Pertalite dan Pertamax Jadi Pilihan

0
692
Pengendara roda dua yang sedang mengantri di Dispenser Paertalite

Ketika mindset pengendara berubah

Meski menggunakan motor butut (keluaran tahun lama), namun tetap p‎ercaya diri mengantri di dispenser Pertalite atau Pertamax. Ini soal kenyamanan pada kendaraan.

Batam – Erianto, salah satu pengendara motor, warga Tanjungpiayu, Sei Beduk yang bekerja di industri galangan kapal atau shipyard di Batuampar, Batam.

Setiap pagi dia harus berangkat kerja dan pulang dengan motor Legenda 2, produksi tahun 2002.

Motor itu sudah menjadi bagian dari kesehariannya sekitar 15 tahun belakangan ini, sejak dibelinya tahun 2003.

Saat ditemui, Erianto baru keluar dari barisan antrian pengendara yang mengisi BBM jenis Pertalite, di dispenser SPBU Pandanwangi, Batam.

Siang itu, Jumat (30/3) dia terlihat tidak buru-buru, karena sedang libur Paskah. Diantr‎ian kendaraan roda dua, dari berbagai jenis merek beberapa unit motor terlihat keluaran tahun lama.

Selain itu, diantrian dispenser Premium ‎di SPBU itu juga terlihat motor berbagai jenis.

Sementara di dispenser Pertamax Plus lebih didominasi mobil dan sesekali masuk motor.

Antrian dibarisan pengisian BBM jenis Pertalite, menarik karena cukup banyak motor keluaran dibawah 2010.

Semetara selama ini, motor yang banyak diantiran itu, lebih banyak dari keluaran tahun 2010 keatas.‎

‎”Dulu saya terpaksa mengisi Pertalite karena khawatir lama ngantri. Kita percaya diri saja diantrian Pertalite pakai motor butut ini. Bahkan Kalau antrian panjang di Pertalite, saya pilih isi Pertamax Plus,” ‎kata Erianto, pemilik motor Legenda 2, saat disambangi Tanjungpinang Pos, tidak jauh dari lokasi dia mengisi BBM.‎

‎Diceritakan, keterpaksaannya menggunakan Pertalite, saat itu sekitar satu tahun lalu, di SPBU, Tanjungpiayu, Sei Beduk, sedang kehabisan BBM jenis Premium.

Kemudian Erianto yang hendak kerja, terpaksa mengisi Pertalite. Dua hari kemudian, saat mengisi BBM, antrian untuk mengisi Premium dan Pertalite panjang.

Karena harus mengejar waktu agar tidak terlambat sampai di tempat kerja, Erianto memilih BBM Prenium dieceran yang menggunakan botol mineral ukuran 1,5 liter.

Namun tidak mungkin mengisi eceran terus, akhirnya terpaksa mengantri di dispenser Pertalite, Erianto akhirnya memilih jenis ini sebagai konsumsi motor jadulnya.

“Kita biasanya kalau sudah langganan satu jenis, susah pindah. Tapi kalau manfaat terasa, cepat pindah,” cetusnya.‎

‎Pilihan itu bukan tanpa sebab. Erianto mengaku, merasa lebih nyaman, karena motornya terasa ringan saat digas.

Selain itu, diakui suaranya lebih halus saat menggunakan BBM dengan oktan atau research octane number (RON) 90 itu.

“Kalau Pertamax Plus, katanya RON lebih tinggi. Lebih halus suara motor dan kencang. Asap juga tak nampak. Asap ini perlu diperhatikan juga, apa lagi kalau motor kita motor lama. Jangan sampai ngepul, diteriakin orang kalau di simpang lampu rambu lalu lintas,” sambungnya sambil melempar tawanya.

‎Bagi Erianto, BBM non subsidi itu kini ‎menjadi pilihan, demi kenyamanan diri dan motornya. Menurutnya, non subsidi, beda pengeluarannya juga tidak beda jauh.

Sebelumnya, dengan Premium dia mengeluarkan sekitar Rp 23 ribu yang diisi sekali dalam dua hari. Dengan Pertalite, dia mengeluarkan sekitar Rp2 5 ribu per dua hari.

“Itu kalau saya hanya dari rumah ke tempat kerja pulang pergi. Tidak beda jauh, tapi motor terasa lebih awet,” beber.

Petugas SPBU, Sei Beduk, Lisda membenarkan kesadaran pengendara menggunakan BBM jenis Pertalite dan Pertamax.

Menurutnya, hingga tahun lalu, petugas untuk dispenser Pertalite dan Pertamax, hanya satu orang, karena belum banyak yang memanfaatkan.

“Kalau sekarang, tidak bisa lagi. Petugas di dispenser Pertalite dan Pertamax harus beda. Itu pun, antrian motor dan mobil untuk Pertalite harus beda,” jelasnya.

‎Pernyataan itu sejalan dengan disampaikan Rian yang berprofesi sebagai ojek onlie, yang menggunakan motor matik. Sebagai tukang ojek, Rian memilih BBM Pertalite dan Pertamax Turbo.

