Pertumbuhan Ekonomi Kepri 2018, Mampukah Rebound?

0
332
Panusunan Siregar

Oleh: Panusunan Siregar
Pemerhati Pembangunan Sosial Ekonomi Kepri

“Disaster” perekonomian Kepri 2017 dengan pertumbuhan hanya sebesar 2,01 persen merupakan pengalaman pahit yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Fakta empiris menunjukkan bahwa pada tahun-tahun sebelumnya, perekonomian Kepri mampu melaju di atas angka 5 peren per tahun. Bahkan, selama 2012 – 2014, secara rata-rata mampu tumbuh di atas 7 persen. Hal ini tidak terlalu mengejutkan mengingat Batam yang merupakan mesin penggerak ekonomi Kepri, dirancang oleh Pemerintah sebagai pusat pertumbuhan ekonomi nasional yang berbasis pada industri manufaktur dan berorientasi ekspor.

Untuk tujuan dimaksud, pemerintah memberikan beberapa privilage atau fasilitas bagi investor atau calon investor yang mau berinvestasi di Batam, seperti free trade zone yang membebaskan investor dari kewajiban PPN dan PPNBM, kemudahan investasi langsung konstruksi (KLIK) dimana pembangunan pabrik telah difasilitasi oleh pemerintah, pembebasan batas minimum nilai investasi atau jumlah tenaga kerja, dan deregulasi lainnya.

Dalam upaya untuk menggenjot kembali pertumbuhan ekonomi Kepri dan khususnya Batam, Badan Pengusahaan (BP) Batam telah melahirkan beberapa kiat/program jitu seperti, pembentukan Satgas Percepatan berusaha, memberikan kemudahan dan kepastian dalam pengurusan dokuken perizinan berupa Program i23j (izin investasi 3 jam). Program ini sekaligus merespon terhadap seruan Presiden Jokowi yang meminta agar seluruh daerah (provinsi dan kabupaten/kota) memberikan kemudahan berinvestasi bagi investor di daerahnya masing-masing. Dampak dari kebijakan baru BP Batam tersebut, telah tercatat 5 investor asing yang memanfaatkannya selama Januari – Maret 2018 (Medcom.id, 29 Maret 2018).

Perekonomian Kepri Menggeliat?
Berdasarkan rilis BPS Provinsi Kepri, perekonomian Kepri sudah mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan (recovery) ke arah yang semakin baik. Sejak Triwulan III/2017 s/d Triwulan I/2018, pertumbuhan ekonomi Kepri terus menunjukkan tren positif yang bergerak dari angka 2,38 persen ke 2,57 persen dan hingga ke 4,47 persen pada Triw. I/2018. Pertumbuhan yang relatif tinggi pada awal 2018 ini, tidak terlepas dari mulai pulihnya kembali mesin penggerak utama perekonomian Kepri, yaitu industri manufaktur yang perannya mencapai 36 persen telah mampu tumbuh sebesar 4,43 persen yang mana pada triwulan I/2017 mengalami kontraksi sebesar 0,23 persen.

Bila ditilik struktur PDRB dari sisi pengeluaran/penggunaan, tingginya capaian pertumbuhan triwulan I/2018 tersebut juga ditopang oleh putaran roda investasi yang sudah mulai menggeliat. Bila tahun lalu nilai tambah investasi yang dalam terminologi PDRB disebut sebagai pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang kontribusinya 42,5 persen hanya tumbuh sebesar 4,87 persen, namun pada triwulan I/2018 ini telah tumbuh sebesar 6,5 persen, atau bertambah 1,63 poin. Bahkan yang lebih menakjubkan lagi adalah penggunaan APBD yang telah memainkan perannya sebagai stimulator penggerak roda perekonomian di awal tahun telah tumbuh sebesar 9,0 persen dimana pada triwulan I/2017 tumbuh negatif 5,26 persen. Hal ini didorong oleh penggunaan anggaran belanja barang dan jasa yang meningkat dari 21,10 persen pada triwulan I/2017 ke angka 27,27 persen pada triwulan I/2018. Bahkan, penggunaan anggaran barang modal meningkat 5 kali lipat, yaitu dari 2,34 persen ke 11,65 persen pada periode yang sama. Capaian ini dapat terwujud, tidak terlepas dari adanya sinergitas antara pemprov dan pemkab/pemko dalam melihat peran strategisnya APBD dalam menggerakkan roda perekonomian Provinsi Kepri dan oleh karena itu harus digenjot secepat mungkin sebagaimana sering disuarakan penulis dalam berbagai kesempatan.

