Petani Ingin Harga Karet Rp 10 Ribu Per Kg

0
519

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Natuna terus menggenjot program produksi perkebunan karet untuk meningkatkan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

NATUNA – Akan tetapi, sejalan dengan program tersebut pangsa pasar komoditas karet tidak mampu mendongkrak perekonomian warga secara signifikan. Pada tahun 2017, Pemkab Natuna melalui Dinas Pertanian membagikan ribuan bibit karet unggul kepada masyarakat. Salah satu diantaranya adalah, untuk para petani di kawasan Kecamatan Bunguran Tengah.

Kecamatan ini menjadi sasaran program perkebunan karet, lantaran didukung dengan luas lahan non produktif (lahan tidur) yang siap tanam. Tidak hanya itu saja, kecamatan dengan ruang lingkup tiga desa ini juga banyak terdapat lahan karet yang sangat luas. Sebab, kecamatan itu sudah produksi karet sejak puluhan tahun lalu.

Kepala Bidang Perkebunan, di Dinas Pertanian Natuna Muharta Windra mengatakan, untuk Kecamatan Bunguran Tengah termasuk penghasil karet terbesar di Natuna. Akan tetapi, kata dia, kondisi itu saat ini tidak diimbangi dengan harga karet yang fluktuatif.

”Masyarakat di Kecamatan ini dulu pernah berada pada masa kejayaannya. Bagaimana tidak, harga karet saat itu pernah tembus pada angka Rp 20 ribu untuk satu kilogram getah beku. Tapi, saat ini harga terus merosot hingga Rp 5 ribu hingga Rp 7 ribu per kilonya. Ini sungguh menjadi beban tersendiri bagi pemilik kebun,” ungkap Windra di lokasi pembibitan di Desa Tapau, Minggu (21/1).

Menurut Windra, sektor perkebunan karet sangat membantu perekonomian masyarakat jika diimbangi dengan harga getah beku yang memadai. Setidaknya, harga itu bisa menyesuaikan dengan tingginya harga kebutuhan pokok.

”Pasti ada perbedaan. Harga kebutuhan pokok sepuluh tahun lalu, dengan saat ini sudah sangat jauh berbeda. Dulu harga karet bisa belasan ribu, sekarang malah di bawah angka sepuluh ribu. Bisa dibayangkan betapa menurunnya pendapatan petani saat ini,” kata Windra.

Tusiman, seorang petani karet di Desa Harapan Jaya, Kecamatan Bunguran Tengah menuturkan, program yang digelontorkan pemerintah sudah sangat tepat. Namun, ia berharap ada solusi terkait rendahnya harga karet.

”Minimal harga karet Rp 10 ribu perkilonya bahkan lebih. Sehingga, petani bisa membuat perencanaan keuangan yang baik,” kata Tusiman.(HARDIANSYAH)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here