Meski berprofesi ojek onlie, dia memilih BBM dari dua jenis itu, yang lebih mahal dibanding Premium.

‎”Ini ngojek untuk cari makan, harus dirawat biar awet. Saya pilih Pertalite atau Pertamax Plus atau Pertamax Turbo. Tergantung antrianlah. Kalau Pertalite antri agak panjang, aku isi Pertamax Plus atau Turbo,” cerita Rian.

Menurutnya, saat menggunakan jenis Pertalite atau Pertamax, selisih pengeluarannya juga tidak beda jauh.

“Kita juga pede berbincang bahas kualitas mesin kendaraan dengan teman, saat menunggu panggilan penumpang di dekat Kepri Mal sana,” kata Rian sambil menunjukkan titik ojek online biasa mangkal.‎

‎ ‎Kini, baik Erianto dan Rian mengaku, pilihan jenis BBM yang digunakan tidak sekedar pemenuhan bahan bakar kendaraan lagi. Jenis BBM yang dipilih menjadi bagian dari gaya hidup.

“Mau berkualitas, pilih yang Pertalite atau Pertamax Plus. Biar motor kredit, penting BBM-nya Pertamax Plus,” kata Rian sambil tertawa.

Berangkat dari pilihan-pilihan jenis BBM yang disediakan Pertamina itu, terlihat orientasi konsumsi masyarakat Batam terhadap kualitas produk.

‎”Kalau selisih harga sebenarnya sedikit saja. Namun dampaknya sangat terasa. Mesin lebih awet. Biaya pemeliharaan lebih murah,” ujar ‎Erianto menimpali.

‎Kehadiran produk Pertamina jenis Pertalite dan Pertamax, memberikan kesan orientasi masyarakat yang berubah, dari kuantitas ke kualitas.

Mobdin Pemko Beralih ke Pertalite

‎Langkah yang sejalan juga diambil Pemerintah Kota (Pemko) Batam. Kini, untuk mobil dinas (mobdin) dilingkungannya, belanja BBM yang dianggarkan, untuk Pertalite dan bukan Premium lagi.

“Sekarang, mobdin, sudah pakai Pertalite. Anggaran belanja BBM di APBD memang begitu,” ungkap Kepala Bagian Humas Pemko Batam, Yudi.

‎Sebagai pejabat di lingkungan pemerintah, menurut Yudi tidak mempersoalkan jenis BBM yang disediakan untuk mobdin, karena dianggarkan di APBD.

Namun diakui, perubahan BBM mobil dinas dari Premium ke Pertalite, manfaatnya lebih terasa pada mesin yang dinilai lebih terawat.

“Ini fasilitas negara, dengan pilihan Pertalite lebih nyaman. Tidak rewel dan suara mesin lebih halus. Dengan oktan lebih tinggi dan ramah lingkungan‎,” cerita Yudi.

‎‎

Wali Kota Batam, HM Rudi, sebelumnya juga menyatakan, Pertalite menjadi pilihan BBM untuk kendaraan dinas di lingkungan Pemko Batam.

“Supaya pemerintah ini tidak memakai yang subsidi, biar Prenium jadi haknya orang kecil. Untuk pejabat eslon III, pakai Pertalite, karena relatif lebih murah, dan ‎berkualitas,” tegas Rudi.

Bagi Pertamina sendiri, Kota Batam menjadi daerah yang cukup istimewa. Hal itu terlihat dari kebijakan saat meluncurkan produk baru-nya.

Saat meluncurkan produk baru, beberapa kali Pertamina melakukan di Batam. Seperti peluncuran produk Pertalite dan Pertamax Turbo, yang dilakukan pertama kali di Batam.‎

Unit Manager Communicatiin And CSR, Pertamina MOR, Rudi Arifianto mengatakan, ‎Pertalite merupakan bahan bakar yang paling murah dikelasnya, atau RON 90.

“Sehingga masyarakat diharapkan bijak menggunakan energi secara produktif dan harus berhemat,” himbau Rudi.

Saat ini diakui, khusus wilayah Provinsi Kepri, konsumsi Pertalite didominasi oleh Batam. Konsumsi premium di Batam relatif rendah dibanding daerah lain di Kepri.

“Di Batam, konsumsi kendaraan lebih ke Pertalite. Tapi kalau di hiterland dan kabupaten-kota lain di Kepri, 60 persen masih premium,” jelas Rudi Afrianto.

Saat ini, harga Pertalite dan Pertamax Plus sesuai keputusan Pertamina, di Batam dan kabupaten-kota lain di Provinsi Kepri, ‎Rp 8.150.

Sementara Pertamax Turbo, Rp 10.200 untuk Batam dan Rp 10.350, untuk daerah lain di Kepri. Harga BBM jenis Dexlite disemua wilayah Kepri, Rp 8.400.

Harga Pertamina Dex 9.400 di Batam 9.400 dan 10.100 di kabupaten-kota lain di Kepri.‎

“Tapi secara umum, Pertalite masih merupakan bahan bakar yang paling murah di kelasnya RON 90-91 itu,” jelasnya mengakhiri.(mbb)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here