Perpindahan Penyiaran Analog ke Digital

0
66
MUKHAMAD ROFIK

Kepri Harus Kejar Ketertinggalan dari Singapura dan Malaysia

Oleh: Mukhamad Rofik
Komisioner/Koordinator Bidang Pengawasan Isi Siaran Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Kepri Mahasiswa Pascasarjana Magister Administrasi Publik Universitas Terbuka UPBJJ Batam

rovinsi Kepulauan Riau (Kepri) yang saat ini masih memberlakukan penyiaran televisi (TV) secara analog harus segera mengejar ketertinggalan dengan negara tetangga Singapura yang telah memberlakukan penyiaran digital sejak tahun 2004, dan akan melakukan pemadaman total siaran analog/analog switch off (ASO) pada 31 Desember nanti.
Sedangkan Malaysia, juga telah memberlakukan siaran digital sejak 2007, menargetkan pemadaman total siaran analog/analog switch off (ASO) pada 31 Maret tahun depan (2019).
Bahkan, lebih dari 85 persen wilayah dunia sudah mulai mengimplementasikan televisi digital. Amerika Serikat telah menerapkan televisi digital sejak Juni 2009, Jepang pada Juli 2011, Korea Selatan 2012. China dan Inggris Raya juga 2012. Sementara Brunei Darussalam 2014, Thailand dan Filipina 2015.
Geneva Agreement (GE06) tahun 2006 adalah perjanjian internasional yang mengatur tentang periode transisi dan rencana frekuensi untuk digital bagi negara di Region I (Eropa, Afrika dan Timur Tengah) ditambah “hanya” Iran di Region III (total 120 negara), menetapkan batasan pemadaman total siaran analog/ASO pada Juni 2015.
Bagi negara di Region lain (Indonesia di Region III), pada GE06 masih memberikan kesempatan bagi siaran analog untuk bersiaran dengan prasyarat. Ketentuan ini diatur dalam keputusan GE06 berikut: At the end of the transition period, countries may continue to operate analogue broadcasting stations provided that these stations: do not cause unacceptable interference; do not claim protection.

Apakah Penyiaran TV Analog dan Dgital Itu?
Sistem penyiaran TV analog adalah siaran dilakukan dengan cara merekam gambar dan suara, lalu mengubahnya menjadi gelombang, kemudian gelombang ini dipancarkan oleh stasiun televisi. Jenis gelombang yang dipancarkan stasiun televisi adalah VHF/UHF. Gelombang ini dipancarkan terus-menerus setiap detik, Jika dalam satu detik dipancarkan gelombang sebanyak sepuluh kali, maka kecepatan gelombangnya 10 Hertz.
Sistem penyiaran televisi digital/digital TV (DTV) adalah jenis siaran TV yang menggunakan modulasi digital dan sistem kompresi untuk menyiarkan sinyal gambar, suara, dan data ke pesawat televisi secara gratis/free to air (FTA). TV digital memiliki peralatan suara dan gambar berformat digital.TV digital ditunjang oleh teknologi penerima yang mampu beradaptasi sesuai dengan lingkungannya. Gambarnya jernih sepeti TV kabel, atau TV satelit namun gratis/tidak berbayar.
Perbandingan lebar pita frekuensi yang digunakan teknologi analog dengan teknologi digital adalah 1 : 6. Jadi, bila teknologi analog memerlukan lebar pita 8 MHz untuk satu kanal transmisi, teknologi digital dengan lebar pita yang sama (menggunakan teknik multipleks) dapat memancarkan sebanyak 6 hingga 12 kanal transmisi sekaligus untuk program yang berbeda. Semua standar sistem pemancar TV digital berbasiskan OFDM dengan teknik pengkodean MPEG2/MPEG4.

Kelebihan Penyiaran Digital
Dengan siaran digital, kualitas gambar dan suara yang diterima pemirsa jauh lebih baik dibandingkan siaran analog, dimana tidak ada lagi gambar yang berbayang atau segala bentuk noise pada monitor televisi. Pada era digital, penonton televisi tidak hanya menonton televisi namun bisa mendapat berbagai fasilitas dan kemudahan seperti akses data, e-banking, e-ticketing, e-shopping serta berbagai kebutuhan penonton lainnya. Sehingga bisa dilakukan lewat satu sistem. Serta dilengkapi dengan early warning system/peringatan ketika terjadi bencana seperti gempa bumi.

Digital Divident/Frekuensi Tersisa
Dengan migrasi seluruh kegiatan penyiaran ke digital akan ada frekuensi yang tersisa (digital deviden). Frekuensi kosong ini bisa dimanfaatkan untuk keperluan yang lebih penting, seperti peringatan dini kebencanaan/gempa misalnya.
Tapi yang lebih mendesak, spektrum kosong ini bisa dimanfaatkan untuk kepentingan broadband sehingga industri telekomunikasi seluler bisa berkembang/menambah operator telepon seluler. Saat ini, perkembangan broadband terhambat karena sudah kehabisan slot frekuensi.
Keuntungan lainnya adalah sinyal pada gelombang ini mampu menembus tembok dan kondisi saling pandang (Line of Sight/LOS) tidak diharuskan. Sehingga wilayah-wilayah yang berada di daerah bayangan (shadowed regions) ataupun lokasi di dalam gedung (indoor) bisa tersuplai dengan baik.
Migrasi siaran analog ke digital juga memungkinkan peningkatan produk domestik bruto (GDP) sampai Rp387,4 triliun, atau US$29,8 miliar per tahun, selain terwujudnya kualitas siaran yang lebih baik, pembukaan lapangan kerja baru dan ekosistem bisnis penyiaran yang lebih beragam.

