Perwujudan Pendidikan yang Meluas, Merata dan Berkeadilan

0
552
Novi Riyani, S.Pd

Oleh: Novi Riyani, S.Pd
Alumni SM-3T Angkatan III dari Universitas Riau

Pembangunan Indonesia sentris adalah konsep pembangunan dengan cara pandang Indonesia sebagai suatu kesatuan dengan persamaan memperoleh hak dalam pembangunan. Indonesia sentris juga bisa diartikan sebagai suatu usaha untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dari Sabang hingga Merauke.

Hambatan Pembangunan dengan Konsep Indonesia Sentris
Indonesia adalah negara besar dengan total luas negara 5.193.250 km² yang mencakup daratan dan lautan. Indonesia menempati posisi kelima sebagai negara terluas setelah Rusia, Kanada, Amerika Serikat, China, Brazil dan Australia. Selain itu, dunia juga mengakui kebesaran Indonesia sebagai negara terpadat keempat setelah China, India dan USA dengan jumlah penduduk sebanyak 254,9 juta jiwa. Dengan luas daratan dan dan padatnya penduduk yang belum terkelola dengan baik ini menjadi hambatan untuk membangun bangsa berkarakter, mandiri dan berdaya saing.

Dengan konsep pembangunan dengan Indonesia sentris kemudian secara bertahap memetakan faktor penghambat terwujudnya pemerataan pembangunan dan peningkatan kualitas SDM di daerah terdepan, terluar dan tertinggal (3 T). Adapun beberapa kendala dan faktor penghambat antara lain kondisi geografis, kurangnya kesadaran masyarakat dan rendahnya komitmen anggaran pemerintah daerah yang belum sejalan dengan pemerintah pusat.

Kendala geografis meliputi Indonesia yang terdiri dari 17.504 pulau-pulau yang terpisah oleh lautan dan hutan belantara. Kondisi geografis inilah yang menghambat pembangunan yang kemudian memicu masalah sebaran penduduk. Lebih dari separuh manusia Indonesia tinggal di kota-kota besar. Mereka bermigrasi dengan tujuan memperbaiki taraf hidup menjadi lebih baik. Daerah seolah ditinggalkan. Rasa pilu kian ngilu karena banyak aparatur sebagai perpanjangan tangan pemerintah tak mau ambil pusing dengan kesusahan warga di daerah.

Mereka hilang arah, semangat dan pupus rasa percaya diri serta tidak nyaman dalam jurang ketertinggalan. Pemerintah menyadari permasalahan ini dan perlu konsep Indonesia sentris dengan keberpihakan pada daerah pinggiran.

Kendala kedua adalah rendahnya komitmen anggaran pemerintah daerah. Hal tersebut karena rendahnya alokasi anggaran pembangunan fisik maupun SDM. Pembangunan sarana dan prasarananya mati suri. Pemerintah daerah bahkan menghabiskan APBD untuk belanja pegawai hingga 70% yang menyebabkan pembangunan kualitas SDM kemudian turut terkendala.

Selain permasalahan kedua permasalahan diatas, faktor rendahnya kesadaran dan keikutsertaan masyarakat. Rendahnya kesadaran dan minimnya keikutsertaan disebabkan rendahnya pengetahuan dan kualitas pendidikan di daerah 3 T. Generasi muda di daerah 3 T tidak bisa baca tulis. Kondisi ini diperparah dengan kurangnya kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan.

Mereka lebih mengutamakan anak-anaknya untuk membantu kerja mencari nafkah. Maka tinggallah pembangunan sebagai semboyan yang bertepuk sebelah tangan. Selain permasalahan komitmen anggaran, permasalahan rendahnya pendidikan dan pengetahuan menjadi faktor utama dan penentu berhasil atau tidaknya pembangunan dari pinggiran Indonesia.

Pentingnya Perwujudan Akses Pendidikan yang Meluas, Merata dan Berkeadilan
Pendidikan adalah hak dasar bagi setiap warga negara. Hal tersebut tertuang dalam amanat undang-undang Pasal 31 UU Tahun 1945 ayat 1 yang berbunyi “bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”. Tanpa syarat. Siapapun generasi muda anak bangsa harus mendapat akses pendidikan, sehingga setiap orang tercerahkan dan dapat memperbaiki taraf hidupnya dan membangun daerahnya.

Idealnya, setelah pemerintah menghadirkan akses pendidikan, masyarakat harus dengan sadar turut mensukseskannya sebagai suatu kewajiban sebagaimana Pasal 31 UU Tahun 1945 ayat 2.