Perlu Kerja Keras Lagi
Performa perekonomian Kepri sebagaimana diuraikan di atas, menjadi sinyal positif akan menggeliatnya kembali roda perekonomian Kepri ke arah yang lebih kencang (rebound) pada 2018. Namun demikian, upaya kerja keras masih tetap diperlukan mengingat beberapa potensi ekonomi Kepri belum bergerak dan memberi kontribusi sebagaimana yang diharapkan. Untuk itu, ada beberapa catatan penting yang masih perlu diperhatikan dan disikapi kembali baik pemprov dan pemkab/pemko maupun sektor privat termasuk BP Batam.

Pertama, sektor industri manufaktur yang walaupun sudah menunjukkan kinerja yang membaik, tetapi beberapa industri strategis masih mengalami kontraksi. Seperti misalnya, industri alat angkutan yang notabene didominasi oleh industri galangan kapal, masih mengalami kontraksi sebesar 5,33 persen selama triwulan I/2018. Dampak liniernya, ekspor kapal laut menurun. Sementara itu, industri tekstil dan pakaian jadi tumbuh negatif 5,21 persen dan industri kayu atau barang dari kayu kontraksi sebesar 12,82 persen. Industri-industri tersebut adalah kegiatan usaha yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang relatif besar (padat karya) dan seyogiayanya harus didorong untuk mampu memberi peran yang lebih besar lagi.

Kedua, sektor/kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan, masih mengalami kontraksi sebesar 3,53 persen selama Januari – Maret 2018. Padahal, Kepri cukup potensial dalam sumberdaya ini, terutama dalam subsektor perikanan dan tentunya harus didorong investasi atau kredit modal kerja ke arah sana. Anambas dan Natuna termasuk daerah-daerah lainnya sudah saatnya bergegas menggenjot potensi tersebut agar nilai tambah sektor perikanan Kepri itu dapat dimanfaatkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Ketiga, potensi ekspor Kepri yang notabene masih bertumpu pada hasil industri manufaktur, harus didorong lebih fokus lagi. Pasalnya, berdasarkan hasil rilis BPS Provinsi Kepri pada peretengahan April lalu, selama triwulan pertama 2018 ekspor non-migas Kepri yang hampir seluruhnya adalah hasil industri pengolahan masih mengalami kontraksi sebesar 6,37 persen. Itu artinya bahwa untuk mendongkrak potensi ekspor, maka penyehatan industri manufaktur harus menjadi prioritas. Hal ini penting karena Presiden Jokowi telah menetapkan tahun 2018 sebagai tahun ekspor dan tentunya harus direspon. Sebab, melalui ekspor selain akan memperluas kesempatan kerja, kita dapat memasok devisa lebih besar ke dalam negeri yang berarti akan memperkuat perekonomian nasional melalui penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

Keempat, momentum mulai menggeliatnya sektor pariwisata yang direfleksikan dengan meningkatnya jumlah wisman yang datang ke wilayah Kepri harus dijadikan sebagai lokomotif baru untuk menggerakkan kekuatan ekonomi Kepri. Upaya kerja keras yang dilakukan oleh berbagai stakeholders di sektor ini sudah mulai membuahkan hasil. Berbagai events yang dilakukan selama Februari dan Maret telah mampu mendatangkan pelancong asing (wisman) di atas 200 ribu kunjungan per bulan dimana capaian seperti itu hanya bisa tercapai pada bulan Desember saja. Dengan capaian tersebut jumlah wisman selama triwulan I/2018 telah mencapai 597.106 kunjungan, atau naik 22,2 % dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Bila hal ini dapat diwujudkan, maka pundi-pundi devisa dalam negeri akan bertambah lagi.

Oleh karena itu, tren positif kinerja perekonomian Kepri pada triwulan pertama 2018 dan beberapa catatan di atas disikapi, maka tidak terlalu berlebihan untuk menyimpulkan bahwa perekonomian Kepri tahun 2018 akan dapat tumbuh lebih tinggi dari angka yang ditargetkan sebesar 3,50 persen. Bila merujuk pada potret perekonomian Kepri pada triwulan I/2016 yang angkanya sebesar 4,21 persen dengan asumsi ceteris paribus maka ada harapan bahwa pada 2018 perekonomian Kepri bisa rebound ke angka kisaran 4 – 5 persenan. Tentunya, kerja keras, fokus, dan konsisten serta menjauhkan egosektoral/egoreginal menjadi prasyarat mutlak. Dengan target seperti ini, kesempatan kerja semakin terbuka yang berarti pengangguran dapat ditekan dan jumlah penduduk miskin diharapkan akan berkurang. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here