Perkuat Maritim, Pendaratan Pesawat Amfibi Dikaji

0
324
Ir Tri Musa Yudha

TANJUNGPINANG – Untuk memperkuat kemaritiman di Kepri, tahun 2018 nanti, Dinas Perhubungan (Dishub) Pemprov Kepri akan melakukan studi kelayakan atau Feasibility Study (FS) titik pendaratan pesawat amfibi di Kepri.

Adapun tujuan studi kelayakan ini untuk menyediakan data awal pengembangan transportasi di seluruh wilayah Kepri yang bisa disinggapi pesawat-pesawat amfibi. Harapannya ke depan, kemaritiman Kepri makin kuat dari segi transportasi. Kabid Angkutan dan Perhubungan Dishub Kepri, Tri Musa Yudha mengatakan, hasil dari studi kelayakan ini menjadi modal Kepri apabila investor atau swasta membuka bisnis penerbangan pesawat amfibi di Kepri.

Si investor tak perlu lagi mengeluarkan biaya besar untuk melakukan studi apabila ingin berinvestasi di Kepri. Ini salah satu kemudahan yang diberikan Pemprov Kepri kepada investor yang ingin investasi di Kepri.

Studi kelayakan nanti lebih kepada meneliti titik pendaratan yang nyaman bagi pesawat amfibi. Sehingga penerbangan dan pendaratan lebih aman.

Misalnya yang akan diteliti, mana kawasan sibuk, mana kawasan yang gelombang tinggi, kawasan tangkapan ikan nelayan dan lainnya. Terlebih pulau atau pantai yang potensial dikembangkan dan memiliki nilai wisata yang tinggi.

”Kalau mendarat bisa dimana aja. Di tengah laut pun bisa. Namun dari keselamatan penerbangan, itu paling penting. Data-data ini diperlukan calon investor dan akan kita siapkan,” ujar Tri Musa pekan lalu kepada Tanjungpinang Pos di Batu 5 Atas.

Untuk Kepri, kata dia, pesawat amfibi sangat cocok dikembangkan. Sebab, tak semua pulau-pulau kecil terjangkau pesawat dan kapal laut. Sedangkan amfibi bisa menjangkaunya.

Di daerah lain di Indonesia maupun sejumlah negara kepulauan di dunia, pesawat amfibi menjadi alternatif pengembangan wisata, pengangkutan barang, sembako dan penumpang.

Ia mencontohkan, di daerah Kalimantan, amfibi malah masuk menelusuri sungai-sungai sampai ke perkampungan penduduk. Amfibi dipakai membawa barang ke perkampungan dan pulang membawa hasil tani dari kampung itu.

Di daerah Kupang, amfibi malah sudah komersil membawa penumpang umum maupun turis. Kepri ke depan akan dilayani amfibi terlebih bagi turis yang ingin menikmati penorama Kepri dari satu pulau ke pulau lainnya.

Pesawat amfibi, kata dia, banyak kelebihan. Tidak perlu membangun bandara di tempat tujuan. Bisa menggunakan pelabuhan yang ada sebagai tempat menurunkan penumpang.

Pesawat ini juga bisa mendarat di daerah pulau yang hanya memiliki pelantar saja. Yang penting, ada tiang kokoh untuk mengikat tali pesawat. Singgah di pulau yang tak memiliki pelabuhan atau pelantar pun bisa asalkan memiliki pantai yang landai.

Pesawat ini bisa juga melayani penumpang dari bandara dan mendarat di laut. Terbang lebih rendah dan bisa membuat penumpangnya menikmati panorama sepanjang penerbangan.

Kepri memiliki banyak pulau kecil dan berpenghuni. Namun, pemerintah tidak mungkin membangun bandara atau pelabuhan di setiap pulau berpenghuni, pesawat amfibi merupakan jawaban atas semua kesulitan ini karena bisa mendarat dimana-mana.

Untuk membangun satu bandara butuh ratusan miliar serta waktu pembangunan yang cukup lama. Membangun satu bandara bisa menghabiskan Rp 400 miliar hingga Rp 500 miliar dan waktu pembangunan 4-5 lima tahun.

Karena itu, langkah strategis untuk mempermudah konektivas di Kepri, selain memperkuat transportasi pelabuhan dan udara, kehadiran pesawat amfibi akan sangat membantu.

”Pesawat amfibi bisa dioperasikan dimana saja tanpa tergantung harus ada bandara dan bisa landing di area pelabuhan atau pun pantai. Dengan memanfaatkan kondisi pulau-pulau seperti apa adanya, maka kelestarian alam Kepri akan terjaga dan keadaan pulau-pulau benar-benar alami,” tambahnya.

Pesawat sea plane ini, kata dia, sangat praktis. Apabila landing di pelabuhan yang ada, dapat langsung ditambatkan seperti halnya feri atau speedboat. Kalau landing di pantai, cukup menjatuhkan jangkar.

Karena keunikannya ini, sea plane dapat juga sebagai penyelamat apabila ada kecelakaan di tengah laut yang membutuhkan kecepatan membawa korban ke daratan. Ia pun mengajak semua pihak untuk mengerahkan tenaga dan pikiran membantu mensejahterakan masyarakat, pemerataan pembangunan dan memperkuat NKRI dengan mengkombinasikan transportasi berkelanjutan (sustainable transportation).

Amfibi akan memudahkan pulau-pulau terangkai terutama pulau kecil yang tidak mungkin dibangun bandara. Sea plane menjadi jawaban transportasi cepat ke ribuan pulau kecil indah di Kepri.

Saat ini, semua kabupaten/kota di Kepri sudah dibangun bandara. Namun tidak menjangkau semua pulau. Sebab, ribuan pulau berpenghuni di Kepri dan mustahil membangun bandara di sana.

Karena, amfibi menjadi alternatif yang ditawarkan sebagai alat transportasi pulau-pulau sekaligus memperkenalkan potensi keindahan alam Kepri. (mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here