Perilaku LGBT Sebagai Patologi Sosial

0
5459
Miswanto

Oleh: Miswanto
Sosiolog Stisipol Raja Haji

Tentu semua masyarakat secara umum sudah sangat akrab dengan istilah LGBT yang merupakan singkatan dari Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender. Pertanyaan yang muncul dalam pikiran kita adalah apa yang membedakan antara pelaku LGBT dengan masyarakat pada umumnya, kita bisa mengenali dari beberapa karakteristik diantaranya dari tingkah lakunya, Ucapannya, cara berpakaian dan cara mereka berdandan, dari sini kita bisa membedakan secara kasap mata, mana yang masuk katagori pelaku LGBT dan mana yang bukan. Perilaku LGBT termasuk dalam patologi sosial. Merupakan gejala-gejala sosial yang dianggap sakit yang di sebabkan oleh beberapa faktor sosial. Patologi berasala dari bahasa Yunani yaitu Phatos yang berarti penderita atau penyakit.

Secara lengkap patologi sosial diartikan sebagai tingkah laku yang bertentangan dengan norma kebaikan, stabilitas lokal, pola kesederhanaan, moral, hak milik, solidaritas kekeluargaan, hidup rukun bertetangga, disiplin, kebaikan dan hukum formal. Disini saya tidakmembicarakan pada konteks penyakit seperti layaknya penyakit yang diderita oleh kebanyakan masyarakat, tapi lebih kepada perilaku-perilaku yang tidak wajar yang di derita oleh individu-individu yang mengalami guncangan dalam dirinya sehingga berakibat pada pertentangan pada norma-norma yang berlaku dalam masyarakat dan masyarakat akan menilai individu tersebut sebagai gejala abnormal.Yang di katakana orang sehat adalah orang yang tidak memiliki masalah, sehat secara fisik, jiwa, mental dan social, kemudian sehat secara spiritual dan produktif secara social dan ekonomi.

Baca Juga :  Indonesia Bukan Angola

Sangat jelaslah bahwa LGBT merupakan penyakit sosial dengan perilakunya yang menyimpang, seminimal mungkin kita mencoba menghadang perilaku-perilaku yang bertentangan dangan norma-norma dan agama yang ada di masyarakat. kalau kita melihat pelaku LGBT khususnya di kota tanjungpinang sangat signifikan, dari jumlahnya setiap tahunnya terus meningkat dari tahun 2015 terdapat 295 pelaku, sedangkan di tahun 2016 terdapat 750 pelaku LGBT, data ini berdasarkan penelitian yang pernah di lakukan pada tahun 2016 di kota Tanjungpinang.

LGBT merupakan fenomena sosial yang sangat menghawatirkan, dimana yang selayaknya manusia yang berakal dan berorientasi terhadap lawan jenisnya dan tidak berlaku bagi orang-orang yang termasuk dalam golongan LGBT. Mereka tidak lagi mengindahkan fitrah sebagai manusia yang normal. Tentu kita semua masih ingat pada tanggal 26 Juni 2015 dengan dilegalkannya pernikahan sejenis di amerika serikat, hamper disemua wilayah Membawa angina segar bagi kaum LGBT, tidak hanya di AS, tetapi hamper di semua Negara termasuk di Indonesia yang mengalami efek yang luar bias. Disinilah kaum LGBT untuk menunjukan eksistensinya kepada masyarakat umum termasuk di Indonesia. Kemudian respon dari masyarakat pun bermunculan, ada yang mendukung legalisasi secara sukarela dengan dalih bahwa kita hidup di zaman modern yang penuh dengan kebebasan, tidak kalah halnya dengan masyarakat yang menolak, dengan alasan tidak sesuai dengan norma yang berlaku di tengah-tengah masyarakat. Apapun alasan dan respon yang bermunculan, maka tidak ada toleran bagi orang-orang yang masuk dalam golongan LGBT, Karena secara norma dan nilai bertentangan dengan kaidah yang berlaku di tengah-tengah masyarakat.

Baca Juga :  Perlu Cara Inovatif Basmi Narkoba

Masalah sosial merupakan suatu kondisi yang dirumuskan atau dinyatakan oleh suatu entitas yang berpengaruh, yang mengancam nilai-nilai di tengah-tengah masyarakat dan kondisi seperti ini bisa ditanggulangi dengan melakukan kegiatan bersama. Jadi yang memutuskan bahwa sesuatu itu merupakan masalah sosial atau bukan adalah masyarakat yang kemudian disosialisasikan melalui suatu entitas.Dan tingkat keparahan sosial yang terjadi dapat diukur dengan membandingkan antara sesuatu yang ideal dan realitas yang terjadi.

Dalam UU kesehatan Jiwa No 18 Tahun 2014, disebutkan bahwa pelaku LGBT dikatakan sebagai ODMK yaitu orang dengan masalah kesehatan jiwa yang berarti bukan ada masalah terhadap jiwanya, tetapi jiwanya yang bermasalah. Sedangkan transeksual termasuk ODGJ yang merupakan singkatan dari orang dengan gangguan jiwa. Kalau kita cermati bahwa keduanya tidak terganggu jiwanya, tapi ada masalah dengan jiwanya yang berpotensi di bandingkan dengan orang yang normal.

Baca Juga :  Pemilu dan Perempuan

Pertanyaan yang paling sederhana adalah mengapa ada orang yang suka sejenis, kita bisa melihat dari beberapa faktor, Pertama karena faktor organis. Maksudnya adalah karena adanya kelainan hormone, tapi ini hanya sebatas teori dan sampai hari ini belum bisa ditemukan kebenarannya dan hanya sebatas dugaan. Keduafaktor edukatif maksudnya adalah kita tahu bahwa pendidikan pertama yang didapat anak adalah dari kedua orang tuanya yang akan mewarnai anak memiliki kecendrungan, jadi yang terjadi masalah adalah orientasi seksualnya bukan pada pada jenis kelaminnya.

contoh yang sering terjadi di lingkungan kita, ketika orang tua menginginkan anak laki-laki tetapi ketika lahir ternyata perempuan atau sebaliknya, kemudian orang tua terkadang memperagakan anaknya seperti laki-laki atau seperti anak perempuan, disinalah sesungguhnya permasalahnya ketika orang tua mengacukan identitas anaknya sendiri. Sulusinya adalah perlu adanya imunisasi jiwa dalam setiap diri anak-anak dan imunisasi jiwa harus di tanamkan pertama kali di dalam keluarga. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here