Perang Melawan Hoaks

0
545
Rikson Pandapotan Tampubolon

Oleh: Rikson Pandapotan Tampubolon
Dosen di Universitas Putera Batam

Merebaknya informasi hoaks, belakangan ini sudah pada titik yang mengkuatirkan. Masyarakat diombang-ambingkan arus informasi yang tak tentu arah. Sialnya, kita tak punya penyangga untuk membentengi diri di tengah jaman kelimpahan informasi ini.

Kasus penangkapan para penyebar hoaks, ujaran kebencian dan SARA baru-baru ini semakin membuka mata kita akan bahaya dari penyebaran hoaks. Masyarakat digiring oleh isu-isu yang tidak sehat dan cenderung mengadu domba. Persatuan dan kesatuan yang dibangun selama ini rentan terciderai oleh kepentingan sesaat para penunggang gelap arus informasi.

Kita mengapresiasi langkap sigap para penegak hukum kita dalam menangkap pelaku penyebar hoaks. Kelompok yang menamakan diri, Muslim Cyber Army (MCA) berhasil dibekuk oleh petugas. Penyebarannya hampir merata di seluruh negeri. Tidak tanggung-tanggung, ratusan bahkan ribuan disinyalir menjadi anggota maupun pengikut dalam kejahatan terencana ini.

Sebelumnya kita juga pernah pernah mendengar kasus yang serupa yaitu Kasus Saracen yang menyebar ujaran kebencian, fitnah, SARA dan Hoaks. Sialnya, aksi-aksi para kelompok-kelompok ini terencana dan terorganisir.

Teknologi informasi tak bisa kita pungkiri membawa kemudahan, sekaligus memberikan dampak anomali dari kelimpahan informasi itu sendiri.Di satu sisi, melimpahnya informasi memudahkan kita dalam mencari dan menganalisis informasi hari ini. Namun, di sisi lain, kelimpahan informasi tersebut membuat masyarakat tidak bisa membedakan mana informasi yang benar dan bermanfaat.

Masyarakat gelagapan dalam mencerna arus informasi. Akibatnya masyarakat hanyut dan terbawa arus informasi. Sadar tidak sadar, arus tersebut akan membawanya tanpa kesadarannya.

Baca Juga :  Geopark Natuna Sebuah Peluang

Hari-hari kita diisi oleh informasi yang masuk dari produk-produk jaman. Tanpa kita pernah berpikir bagaimana kandungan informasi tersebut. Akibatnya, kebiasan kita di era sekarang ini dalam berbagi informasi, sadar tidak sadar—apabila tidak dilakukan verifikasi dan konfirmasi—kita ikut membangun negeri yang diselimuti oleh polusi informasi hoaks yang menyesakkan, sekaligus menyesatkan.

Semakin Runyam
Momentum politik rupanya boleh jadi dijadikan sebagai ajang taruh citra diri. Politik menjadi panglima/penguasa dalam fenomena ini. Menghalalkan segala cara demi memperoleh kekuasaan, telah menjauhkan kita dari keadaban politik itu sendiri. Tenun kebangsaan itu sendiri berusaha dirusak oleh sekelompok orang yang haus kekuasaan.

Masyarakat menuai prasangka negatif, kebencian mulai tumbuh, radikalisme-fundamentalisme menjelma cara kita bermasyarakat. Semua jadi risih terhadap perbedaan, yang dulu kita anggap sebagai karunia. Kelompok-kelompok minor terpinggirkan. Akibatnya polarisasi menjadi gambaran buruk bangsa ini.

Fenomena ini muncul sebenarnya bukan tanpa sebab. Kualitas entitas yang hidup dalam sebuah wilayah negara merupakan penyangga dari sisi gelap arus informasi tersebut. Pendidikan merupakan faktor kunci dalam menghadapi derasnya arus informasi tersebut.

