Periksa Kualitas Tidur Kita!

0
503

Perayaan Hari Tidur Sedunia 2018 mengangkat tema Turut Serta dalam Dunia Tidur, Jaga Irama Anda untuk Menikmati Hidup. Sebuah ajakan penuh niscaya betapa kualitas tidur punya porsi besar dalam menentukan kualitas kesehatan dan kebahagiaan. Lantas, sampai hari ini, bagaimana kualitas tidur kita?

TANJUNGPINANG – KELESUAN adalah satu hal yang paling tampak dari raut wajah Andi. Pemuda 20 tahun ini baru duduk di sebuah kedai kopi. Tapi belum jenak lagi posisinya, sudah dirundung oleh teman-temannya semeja. “Baru mandi siap mandi jam segini?” kata satu dari tiga teman Andi. Yang lain coba ikut mengejek. Tapi Andi pilih tidak menanggapi. Ia lantas memesan secangkir kopi hitam, sedikit gula. Berharap kandungan kafein bisa lekas mendorong kesadaran dan kebugaran dalam seketika.

Andi mengucek mata dan membenarkan rambutnya. Ia melirik jam di tangan kirinya dan mendesis. “Udah jam dua aja,” gumamnya.

Temannya yang duduk tepat di sebelahnya menyikut. Lantas meluncur kalimat tajam yang ditujukan kepada Andi. “Memangnya kau tidur jam berapa? Jam segini baru bangun. Cepat mati nanti,” ucapnya.

Lagi. Andi diam. Emoh menanggapi. Perhatiannya sudah terpusat pada secangkir kopi hitam pesanannya yang baru tiba di meja.

Setelah seteguk dua, baru ia ingin menjawab pertanyaan atau ejekan yang sedari tadi dialamatkan padanya. Kepada teman-temannya yang sibuk menyuntuki gawai, Andi mulai bersuara, “Aku baru tidur jam setengah enam pagi. Tak bisa tidur semalaman,” ucap Andi.

Andi melanjutkan, bahwasanya sudah dalam seminggu terakhir, ia kesulitan memejamkan mata. Libur kuliah membuatnya tidak punya kewajiban bangun pagi dan buru-buru pergi ke kampus. Aktivitas yang senggang membuat tubuhnya serasa hilang kendali. Sehingga, ikut kacau pula jam tidurnya. Andi tak menampik, tengah malam sampai jelang pagi, yang dilakukan hanya main gim di gawai. Kalau sudah bosan, kadang menonton film di komputernya. Dan kebiasaan buruk semacam ini sudah dilakoninya seminggu terakhir.

“Wah kena insomnia ini. Lagi ada masalah?” seorang temannya meletakkan gawai dan mulai memberi perhatian pada Andi.

Andi menggeleng. Mahasiswa asal Batam ini mengaku ia sedang baik-baik saja. Uang sakunya masih ada. Tugas kuliah juga sedang tidak menumpuk.

“Masalah dengan Lulu?” timpal temannya.

Andi menyangkalnya. Ia seratus persen yakin tidak ada masalah apa pun dalam hidupnya yang membuatnya susah-payah memejamkan mata. Justru, satu-satunya masalah yang sedang Andi hadapi adalah memejamkan mata.

Kalau kantuk sudah susah datang, gaya hidup juga semakin amburadul. Andi mengaku, insomnia membuatnya semakin rutin makan malam di luar waktu. Belum lagi kebiasaan buruk semacam merokok yang kian banter sembari menanti kantuk tiba. Dan itu semua nyata-nyata tidak pernah membantunya dalam memejamkan mata.

Teman-temannya mulai menaruh simpati kepada Andi. Ada yang menyarankan agar Andi mulai rutin berolahraga agar lebih mudah mendapatkan kantuk di malam hari sebab badan yang sudah terlalu lelah. Andi menerima saran itu dengan senang hati. Ada yang menyampaikan agar Andi mulai mencoba tidak merokok atau makan berat setidaknya tiga jam sebelum tidur.

“Katanya, kalau perut terlalu penuh, malah jadi susah tidur. Belum lagi kandungan nikotin dalam rokok yang membuat mata semakin terjaga,” ujar kawannya.

Andi mafhum, begadang bukan kebiasaannya sejak lama. Ia mengaku paling telat sudah baring di kamar sebelum pukul 12 malam. Dengan harapan bisa terbangun pagi dan menyiapkan kebutuhan kuliahnya.