Selain menjadi kewajiban yang harus diwujudkan pemerintah, pendidikan juga menjadi isu strategis selama berabad-abad lamanya sebagai strategi mewujudkan kemajuan suatu negara dengan membangun kualitas manusianya. Oleh karenanya tidak sedikit filsuf dan tokoh dunia yang mengatakan pendidikan sebagai faktor utama penentu kemajuan suatu bangsa.

Berdasarkan data United Nations Development Programme (UNDP) mencatat nilai Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index) Indonesia pada tahun lalu sebesar 0,684. Dengan nilai tersebut, Indonesia menduduki peringkat ke-111 dari 188 negara.

Selain itu, World Education Rangking yang diterbitkan oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) menempatkan Indonesia pada urutan 57 dari 65 negara dengan kriteria penilaian atas kemampuan membaca, matematika dan sains.

Rendahnya indeks pencapaian pendidikan Indonesia tersebut dikarenakan tingginya ketimpangan indeks pembangunan antara daerah pusat dengan daerah 3 T. Aparatur pendidik sebagai garda terdepan mencerdaskan anak-anak pedalaman juga turut membuat pemerintah pusing. Tidak happy dan meminta untuk dipindahkan ke kota.

Berdasarkan data-data inilah Presiden Jokowi menggagas pembangunan Indonesia sentris yang tertuang dalam nawacita. Pemerintah mengupayakan perwujudan akses pendidikan yang meluas, merata dan berkeadilan sebagai pondasi pembangunan. Dalam pelaksanaannya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kemenpan-RB dan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) bahu-membahu mengimplementasikan semangat pembangunan kualitas SDM daerah 3 T tersebut.

Sebagai langkah awal pemerintah meluncurkan program SM-3T dengan merangkul sarjana-sarjana muda dengan nilai kompetensi akademis dan semangat pengabdian yang tinggi untuk menerobos daerah-daerah tertinggal dan terdalam dan terluar yang selama ini terisolir. Ribuan sarjana handal dan memiliki loyalitas pengabdian tinggi secara bertahap dikirim ke 122 kabupaten tertinggal dan terdalam serta 43 kabupaten terluar. Para sarjana ini merupakan putra-putri terbaik bangsa yang turut dibina oleh tentara untuk kemajuan bangsa.

Komitmen membangun manusia Indonesia kemudian dilanjutkan dengan program Guru Garis Depan (GGD). Pada Tahun 2015, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) memberangkatan 798 guru garis depan ke 28 Kabupaten dari 4 Provinsi yang menjadi daerah sasaran prioritas pembangunan seperti Provinsi Aceh, NTT, Papua dan Papua Barat.

Kemudian pada Tahun 2016 pemerintah memperluas daerah sasaran dengan kembali merekrut 6.296 GGD yang akan dikirim ke 93 Kabupaten dari 28 Provinsi termasuk Riau dan Kepri.

Mereka akan dikirim ke daerah 3 T mulai tahun 2017. Selain mempersiapkan tenaga-tenaga pendidik yang terampil, kompeten dan memiliki loyalitas pengabdian yang tinggi, pemerintah menyasar perbaikan sarana dan prasarana pendidikan. Berdasarkan data Kemendikbud, hingga tahun 2015 pemerintah telah memperbaiki 13.403 ruang belajar dan membagun 12.385 Ruang Kelas Baru (RKB).

Untuk perluasan akses pendidikan, pemerintah juga membangun 698 Unit Sekolah Baru (USB) dan 114 Sekolah Garis Depan (SGD). Sejalan dengan perbaikan infrastruktur, pemerintah melalui Program Indonesia Pintar (PIP) memberikan bantuan untuk meningkatkan angka pastisipasi belajar kepada 17 juta anak didik miskin dan rentan miskin.

Melalui terobosan ide dan gagasan pembangunan dengan konsep Indonesia sentris secara perlahan tapi pasti telah membangun kualitas manusia Indonesia. Adapun hasil pembangunan tersebut meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dari 68,8 pada tahun 2014 meningkat 0,75 poin menjadi 69,55 pada tahun 2015, dengan indeks pendidikan meningkat sebesar 0,82 poin dari 60,18 menjadi 61,00 di tahun 2015.

Selain itu, Data Pokok Pendidikan (Dapodik), APK untuk Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mengalami peningkatan dari 75,53% di tahun 2015 menjadi 76,45% di tahun 2016. Sesuai dengan data Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik (Susesnas BPS) tahun 2015, sebanyak 99,7% penduduk Indonesia usia 15-24 tahun telah melek aksara.

Penduduk usia 25-44 tahun telah terbebas dari buta aksara hingga 98,5% jiwa. Dengan kata lain pembangunan Indonesia sentris melalui perwujudan akses pendidikan yang meluas, merata dan berkeadilan akan menjadikan Indonesia hebat, berkarakter dan berdaya saing. Salam MBMI * !!!

*MBMI : Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here