Perlu Hijrah Rohaniah

0
407
Muhammad Idris DM.

Oleh: Muhammad Idris DM.
Dekan Fakultas Ekonomi UMRAH,
dan Dosen di Berbagai Perguruan Tinggi

Kita kenang kembali peristiwa lima belas abad silam, telah terjadi suatu peristiwa yang sangat bersejarah di Tanah Arab, yaitu peritiwa hijrahnya Rasulullah saw. bersama pada sahabatnya dari kota Makkah ke Madinah. Mengapa Rasulullah saw. melaksanakan hijrah dari Makkah ke Madinah, karena tantangan yang dihadapi oleh Rasulullah saw. ketika itu sangat berat, ketika beliau melaksanakan dakwahnya atau penyiaran Islam, tantangan yang dihadapi itu sampai-sampai mengancam nyawa dan kehidupan Rasulullah saw.

Dalam peristiwa hijrah itu telah mampu membawa perubahan yang amat besar bagi perjuangan umat Islam. Karena di Kota madinahlah pengikut Rasulullah saw bertambah besar, kemudian Rasulullah memdirikan Negara Islam dan Madinah sebagai Ibu Kotanya dan Rasulullah sendiri yang langsung sebagai Kepala Negaranya.

Pada saat itu Rasulullah mengadakan perjanjian dengan golongan non muslim yang ada di Madinah, yaitu suatu perjanjian yang menjamin seluruh hak masyarakat kota Madinah dan sekitarnya. Perjanjian tersebut sekarang dikenal dengan nama Piagam Madinah.

Di kota Madinah itulah Rasulullah berhasil memperluas perjuangannya menyiarkan Islam secara luas dan terang-terangan, hingga keseluruh Jazirah Arab dan dipersatukan dibawah pemerintahan secara Islam. Bahkan sepeninggalan Rasulullah dalam jarak waktu tidak terlalu lama kurang dari lima puluh tahun Islam menjadi negara adi daya, sehingga wilayah Islam membentang panjang dari India hingga Magribi dan Sepanyol serta melebar dari Kaukakus hingga Aprika Tengah.

Peristiwa hijrah yang sangat bersejarah itu diabadikan oleh khalifah Umar bin khattab dengan dijadikan sebagai awal perhitungan tahun baru Islam yaitu tanggal 1 Muharram. tahun baru Islam juga dikenal dengan tahun baru Hijriah.

Hijrah Rohaniyah
Setelah Rasulullah saw melaksanakan hijrah dari kota Makkah ke Mdinan, maka Rasulullah saw bersabda yang Artinya: “Tidak ada lagi hijrah setelah menalukkan kota Makkah.” (HR. Bukhari)

Hijrah yang dimaksud oleh Rasulullah saw itu ialah hijrah dalam artian hijrah fisik, yakni perpindahan dari suatu wilayah kewilayah atau daerah lain, seperti saat umat Islam harus hijrah dari kota Makkah ke Etopia (Habasyah) serta dari kota Makkah ke Madinah.

Rasulullah saw menegaskan bahwa hijrah yang ada setelah kota Makkah ditaklukkan adalah hijrah dalam artian hijrah Rohaniyah antara lain yaitu: Hijrah dari kekufuran kepada keimanan; Hijrah dari kemusyrikan kepada ketauhidan (mengEsakan Allah, menyembah hanya kepada Allah, tidak ada Tuahan selain Allah); Hijrah dari amalan yang buruk kepada amalan yang baik; Hijrah dari perbuatan keji kepada perbuatan baik yang diridhahi Allah SWT; Hijrah dari kemungkaran kepada kema’rufan; Hijrah dari kekufuran kepada ketaatan menjalankan ajaran Islam; Hijrah dari kefakiran/kemiskinan menuju kesejahtraan yang berkecukupan; Hijrah dari ketidak pandaian (kebodohan) menuju kepandaian, kepintaran, kecerdasan; Hijrah dari berbagai kerisis kehidupan menuju kepada kehidupan yang mantap dan dinamis; dan banyak lagi hijrah-hijrah rohaniyah lainnya.

Oleh karena itu untuk mecapai kebaikan dan kebahagiaan yang mantap perlu hijrah rohaniah atau hijrah amaliah, karena hal ini sangat penting dalam kehidupan kita. Sesuai dengan sabda Rasulullah saw yang Artinya: “Orang yang berhijrah itu ialah orang yang meninggalkan segala apa yang dilarang oleh Allah dan rasul-Nya.” (HR. Ahmad)

Dalam Hadits yang lain Rasulullah saw juga menelaskan yang artinya “Orang yang berhijrah itu ialah orang yang meninggalkan segala apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.”

Sabdanya Rasulullah saw yang lain, yang artinya: “Orang yang berhijrah (al-Muhajir) itu ialah orang yang meninggalkan segala kejahatan, sedang orang yang jihad (al-Mujahid) ialah orang yang perang melawan hawa nafsunya.”

Allah SWT berfirman Dalam al-Qur’an surah an-Nisa ayat 100 yang artinya : “Barang siapa yang berhijrah dijalan Allah, niscaya mereka mendapati dimuka bumi tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasulnya kemudian kematian yang menimpah dirinya sebelum samapai ketempat yang dimaksud, maka sungguh telah tetap pahalanya disis Allah, dan adalah Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (AQS. An-Nisa- : 100)

hijrah lebih luas.
Perlu dipahami makna hijrah dalam konteks yang lebih luas. Makna hijrah dapat diimplementasikan dalam berbagai konteks kehidupan, hijrah bermakna perpindahan atau perubahan dari satu situasi kepada situasi lain yang lebih baik, hijrah juga dapat bermakna perubahan dari satu perilaku menuju perilaku yang lebih baik.

Hijrah juga dapat terjadi pada tingkat yang lebih tinggi, yaitu dari satu sistem ke sistem yang lebih baik. hijrah bermakna perpindahan atau perubahan dari satu situasi kepada situasi lain yang lebih baik dan bermanfaat. hijrah juga dapat bermakna perubahan dari satu perilaku menuju perilaku yang lebih baik. Oleh karena itu pada saat ini umat Islam saat ini perlu melakukan perpindahan situasi dari masyarakat yang lebih menjadi umat yang lebih

Hijrah Berharga
Hijrah Rasulullah merpakan peristiwa yang sangat berharga dan memberi pelajaran kepada kita bahwa betapa pentingnya hijrah bagi orang yang ingin memcapai kebehasilan dan kesuksesan serta kebahagiaan dunia dan akhirat dan memperoleh derajat yang tinggi disisi Allah SWT. Hal ini sesuai dengan Firman-Nya dalam al-Qur’an : yang Artinya “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (AQS. At-Taubah/9 : 20)

Oleh karena itu, pentingnya hijrah agar tidak hanya dilakukan pada momen-momen tertentu saja, bahkan hijrah di masa sekarang harus dilakukan secara kontinyu. Ketika merasa ada penurunan dalam diru baik dari segi keimanan seorang Muslim maka perlu berhijrah untuk memperbaiki diri yang lebih baik.

Sebagai seorang Muslim harus bersikap profesional. Hijrah menjadi momen untuk selalu meningkatkan profesionalisme Muslim, baik dalam beribadah maupun bekerja. “Kita harus terus memperbaiki (improve) diri untuk bisa melakukan kebaikan, yang dapat memberi manpaat kepada diri dan ornga atau masyarakat.

Demikian, semoga berkah dan bermanfaat, menjadi amal jariyah. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here