Petani Tak Mampu Beli Pupuk

0
454
PARA Petani di Desa Gunung Putri saat memanen perdana padi beberapa waktu lalu.F-HARDIANSYAH/tanjungpinang pos

Mahalnya harga pupuk kimia membuat petani di Desa Air Lengit beralih menggunakan pupuk non-organik dari kulit pisang. Hal ini, juga di dukung dengan ketersediaan bahan baku yang cukup.

NATUNA – Sutikno salah seorang petani padi mengatakan, pupuk organik berbahan dasar limbah kulit pisang ini memiliki banyak kandungan seperti, kalsium, protein dan fospor.

Selain itu juga, daun pisang mengandung unsur mikro Ca, Mg, Na, Zn. Sehingga, limbah kulit pisang berpotensi untuk terus dikembangkan sebagai pupuk organik bagi tanaman.

Baca Juga :  Jelang Pilkada, Bawaslu Gandeng Insan Pers

”Kita menggunakan kulit buah pisang jenis pisang kepok. Karena tanaman pisang jenis ini banyak sekali di desa ini. Sehingga untuk mendapatkan bahan baku limbah kulit pisang juga sangat mudah,” kata Sutikno di kediamannya, Kamis (6/12) kemarin.

Ia menjelaskan, kulit pisang itu sendiri sekitar 1/3 bagian dari buah pisang. Sejauh ini, pemanfaatan sampah kulit pisang masih kurang hanya sebagaian orang yang memanfatkannya sebagai pakan ternak.

”Adapun kandungan yang terdapat di kulit pisang yakni protein, kalsium, fosfor, magnesium, sodium dan sulfur, sehingga kulit pisang memiliki potensi yang baik untuk dimanfaatkan sebagai pupuk organik,” jelasnya.

Baca Juga :  Beli Kapal, Tapi Kelebihan Bayar

Saat ini, kata Sutikno, dirinya masih tetap menggunakan pupuk kimia, akan tetapi tidak dengan skala besar.

”Harga pupuk organik sangat mahal. Pupuk jenis MPK itu bisa Rp.500 ribu untuk ukuran 50 kilogram. Makanya, sekarang saya lebih memilih menggunakan pupuk non-organik,” paparnya.

Sutikno berharap, dengan menggunakan pupuk organik hasil produksi padi meningkat ketimbang menggunakan pupuk kimia. Disamping itu, biaya produksi bisa lebih kecil. (HARDIANSYAH)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here