Pertanggungjawaban di Hadapan Allah SWT

0
58948
Muhammad Idris DM.

oleh: Drs. H. Muhammad Idris DM, MM, MSi
Dekan Fakultas Ekonomi UMRAH Tanjungpinang,dan Dosen di berbagai Perguruan Tinggi lainnya

Sebagai manusia tentu memiliki peraturan hidup. Allah SWT menciptakan jin dan manusia dengan tujuan utamanya agar mengabdi, beribadah, menyembah hanya kepada Allah SWT Manusia sebagai makhluk yang diciptakan. Oleh karena itu, apa saja yang dikerjakan dan dilakukan dalam hidup dan kehidupan di dunia ini, mesti kelak di hari kiamat atau hari kemudian akan diminta pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT (Subhanahu Wata’ala).

Di dalam sabda Rasulullah sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Tabrani, Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya “Tidak akan beranjak kaki seorang hamba dari tempat berdirinya dihadapan Allah pada hari kiamat sebelum dia ditanya tentang empat perkara, yaitu tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmu bagaimana diamalkan, tentang harta bagaimana cara memperoleh dan kemana dibelanjakan, dan yang terakhir yaitu tentang jasmani untuk apa dipergunakan.”

Tentu apa saja yang dikerjakan dan lakukan dalam hidup dan kehidupan di dunia ini, mesti kelak di hari kiamat atau hari kemudian akan diminta pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT oleh karena itu dalam hidup dan kehidupan di dunia ini, perlu mempersiapkan diri menghadapi kehidupan negeri akhirat, tempat yang kekal abadi, karena setiap manusia yang hidup di dunia ini akan diminta pertanggungjawabannya dari segala tingkah laku dan perbuatan yang pernah dikerjakan di duina ini. Tidak satupun yang lolos dari pertanyaan dan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Baca Juga :  Senjata Pemusnah Itu Adalah Narkoba!

Sebagaimana Firman Allah SWT dalam al-Qur’an yang artinya : “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (AQS. Al-Isra` : 36).

Sering kita dengar oang yang mengatakan bahwa saya sedikitpun tidak takut akan kematian, yang saya takuti justru hidup sesudah mati, yakni pertanggungjawaban dihadapan Allah SWT Yang Maha Adil di hari kemudian nanti. Perkataan tesebut sesuai dengan Sabda Rasulullah SAW yang artinya : “Tidak henti-hentinya kedua kaki anak-anak Adam (manusia) itu nanti berdiri pada hari kiamat di depan Tuhannya, sehingga ia akan ditanya empat macam perkara yaitu: 1)Umurnya dimana dihabiskan; 2)Masa mudanya untuk apa digunakan; 3)Hartanya dari mana diperoleh dan kemana dibelanjakan; 4)Amalan apa yang telah dikerjakan sesuai dengan apa yang diketahu”

Pertama: “’An ’Umrihii Fiyma Afnaahu” (umurnya untuk apa dihabiskan ?).
Kadang-kadang menjadi kebiasaan bagi kita yang sering lalai, lupa mengingat Allah SWT, dan tidak mengerjakan perintah Allah serta tidak menjauhi larngan-Nya. Manusia ditanya untuk apa umur itu dihabiskan, kemana dihabiskan, Allah SWT meminta pertanggung jawaban, apakah umur itu dihabiskan dilembah maksiat, lembah perjudian, dipasar zina, mabuk-mabukan, lembah-lembah dosa lainnya, kakinya gemetar dan ketakutn menghadapi Allah SWT.

Baca Juga :  Fenomena Perjuangan Kaum Gay

Kedua: “Wa’An Syabaabihiy Fiymaa Ablaahu” (masa mudanya untuk apa digunakan ?).

Masa muda merupakan masa dimana kadang-kadang rajin beribadah, bisa pula rajin melakukan perbuatan dosa, perbuatn maksiat, di hari kemudian Allah SWT meminta pertanggung jawaban masa muda kemana dan dimana dihabiskan dan dipergunakan.

Ketiga: “Wa’An Maalihii Min Aynaktasabahuu” (hartanya darimana diperoleh, kemana dibelanjakan).
Mencari harta merupkan masalah yang tak henti-hentinya dibicarakan, dan orang mencari harta kadang-kadang tidak mengenal waktu, pagi, siang malam senatiasa mencari serta mengurus harta. Karena harta itu penting untuk kebutuhan hidup, kebutuhan makan, pakaian, tempat tinggal, bahkan harta itu untuk kepentingan berbakti dan beribadah kepada Allah SWT.

Jangan dikira bahwa beribadah itu tidak memerlukan harta kekayaan, menuntut ilmu pengetahuan butuh biaya, menunaikan ibadah haji perlu biaya, berjihat menegakkan kebenaran semuanya memerlukan modal. Tanpa harta sulit untuk mencapai tingkat pengabdian yang sungguh-sungguh. Tapi perlu diingat bahwa mencari harta itu, hendaknya dengan jalan yang halal, sebab di hari kemudian akan ditanya dan diminta pertanggung jawaban, harta dimana diperoleh dan kemana dibelanjakan, apakah sudah dibelanjakan kejalan yang benar atau tidak.

Baca Juga :  Desa Berakit Rawan Malaria

Keempat: “Wa Fiyma Anfaqahuu Wamaa Dzaa’amila Fiymaa ’Alima” (amalah apa yang telah dikerjakan, apakah sesuai dengan apa yang telah diketahuinya?)

Pertanyaan yang keempat ini ditanyakan kepada manusia, amalan apa yang telah dilakukan. Sebagaimana tugas manusia itu sendiri dalam kehidupan yakni mengabdi, menyembah kepada Allah SWT . Sebagaimana Firman Allah SWT yang artinya : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (AQS.Adz-Dzariyat:56) Perintah ini akan diminta pertanggung jawaban, apakah benar-benar dikerjakan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan dalam ajaran Islam itu sendiri. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya: “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling dari padanya. Tidak datang kepada mereka ayat-ayat Al-Qur’an punyang baru diturunkan dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya sedang mereka bermain-main. (lagi) hati mereka dalam keadaan lalai. …” (AQS. Al-Anbiya/21 : 1,2,3).

Akhirnya mari kita berdo’a kepada Allah SWT semoga kita selamat dari teragdi dari empat pertanyaan yang saya sebutkan itu. Semoga kita selamat hingga kepantai bahagia negeri akhirat yang kekal abadi. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here