“Tapi libur kuliah ini malah bikin begadang, karena bangun tidak mau apa yang harus dikerjakan,” akunya.

Andi yakin seyakin-yakinnya, kebiasaan ini buruk jika tidak lekas diakhiri. Susah tidur di malam hari membuatnya lesu ketika terbangun tengah hari. Ia menarik napas panjang dan meraih gawainya. Di kolom pencarian, ia mencari tahu lebih lanjut perihal insomnia dan cara menangkalnya.

“Gawat ini kalau terus-terusan,” gumamnya.

Dari pelayaran di dunia maya, Andi jadi tahu setiap tahunnya ada sebuah perayaan Hari Tidur Sedunia. Ia bagikan temuannya ini kepada teman-temannya. Pada mulanya mereka tertawa. Tapi, setelah Andi menunjukkan validitas berita yang dibacanya, memang benar bahwasanya setiap tahun ada perayaan Hari Tidur Sedunia.

Apa yang terbaca oleh Andi dan teman-temannya di kedai kopi memang bukan hoaks. Itu sungguhan ada.

Sejak 2008 silam, World Association of Sleep Medicine (WASM) selalu memperingati Hari Tidur Sedunia setiap tahunnya. Hari ini diperingati untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya tidur dan segala hal yang berhubungan dengannya.

Salah satunya adalah mengenai eratnya hubungan jam tidur yang cukup dengan kesehatan mental manusia. Sayangnya, insomnia seperti yang baru-baru ini diidap Andi sering dianggap sepele oleh banyak orang.

Kesulitan tidur inipun memiliki banyak variasi. Mulai dari sulit terlelap pada malam hari, sering terbangun di tengah malam, hingga bangun terlalu pagi dan tak bisa kembali terlelap.

“Aku yang pertama tuh. Susah tidur kalau malam,” ucap Andi.

Insomnia sendiri selama ini dikaitkan dengan kelainan psikologis. Pada penelitian yang dilakukan oleh Harvard Health Publications, sebanyak dua dari tiga orang yang sakit secara mental mengalami gangguan tidur atau insomnia.

Kini, insomnia juga dinilai sebagai faktor yang memegang peranan penting dalam memicu timbulnya penyakit mental. Kekurangan tidur terbukti menunjukkan disfungsi saraf pada otak yang bisa memicu terjadinya kelainan saat memproses respons emosional dan menuntun pada depresi.

Sebanyak 40 persen orang dewasa yang mengalami insomnia memiliki gejala psikis yang mirip dengan penderita kelainan mental. Orang yang mengalami insomnia memiliki risiko tiga kali lebih tinggi untuk mengalami depresi.

“Bisa gila ini kau kalau makin parah insomnianya,” ledek kawan Andi.

Kekurangan tidur secara nyata mempengaruhi pekerjaan, kehidupan sosial, dan hubungan dengan keluarga. Kemampuan kamu dalam memecahkan masalah, kewaspadaan, penalaran, kemampuan mengingat, memaknai sesuatu, hingga mengemudi jadi menurun drastis.

Dan yang lebih parah, insomnia juga bisa memicu serangan jantung, stroke, dan diabetes. Sedangkan dari sisi kecantikan, kulit wajah bisa menjadi kusam, kantong mata membesar, dan berat badan bisa meningkat cukup signifikan.

Dunia dalam Survei Kualitas Tidur
Survei yang dilakukan di 13 negara mengamati apa yang membuat orang-orang tidak mendapatkan tidur yang berkualitas. Diperkirakan lebih dari 100 juta orang di seluruh dunia menderita sleep apnea (gangguan tidur), 80 persen di antaranya tetap tidak terdiagnosa, dan secara global 30 persen orang mengalami kesulitan untuk memulai tidur tanpa terjaga di malam hari.

Tidur yang baik sangat penting bagi kesehatan, tetapi hanya sepertiga dari orang dengan gangguan tidur yang mencari bantuan tenaga kesehatan profesional. Melalui kolaborasi dengan Richter, Philips ingin menekankan pentingnya tidur berkualitas bagi setiap orang di seluruh dunia.