Perselisihan Kepri Dengan Singapura dan Malaysia Teratasi
Beberapa tahun terakhir, penggunaan frekuensi radio penyiaran di sejumlah lokasi di Kepri menyebabkan interferensi dan perselisihan dengan Malaysia dan Singapura.
Atas pertimbangan untuk mengatasi perselisihan penggunaan frekuensi dengan Singapura dan Malaysia tersebut, kiranya Kepri perlu didahulukan dari provinsi lain, untuk segera migrasi ke digital. Dengan migrasi ke digital perselisihan interferensi frekuensi diharapkan teratasi.
Belum lagi Singapura dan Malaysia juga komplain keterlambatan migrasi penyiaran digital di Kepri, karena dengan penyiaran di Kepri tetap analog, mengganggu sistem penyiaran mereka yang menuju pemadaman analog/ASO/digital switch over (DSO)
Kelambanan Kepri melakukan migrasi ini juga membebani Malaysia dan Singapura yang telah melakukan migrasi. Karena dua negara tadi kesulitan untuk menyesuaikan frekuensi untuk daerah perbatasan. Bagi Kepri migrasi ke digital ini juga dapat menuntaskan persoalan luberan siaran asing dari negara-negara tetangga.

Frekuensi TV Digital
Secara teknis, pita spektrum frekuensi radio yang digunakan untuk televisi analog dapat digunakan untuk penyiaran televisi digital. Perbandingan lebar pita frekuensi yang digunakan teknologi analog dengan teknologi digital adalah 1 : 6. Jadi, bila teknologi analog memerlukan lebar pita 8 MHz untuk satu kanal transmisi, teknologi digital dengan lebar pita yang sama (menggunakan teknik multipleks) dapat memancarkan sebanyak 6 hingga 8 kanal transmisi sekaligus untuk program yang berbeda.
Satu kanal yang semula hanya bisa untuk menyiarkan satu program TV analog, dengan teknologi digital bisa untuk menyiarkan 12 program sekaligus. Jadi kalau ada 40 kanal yang tersedia, maka dengan teknologi digital bisa untuk menyiarkan 480 program yang berbeda secara bersama-sama.
TV digital ditunjang oleh teknologi penerima yang mampu beradaptasi sesuai dengan lingkungannya. Sinyal digital dapat ditangkap dari sejumlah pemancar yang membentuk jaringan berfrekuensi sama sehingga daerah cakupan TV digital dapat diperluas. TV digital memiliki peralatan suara dan gambar berformat digital seperti yang digunakan kamera video.

Antena dan Perangkat Penerimaan
Untuk dapat menangkap siaran digital pemirsa tidak perlu membeli antenna baru, cukup dengan antenna lama, hanya saja perlu menambah alat penerima untuk men-decode siaran tersebut. Alat atau decoder penerimaan siaran digital tersebut disebut dengan Set Top Box (STB). STB bentuknya seperti booster, adalah sebuah perangkat yang mengkonversi sinyal digital kembali ke analog, sehingga kita dapat menyaksikan TV free-to-air/gratis siaran digital pada perangkat TV analog yang umumnya kita miliki (TV kita belum TV digital pada umumnya).

Kendala Implementasi Penyiaran Digital
Masa depan penyelenggaraan sistem penyiaran digital setidaknya ditentukan oleh payung hukum berupa Revisi UU Penyiaran (saat ini yang berlaku UU No.32 Tahun 2002 tentang Penyiaran) yang belum selesai dibahas di DPR RI.
Revisi Undang-undang Penyiaran seharusnya menempatkan pengaturan sistem digital dengan mengutamakan kepentingan masyarakat dibandingkan kepentingan pemilik modal. Jika kepentingan segelintir pihak yang diutamakan maka akan menjadi sangat rawan karena bisa disalahgunakan untuk kepentingan lain misalnya kepentingan ekonomi dan politik.
UU No 32 tahun 2002 tentang penyiaran yang berlaku saat ini belum mengatur bagaimana sistem penyiaran digital diberlakukan.

Rekomendasi KPI Dalam Mendorong Migrasi Penyiaran Digital di Kepri
Pada 6 November lalu Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat menggelar workshop penyiaran perbatasan di Batam dengan tema “Evaluasi Penyiaran Digital di Daerah Perbatasan dan Rencana untuk Replikasi”, menghasilkan beberapa rekomendasi, yaitu:
1. Multiplekser/mux TVRI sudah tersedia termasuk di kawasan perbatasan antara negara dan daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar), siap digunakan untuk menyalurkan program siaran yang dimiliki Lembaga Penyiaran.
2. Kominfo, KPI, TVRI, dan Lembaga Penyiaran berkomitmen melanjutkan dan memperluas uji coba siaran TV digital dengan mux TVRI di kawasan perbatasan dan daerah 3 T.
3. Lembaga Penyiaran berkomitmen mengupayakan keseimbangan kebutuhan program siaran masyarakat kawasan perbatasan antar negara dan daerah 3T dengan program siaran yang disiarkannya.
4. Menuju Analog Switch Off (ASO) di daerah perbatasan dalam waktu yang secepat-cepatnya oleh Lembaga Penyiaran yang sudah memiliki IPP (Izin Penyelenggaraan Penyiaran).

Mengingat urgensinya perpindahan/migrasi penyiaran dari analog ke digital di Kepri, semua pihak mulai dari masyarakat, mahasiswa, kampus-kampus, Lembaga Penyiaran, Kementerian Komunikasi dan Informatika, KPI/KPID, serta Pemerintah Daerah hendaklah bersama-sama mendorong agar RUU Penyiaran yang saat ini posisinya di Badan Legislatif DPR RI agar segera disahkan, sehingga migrasi dari penyiaran analog ke digital dapat segera dilaksanakan.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here