Perbatasan Rawan Jadi Pintu Penyelundupan Narkoba

0
1117
NARKOBA : Kapolda Kepri beserta jajarannya saat jumpa pers penangkapan narkoba, belum lama ini. F-dok/tanjungpinang pos

TANJUNGPINANG – Kepri kian darurat narkoba. Pengguna narkoba di Kepri semakin tinggi.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2015, Kepri menempati peringkat keempat paling rawan dalam prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia, yaitu sebesar 2,74% atau sebesar 40.205 jiwa dari jumlah penduduk 1.466.700 jiwa usia 10-59 tahun.

Karena itu, peran aparat di wilayah perbatasan tidak bisa diremehkan. Wilayah perbatasan tentu memiliki karakteristik yang berbeda dari daerah lainnya dari segi geografis, akademis, kultural, ekonomi, dan lainnya.

Rustam Panggabean S.IP, Staf BNN Kota Tanjungpinang dalam pres rilis yang diterima redaksikoran ini, kemarin, mengatakan, Kepri adalah salah satu wilayah perbatasan Indonesia di wilayah barat dengan luas 251 ribu kilometer persegi dengan luas wilayah perairan 96% dari luas keseluruhan.

Dari 160 pelabuhan tikus yang tersebar di pesisir wilayah provinsi ke-32 di Indonesia itu, 54 di antaranya berada di Tanjungpinang.

Tanjungpinang dahulunya adalah pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga. Sebelum dimekarkan menjadi kota otonom, Tanjungpinang adalah ibu kota Kabupaten Kepulauan Riau (sekarang Kabupaten Bintan).

Baca Juga :  Dinsos akan Periksakan Kejiwaan Penghuni Rumah yang Terbakar

Kota ini juga awalnya adalah Ibu Kota Provinsi Riau (meliputi Riau daratan dan kepulauan) sebelum kemudian dipindahkan ke Kota Pekanbaru.

Pelabuhan laut di Tanjungpinang yaitu Sri Bintan Pura memiliki kapal-kapal jenis feri dan feri cepat (speedboat) untuk akses domestik ke Pulau Batam dan pulau-pulau lain seperti Kepulauan Karimun dan Kundur, serta kota-kota lain di Riau. Pelabuhan ini juga merupakan akses internasional ke Malaysia dan Singapura.

Sebagai provinsi yang memiliki wilayah perairan terluas di Indonesia, Kepri memiliki banyak pelabuhan tradisional atau pelabuhan tikus.

Minimnya pengawasan oleh aparat membuat ratusan pelabuhan tikus yang tersebar di Kepri berpotensi menjadi tempat penyelundupan narkoba.

Ditambah dengan ditetapkannya Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) di beberapa wilayah Kepri, semakin menambah parahnya jumlah penyelundupan narkoba dari luar negara menuju Indonesia melalui perairan Kepri.

Baca Juga :  BNPT Ajak SMSI Bersinergi

Pada Februari 2016 lalu telah dilakukan penangkapan terhadap kepemilikan sabu seberat 522 gram di Terminal Ferry Pelabuhan Internasional Sri Bintan Pura yang merupakan penangkapan pertama di Tahun 2016.

Disusul pada Maret 2016 dilakukan penangkapan terhadap kepemilikan 2.850 gram sabu di pelabuhan yang sama oleh Bea dan Cukai Tanjungpinang.

Penanggulangan narkoba sudah menjadi tanggungjawab bersama seluruh komponen bangsa, karena jelas narkoba merupakan musuh bersama.

Upaya melawan narkoba adalah agenda bersama, partisipasi masyarakat dalam upaya pemberantasan jaringan sindikat narkoba sangat penting.

Masyarakat tidak perlu takut untuk memberikan laporan jika di kawasannya terindikasi terjadi kejahatan narkoba.

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, menyampaikan kawasan perbatasan menjadi salah satu perhatian besar bahwa kawasan perbatasan harus kuat karena akan menjadi early warning system dari potensi kejahatan narkoba.

Masyarakat perbatasan harus dikuatkan dan juga diberdayakan sehingga masyarakat bisa berkontribusi penting dalam upaya menangkal secara dini kejahatan seperti narkoba dan juga kejahatan lainnya.

Baca Juga :  Silaturahmi Membuat Kepri Lebih Gemilang

Dalam perkembangannya peredaran narkoba di Indonesia tidak hanya berada di kota-kota besar saja, melainkan sudah merambah ke daerah-daerah.

Berpijak pada tingginya angka prevalensi penyalahgunaan narkoba di Kepri, maka pemerintah dan masyarakat harus bekerjasama dalam menurunkan angka prevalensi tersebut.

Caranya dengan menurunkan angka demand dan supply terhadap penyalahgunaan dan peredaran narkoba. Upaya penurunan angka supply bisa dilakukan oleh pemerintah seperti BNN, Bea dan Cukai, Polri.

Sedangkan upaya penurunan angka demand dapat dilakukan oleh masyarakat dengan cara melaksanakan kegiatan sosialisasi bahaya narkoba secara mandiri, membentengi diri dari tawaran penyalahgunaan narkoba, serta melaporkan kepada aparat jika ada kasus peredaran narkoba.

Masyarakat juga diharapkan dapat mengajak para penyalahgunaan narkoba di lingkungannya untuk mau direhabilitasi. (mas)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here