Perpusnas Gelar Bimtek Strategi Pengembangan dan TIK

0
157
Peserta Bimtek di Hotel Aston

TANJUNGPINANG – Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia mengadakan Bimbingan Teknis (Bimtek) mengenai Strategi Pengembangan Perpustakaan dan Teknologi Komunikasi dan Informatika (TIK) untuk Layanan Perpustakaan Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial.

Kegiatan dilaksanakan di Hotel Aston Tanjungpinang, lima hari. Dimulai hari ini, Senin (17/6) hingga Jumat (21/6) mendatang.

Diikuti 28 peserta, terdiri dari empat peserta dari Provinsi Kepri, 12 orang dari Kabupaten Bintan dan 12 orang dari Kabupaten Karimun.

Acara dibuka Kepala Dinas Perpustakaan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) Amir Husin dan Dedi Junaedi, Pustakawan Ahli Utama Perpusnas Republik Indonesia.

Dedi Junaedi, mengatakan tujuan Bimtek menciptakan pembelajaran sepanjang hayat. Selain itu, perpustakaan juga berfungsi sebagai tempat belajar masyarakat, wahana dalam mencari informasi.

Serta rekreasi yang tidak hanya mencerdaskan namun juga memberdayakan masyarakat sehingga memberikan manfaat dan berdampak langsung pada peningkatan kualitas dan taraf hidupnya.

Kemudian, memberi pelatihan kepada pihak pemerintah provinsi dan kabupaten penerima manfaat program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial.

Dedi menjelaskan, berdasarkan Undang-Undang No.43 tahun 2007, peran perpustakaan sangat penting di dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Dalam peraturan perundangan secara tegas dijelaskan bahwa masyarakat memiliki hak dalam memperoleh layanan dan mendayagunakan fasilitas perpustakaan.

Ia menuturkan, hal ini juga berlaku bagi penyandang disabilitas, dengan keterbatasan fisik maupun sosial serta masyarakat yang terisolasi dan terpencil.

Pemerintah berkewajiban untuk menggalakkan promosi gemar membaca dengan memanfaatkan fasilitas perpustakaan.

“Bila masyarakat sudah menyadari dan merasakan secara langsung manfaat layanan perpustakaan bagi kehidupannya, maka dengan sendirinya tingkat kegemaran membaca akan meningkat,” ujarnya.

Sambung dia, tingkat pemberdayaan perpustakaan yang tinggi merupakan wujud dari kemampuan literasi masyarakat suatu negara. Dalam memberikan layanan kepada pemustaka, pemerintah wajib menyesuaikan dengan kemajuan teknologi informasi yang terjadi saat ini.

Untuk meningkatkan kualitas layanan, perpustakaan dapat melakukan kerja sama dengan berbagai pihak, seperti masyarakat dan swasta. Peran serta masyarakat bisa dalam pembentukan, pengelolaan, penyelenggaraan, pengembangan dan pengawasan.

Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial menitikberatkan pada peningkatan kapasitas pengelola perpustakaan dan masyarakat agar dalam memberikan layanan perpustakaan mampu memahami kebutuhan masyarakat.

Kemudian, memberikan inovasi layanan dengan melibatkan keterlibatan masyarakat dan membangun kerjasama dengan berbagai pihak untuk mewujudkan layanan perpustakaan yang sesuai kebutuhan masyarakat.(bas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here