Survei yang dilakukan secara daring pada bulan Februari oleh Harris Poll atas nama Philips ini, mengulas kebiasaan tidur lebih dari 15.000 orang dewasa di 13 negara (Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Polandia, Prancis, India, China, Australia, Kolombia, Argentina, Meksiko, Brasil dan Jepang), melihat lebih dekat bagaimana tidur diprioritaskan, ditangani, dan dipandang oleh populasi di negara tersebut. Temuan utama meliputi:

Tidur belum menjadi prioritas
Survei menemukan bahwa mayoritas orang dewasa secara global (67%) menganggap bahwa tidur berdampak penting bagi keseluruhan kesehatan mereka. Namun, ketika mereka diminta untuk memasukkan kebiasaan tidur sehat sebagai bagian gaya hidup hanya 29 persen yang merasa bersalah tidak menjaga kebiasaan tidur yang baik. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan keinginan mereka untuk berolahraga secara rutin – 3-4 kali dalam seminggu sebanyak 49% dan menjaga makan sehat sebanyak 42%.
Memiliki hambatan untuk tidur berkualitas

Enam atau lebih dari 10 orang dewasa (61%) di dunia memiliki beberapa jenis masalah medis yang memengaruhi tidur mereka. Sekitar seperempat orang dewasa melaporkan insomnia (26%) dan 1 dari 5 orang mendengkur (21%). Berbagai kekhawatiran membuat lebih dari setengah orang dewasa di dunia terjaga di malam hari dalam 3 bulan terakhir (58%), diikuti oleh distraksi dari teknologi (26%). Setelah tidur malam yang tidak berkualitas, mereka merasa lelah (46 persen), murung/mudah marah (41 persen), tidak termotivasi (39 persen), dan mengalami kesulitan berkonsentrasi (39%).

Sebagian orang mulai berupaya untuk mendapatkan tidur berkualitas
Secarara global, tiga perempat orang dewasa (77%) telah mencoba memperbaiki tidur mereka dengan cara tertentu. Secara kolektif, banyak yang beralih dengan mendengarkan musik yang menenangkan (36%) atau mengatur jadwal untuk tidur/ bangun mereka (32%). Namun, metode berbeda digunakan di tiap-tiap negara. Salah satu metode utama yang digunakan orang dewasa India adalah meditasi (45%), sementara salah satu metode teratas yang digunakan oleh orang dewasa Polandia dan Tiongkok adalah dengan meningkatkan kualitas udara mereka (33% dan 31%).

Milenial memiliki pandangan berbeda mengenai tidur
Dari keseluruhan hasil survei global, muncul satu kelompok kecil yang terdiri dari orang dewasa berusia 18-24 tahun. Meskipun cenderung tidak memiliki jam tidur yang teratur dibandingkan generasi lainnya (38% vs 47% berusia 25+), kelompok ini melaporkan bahwa secara rata-rata mereka lebih banyak tidur setiap malam dibandingkan kelompok usia lainnya (usia 18-24 rata-rata 7,2 jam, dibandingkan 6,9 jam pada kelompok usia 25+). Mereka juga cenderung merasa bersalah jika tidak secara teratur menjaga kebiasaan tidur yang baik dibandingkan dengan kelompok usia 35+ (35% vs 26%). Orang dewasa berusia 18-24 tahun juga lebih mungkin untuk mencoba memperbaiki tidur mereka dibandingkan dengan kelompok usia 25+ (86% vs 75%).

Lantas, untuk memperbaiki hasil klinis dalam terapi dan perawatan tidur, Philips mengumumkan pembukaan Sleep and Respiratory Education Center pertama di Asia Tenggara di kantor pusat regional, Philips APAC Center, di Singapura. Pusat pedidikan ini bertujuan untuk melatih para tenaga kesehatan profesional di seluruh wilayah Asia Pasifik untuk bisa mendiagnosis dan mengobati gangguan tidur dengan lebih baik.

“Tidur adalah landasan gaya hidup sehat. Seberapa baik dan berapa lama kita tidur setiap malam sebelumnya adalah variabel paling penting yang mempengaruhi perasaan kita pada hari berikutnya. Jadi, tidur yang tidak memadai bisa berdampak langsung pada kesehatan kita, tidak seperti olahraga atau diet,” tukas Dr. David White, Chief Medical Officer, Philips Sleep & Respiratory Care.(FATIH MUFTIH)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here