Perkokoh Ukhuwah

0
991
Muhammad Idris DM.

Oleh: Muhammad Idris DM
Dosen tetap PSN UMRAH Tanjungpinang, dan Dosen di berbagai Perguruan Tinggi lainnya

Manusia salah satu makhluk ciptaan Allah SWT yang paling mulia, manusia sebagai makhluk sosial yang tidak mampu hidup tanpa bantuan orang lain. Islam agama sebagai rahmatan lil’alamin yang sudah menjadi suatu keharusan bagi setiap muslin untuk menjaga hubungan baik antara satu dengan yang lainnya, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, maupun dengan bangsa dan Negara, bahkan dengan makhluk lainnya.

Dalam ajaran Islam status manusia itu sama di hadapan Allah SWT, yang membedakan hanyalah tingkat ketaqwaan seseorang kepada Khaliq yang Maha Pencipta Allah SWT, Islam melarang besifat individualis, tetapi selalu menyuruh umatnya agar senantiasa menjalin hubungan kepada sesamanya umat manusia, dalam agama dikenal dengan istilah ukhuwah. Ukhuwah berarti persaudaraan yang merupakan salah satu konsepsi Islam yang menyatakan bahwa setiap Muslim dengan Muslim lainnya pada hakikatnya bersaudara. Sebagai sabda Rasulullah SAW, yang artinya “Orang muslim adalah bersaudara sama muslim lainnya, ia tidak akan menganiayanya dan tidak akan menyerahkannya kepada musuh. Barang siapa ada didalam keperluan saudaranya maka Allah ada didalam keperluannya. Barangsiapa menghilangkan suatu kesukaran dari orang muslim, maka Allaah akan menghilangkan satu kesukaran-kesukaran yang ada pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim, maka Allaah akan menutupu (aibnya) pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Baca Juga :  Membangun Kekuatan Statistik Sektoral

Oleh karena itu istilah Ukhuwah Islamiyah merupakan kekuatan iman dan spiritual yang dikaruniakan Allah SWT kepada hamba-Nya yang beriman dan bertakwa yang menumbuhkan perasaan kasih sayang, persaudaraan, kemuliaan, dan rasa saling percaya terhadap saudara seiman seaqidah. Sebagai umat Islam, tentu senantiasa menanamkan rasa ukhwah Islamiyah, menyambung hubungan Silaturahmi, hidup rukun baik dengan tetangga maupun masyarakat, senantiasa timbul sikap saling tolong-menolong, saling pengertian mengadakan tolong menolong bantu-membantu, antara satu dengan yang lainnya dalam kebaikan, saling ingat-mengingatkan dalam kebaikan, saling tegur sapa atau nasehat menasehati dalam berbuat kebaikan dan mencegah perbuatan keci dan kemungkaran.

Ukhuwah Islamiyah menjadikan spirit baru dalam kehidupan beragama, sehingga agama menjadikan suasana yang menyejukkan, dilarang menebar  kebencian, dilarang berlaku curang yang dapat merugilkan orang lain, dilarang menzhalimi orang lain, bahkan dilarang untuk saling jauh menjauhi, dengki mendengki, irihati dan benci membenci sehingga menimbulkan lemahnya persaudaraan dan kesatuan. Dalam hal ini Rasulullah SAW mensinyalir dalam sabdanya, yang artinya: “Janganlah kamu saling bermarah-marahan, dengki mendengki, saling berpaling muka dan bercerai berai; tapi jadilah kamu sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara; dan tidak diperbolehkan bagi orang muslim tidak bertegur sapa dengan saudaranya (sahabatnya atau kawannya) lebih dari tiga hari.” (HR. Bukhari)”

Hidup rukun menciptakan gaya hidup yang Islami, menciptakan persatuan dan kesatuan, memperkokoh Ukhwah Islamiyah, menciptakan perdamaian menghilangkan permusuhan. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Hujurat ayat 10, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (AQS. Al-Hujurat : 10)
Dalam kehidupan yang rukun akan memelihara persatuan dan kesatuan serta mampu membentuk persaudaraan yang kokoh yang akan tercipta kebersamaan, keselarasan dan kemaslahatan hidup itu sendiri, karena salah satu kunci keberhasilan adalah saling memberi bantuan, tolong menolong dalam kebaikan antara sesama kita.
Kerukunan hidup umat beragama tidak dilarang bahkan rukunnya hidup umat beragama dapat menciptakan hidup tenang dan damai. Tapi kerukunan hidup antara umat beragama perlu menjaga jangan sampai mencampur adukkan aqidah dan keyakinan kita kepada Allah SWT dengan aqidah lain, menjaga aqidah kita jangan sampai dipengaruhi dengan ajaran-ajaran agama lain, ajaran yang bertentangan dengan ketentuan-ketentuan agama masing-masing.
Perlu dan pentingnya hidup rukun baik bertetangga maupun bermasyarakat agar dapat tercipta hubungan persaudaraan membina ukhwah dan menyambung silaturrahmi. Rasulullah SAW bersabda, yang artinya : “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat hendaklah ia menghubungkan kasihsayang (silaturrahim) dengan saudaranya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jika sebaliknya apabila memutuskan hubungan persaudaraan atau tidak menyambung silaturahm, maka Allah tidak mau melihatnya dihari kemudian. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, yang artinya : “Ada dua orang yang Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat (karena kemurkaan-Nya) pertama orang yang memutuskan hubungan persaudaraan. Kedua orang yang menyakiti hati tetangganya (orang yang menjauhi tetangganya)” (Al-Hadits)
Oleh karena itu kita bina kerukunan, kita bina persaudaraan, kita bina perdamaian, karena perdamaian itu termasuk tujuan Islam, damai kepada Allah dalam artian mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, damai dengan sesama manusia dan damai dengan sesama ciptaan Allah SWT, dan damai kepada diri kita sendiri akan tecipta kemaslahatan.
Ajaran dan aturan-aturan yang ada dalam ajaran Islam membimbing kearah terciptanya perdamaian, bahkan membela diri sendiri juga termasuk usaha mempertahankan kedamaian dan kemaslahatan.
Karena salah satu ciri orang beriman ialah adanya rasa kasih sayang sesama hamba Allah sebagaimana sabda Nabi  SAW, yang artinya : “Tidak beriman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai diri sendiri” (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca Juga :  Menakar Waktu yang Terbuang karena Game Online

Berarti mengindikasikan bahwa ukhwah Islamiyah merupakan salah satu parameter utama keimanan, ketaqwaan dan ke-Ismanan seseorang. Karena ukhuwah merpakan salah satu dari tiga unsur kekuatan yang menjadi karakteristik masyarakat Islam pada zaman Rasulullah SAW, yaitu: pertama, kekuatan iman dan aqidah. kedua kekutan ukhwah dan kekuatan hati. dan ketiga, kekuatan kepemimpinan. Semoga bermanfaat … menjadi amal jariyah. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here