PGN Luncurkan Sapta Program Gasifikasi Nasional

0
135
Kapal yang membawa gas dalam bentuk LNG.

JAKARTA – Direktur Utama PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), Suko Hartono mengakui, pihaknya memperkuat peran sub holding Gas Bumi. Penguatan dilakukan PGN dengan meluncurkan program gasifikasi nasional dalam bentuk Program Sapta PGN. 

Disampaikan Suko, Selasa (16/6), skenario ini untuk memperkuat kinerja operasional. Juga sebagai langkah menuju aggregator gas nasional untuk melayani kebutuhan gas bumi secara terintegrasi. “Ketujuh program sapta PGN itu, ada PGN Sayang Ibu,” katanya.

PGN sayang ibu itu, diakui sebagai layanan gas bumi untuk kebutuhan gas bumi rumah tangga. Kemudian, PGN mendukung industri khusus, melalui program layanan gas bumi untuk kebutuhan gas bumi industry strategis.

Selanjutnya program PGN untuk listrik murah sebagai layanan gas bumi untuk kebutuhan sektor kelistrikan. Ada juga PGN retail dan industri umum sebagai layanan gas bumi untuk kebutuhan komersial dan industri umum. Kemudian, ada program PGN disektor maritim, sebagai layanan gas bumi untuk kebutuhan transportasi laut.

“Kita juga ada program PGN sektor darat dengan layanan gas bumi untuk kebutuhan trasnportasi darat. Serta PGN masuk desa, yang menjadi layanan energi baik PGN dalam mendukung program energi bersih terbarukan dan ramah lingkungan,” beber Suko.

Baca Juga :  Lobi Pusat Perlu Kerja Ekstra

Menurutnya, pemenuhan dan layanan gas bumi PGN ditargetkan bisa masuk ke dalam sendi-sendi perekonomian. Termaksud untuk kehidupan sehari-hari masyarakat di berbagai wilayah. Inovasi pada produk gas bumi menjadi pekerjaan utama PGN, agar gas bumi tidak hanya sebagai komoditas.

“Namun juga sebagai nilai tambah pada pertumbuhan ekonomi nasional dengan memberikan multiplier effect dari pemanfaatan gas sektor hilir,” jelasnya.

Diingatkan, PGN sebagai bagian dari sub holding gas Pertamina saat ini berkomitmen tetap melanjutkan pengembangan infrastruktur pemanfaatan gas bumi. Membantu merealisasikan peran sebagai penyangga atau agregator gas bumi nasional.  

“PGN juga menambahkan misi baru dalam visi misi baru perusahaan. Yaitu hilirisasi industry petrokimia berbasis pemanfaatan gas bumi melalui pengusahaan gas dari sumber gas bumi maupun LNG,” ungkap dia.

Pihaknya diakui, akan berkolaborasi dengan perusahaan berskala nasional dan global guna pemanfaatan gas bumi pada turunan bisnis hilir gas. Seperti seperti industri petrochemical dan methanol. Hilirisasi gas bumi akan mendorong nilai tambah dan manfaat gas bumi nasional untuk meningkatkan valuasi keekonomian. 

“Berdasarkan portofolio yang dimiliki saat ini dan rencana ke depan, PGN diharapkan dapat makin fokus dan menjalankan perannya secara terintegrasi dan holistic sebagai koordinator. Itu wujud agregator gas bumi nasional,” harapnya.

Baca Juga :  FBK dan Iron Man Bawa Kepri Terima Penghargaan

PGN dan peran subholding gas saat ini telah melakukan pengelolaan infrastruktur gas bumi secara terintegrasi, serta melaksanakan seluruh kegiatan dalam proses bisnis hilir gas bumi mulai dari pengadaan pasokan gas bumi baik dari sumber domestik maupun internasional dan disalurkan kepada seluruh segmen pengguna akhir rumah tangga, pelanggan kecil, transporasi (SPBG), pelanggan kecil, komersial, industri dan pembangkitan listrik.

Produksi gas bumi di Indonesia dari tahun 2015-2017 rata-rata adalah 2,9 tcf/ tahun. Sekitar 60% dari produksi ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sisanya diekspor dalam bentuk LNG dan gas pipa. Sesuai dengan data dari BP Energy Oulook 2019, reserve to production ratio untuk cadangan gas bumi Indonesia cukup untuk periode 37,7 tahun. Kemampuan produksi gas bumi Indonesia sebesar 73,2 mfc, sedangkan laju konsumsi gas bumi Indonesia per tahun sebesar 39,0 mfc. Kondisi ini, masih jauh di bawah kemampuan produksi gas bumi Indonesia.

“Dari total produksi 2,9 tcf/tahun, PGN hanya menyalurkan sekitar 0,31 tcf/tahun atau 11%. Artinya, peluang-peluang ke depan masih terbuka luas dalam hal pembangunan infrastruktur maupun pemenuhan gas bumi,” imbuhnya.

Baca Juga :  Nama Kepri, Tak Ada yang Peduli

Menurut dia, agregator ini dapat mengonsolidasi seluruh sumber gas bagi seluruh pengguna secara berkelanjutan. Menjamin distribusi gas ke seluruh wilayah, sehingga akan mendorong perumbuhan ekonomi melalui infrastruktur yang mumpuni. Dengan begitu, masalah pasokan dapat teratasi.

Di sisi lain, peran agregator dapat menyeragamkan harga pada pengguna akhir, yang mana harga gas di hulu maupun biaya infrastruktur yang bervariasi. Dengan adanya peran agregator, diharapkan mampu menciptakan kondisi yang menjamin keekonomian produksi gas di hulu dan memenuhi kebutuhan gas dengan harga yang kompetitif dan relatif stabil bagi seluruh pengguna hilir.

“Dengan adanya agregator gas maka percepatan pengembangan infrastruktur dan pasar-pasar baru akan menjadi lebih feasible karena keekonomiannya ditopang oleh infrastruktur eksisting. Selain itu keberadaan agregator gas dapat membuat harga jual gas di seluruh wilayah Indonesia lebih merata dan berkeadilan,” harap Suko. (mbb)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here