Tingkat literasi (baca-tulis) masyarakat Indonesia terbilang sangat rendah, dibandingkan negara lainnya. Indonesia menduduki peringkat terakhir di posisi 60 dari 61 negara yang disurvei oleh The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO, 2017).Ada enam literasi dasar yang harus dikuasai orang dewasa menurut World Economic Forum, yaitu baca tulis, literasi numerasi, literasi finansial, literasi sains, literasi budaya dan kewarganegaraan, dan literasi teknologi informasi dan komunikasi atau digital.

Baca Juga :  Perilaku LGBT Sebagai Patologi Sosial

Minimnya minat bacaorang Indonesia masih jauh tertinggal dari negara tetangga Singapura dan Malaysia. Laporan dari United Nations Development Programme (UNDP), tingkat pendidikan berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Indonesia masih tergolong rendah, yaitu 14,6%. Hanya setengah dari pencapaian Malaysia yang mencapai angka 28% dan Singapura yang mencapai angka 33%. Rendahnya tingkat literasi inilah yang mengakibatkan suburnya hoaks di negeri ini.

Diitambah lagi, dewasa ini munculnya anomali yang cukup populer dalam masyarakat dunia yang diistilahkan “Post Truth”. Menurut Oxford Dictionaries, ‘post-truth’ diartikan sebagai istilah yang berhubungan dengan atau mewakili situasi-situasi dimana keyakinan dan perasaan pribadi lebih berpengaruh dalam pembentukan opini publik dibanding fakta-fakta yang obyektif. Secara sederhana, ‘post-truth’ digunakan ketika fakta-fakta tidak lagi relevan. Akibatnya, masyarakat mudah digiring untuk kepentingan sesaat para penunggang gelap arus informasi.

Lawan
Jagad maya telah menjadi palagan atau medan pertempuran. Era Internet of Things (IoT) telah melahirkan dunia baru, bersamaan dengan generasi milenial. Semua berpacu di dalam dunia ini.

Menariknya, dunia ini mampu menangkap sisi lain dari kemanusiaan kita. Tidak jarang kita menemukan pribadi yang semula pendiam, mengungkap sisi cerewet dan nyinyir di jagad maya. Media sosial mampu menangkap dan mengungkap itu.

Pasukan siber (cyber army) dan penggema isu(buzzer) pun bermunculan. Ditambah profesi konsultan komunikator politik (spin doctor) merangkap sebagai public relations sebuah informasi (isu). Tujuannya meraup keuntungan dari aksi mengelola informasi—terkadang merekayasa informasi itu sendiri—. Tidak peduli mengorbankan kepentingan besar, asal kepentingan diri/kelompok bisa tercapai. Kita tidak menginginkan hal ini.

Baca Juga :  Sosialisasi Gizi Harus Masif

Kita harus membentengi diri dalam menghadapi pertempuran di jagad maya ini. Masyarakat, bersama pemerintah harus bahu-membahu membangun kesadaran akan pentingnya menangkal bahaya hoaks dalam iklim demokrasi kita. Masyarakat membutuhkan informasi yang sehat, lepas dari kandungan hoaks.

Situasi itu tentu tidak muncul dengan sendirinya. Dibutuhkan perhatian dan penguatan terhadap sumber daya manusia itu sendiri. Pendidikan harus menjadi senjata untuk melawan dan membentengi dari kekacauan arus informasi itu sendiri. Meningkatkan budaya literasi sejak dini adalah pilihan rasional untuk menyelamat masa depan bangsa ini.

Disamping itu, penegakan hukum (law enforcement) harus selalu menjadi panglima dalam pertempuran menangkal bahaya hoaks ini. Hukum harus tegak mengayomi semua pihak. Hukum tidak boleh kalah dengan kelompok yang membangkitkan tiran mayoritas. Hukum harus ada untuk semua. Terutama yang lemah.

Menarik untuk mengingat kembali pepatah bijak yang mengatakan. Cara Mengalahkan kejahatan yang terorganisir, hanya bisa ditempuh melalui membangun gerakan kebaikan yang terorganisir pula. Mari bersama melawan bahaya laten hoaks yang menyesatkan. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here