya.

Kini perempuan yang berkiprah dalam rumah tangga diacuhkan, dilecehkan hak-haknya, dinilai rendah dan dilemahkan. Anak-anaknyapun terpapar oleh kemaksiatan, amoralitas, korupsi. Nilai-nilai kapitalisme barat yang beracun dipromosikanoleh pemerintahan sekuler dengan sebebas-bebasnya, akibatnya mereka terkena wabah individualisme menganut identitas ala barat dari pakaian, makanan, bahkan kecenderungan berseksual. Kesucian keluarga islam kini dinodai dengan perselingkuhan, perzinahan dan perceraian.

Semua ini karena umat islam telah kehilangan perisainya yaitu Khilafah islamiyyah. Untuk itu perlunya menghidupkan pendidikan dalam rumah yang berbasis akidah, ibadah dan ahlak yang dikomandoi oleh ibu yang menjadi pelopor madrasah ula atau sekolah permulaan. Kemudian, pembinaan aqliyyah yaitu memahami fakta-fakta menurut pandangan islam.

Bagi seorang istri mendampingi suami untuk saling memberi motivasi dan semangat dalam segala hal, ibarat sebuah istilah “dierto l’ uomo forte non c’una grandama” dibalik pria yang kuat terdapat wanita yang hebat. Satu lagi yang tak kalah pentingnya yakni juga mendidik umat agar terciptanya keluarga tangguh.

Mana mungkin keluarga hebat tapi lingkungan sekitar tidak sehat, konstribusi muslimah dalam memperbaiki masyarakat amatlah penting. Menurut Kholda, peran utama perempuan ialah mencerdaskan dan menyadarkan para remaja putri, istri dan ibu. Karena dipundak wanita keutuhan keluarga dimulai menjadi lebih baik, bermartabat dan terhormat.

Terwujudnya ketahanan keluarga berawal dari sistem yang mampu menghantarkan sendi-sendi keluarga yang utama yakni sakinah, ma waddah wa rohmah,sistem itu ialah sistem yang menentramkan dan menyejahterahkanyang mampu menjadi perisai setiap keluarga, sistem itu yang sering disebut sistem Khilafah yang bahkan orang-orang barat pernah mengabadikannya dalam teks-teks sejarah dan menenggelamkannya dalam kurikulum pendidikan. Seperti kutipan berikut ini :

“Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para Khalifah itu pun telah menyediakan berbagai peluang bagi siapapun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah dan seni mengalami kejayaan luar biasa…” (Will Durant – The Story of Civilization).

Secara jelas, Will Durant tak bisa memungkiri bahwa keberadaan Khalifah berada pada sistem kejayaan yang tidak bisa dielakkan dalam konteks yang tidak lepas dari institusi pemerintahan yang menjadi penyangganya, yakni Khilafah.

Sebetulnya tak hanya Will Durant yang secara jujur mengakui kehebatan Khilafah Islam dalam menciptakan peradaban emas lengkap dengan kemakmuran, kesejahteraan, keamanan, pelayanan pendidikan dan kesehatan, kemajuan ilmu pengetahuan dan industri, dan lain sebagainya.

Masih banyak intelektual Barat lainnya yang jujur yang melontarkan hal senada. Pengakuan mereka sebetulnya wajar belaka. Pasalnya, siapapun yang obyektif melihat sejarah Islam pasti juga bakal melontarkan hal serupa. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here