Phubbing in Millennial

0
458
Angela Sarina Simbolon

Oleh: Angela Sarina Simbolon
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan, UMRAH

Dalam proses menyiapkan generasi Z menuju generasi mandiri memiliki kesulitan tersendiri. Perkembangan zaman yang dinamis menyebabkan banyak perubahan pada sistem maupun pola pikir dari generasi Z. Teknologi adalah salah satu bagian dari hal yang tidak dapat dipisahkan dari generasi yang satu ini. Perkembangan teknologi ber andil besar dalam setiap gebrakan-gebrakan baru khas millenial. Media baru yang ada saat ini merupakan konvergensi dari berbagai media yang sudah ada sebelumnya. Terry Flew (2002: 10) mendefinisikan media baru sebagai bentuk atau format isi media yang dikombinasi dan diintegrasikan dalam format digital dimana “form of media content that combines and intergrated data, text, sound and images of all kinds; are stored in digital format; and are increasingly distributed through networks.”

Sebagai generasi yang bukan dalam kapasitas minoritas lagi, menjadikan milenial sebagai potensi besar dalam pasar. Menurut Proyeksi Penduduk Indonesia dari Badan Pusat Statistik (BPS), mereka yang berusia 20-34 tahun akan disebut secara sederhana sebagai kelompok milenial. Laporan memperlihatkan bahwa kelompok usia itu, setidaknya, akan menyumbang 23,95 persen dari total populasi Indonesia pada 2018. Pada 2018, BPS memproyeksi jumlah penduduk Indonesia mencapai 265 juta jiwa. Pada 2019, jumlah mereka diproyeksi sebanyak 23,77 persen dari total populasi Indonesia yang mencapai 268 juta jiwa. Artinya, hampir seperlima penduduk di Indonesia adalah kelompok milenial.

Tawaran yang disajikan oleh teknologi sungguh menggugah, hal yang dianggap sulit dan rumit namun dalam teknologi dikemas secara sederhana serta tidak butuh waktu lama untuk seseorang dalam memiliki atau mencari yang dibutuhkan. Namun jika menilik kembali, ada hal-hal negatif di tengah kebaikan yang ditawarkan oleh teknologi salah satunya yaitu Fenomena Phubbing. Phubbing yaitu sebuah istilah untuk tindakan acuh seseorang di dalam sebuah lingkungan, karena lebih fokus pada gadget dari pada membangun sebuah percakapan. Phubbing adalah sebuah kata singkatan dari phone dan snubbing, Istilah ini mulai mencuat seiring dengan boomingnya smartphone di pasaran akhir-akhir ini. Penggunaan handpone dan hal lain yang ada di sekitar tersebut, membuat mereka cendrung lebih asyik dengan gagetnya, entah karena isu yang berkembang dan menarik, atau update status, tanpa memperhatikan lawan bicaranya.

Nah, prilaku seperti itu dikenal dengan Phubbing Istilah phubbing ini kembali viral dengan adanya studi yang dilakukan oleh Dr James Roberts dan Dr Meredith David dari Baylor University di Texas, seperti dikutip dari Dailymail. Phubbing yang sekarang terjadi ternyata cukup memprihatinkan karena dilakukan saat momen kebersamaan terjadi. Biasanya dilakukan oleh pasangan dalam hubungan percintaan atau para sahabat yang sedang berkumpul.Dari 143 individu yang diujicobakan, ternyata 70 persen tidak bisa lepas dari telepon genggam dan melakukan phubbing. Sedangkan 450 responden yang menjadi korban phubbing, 46% nyata-nyata menjadi korban dari pasangannya sendiri dan sisanya langsung mengomel.

Menurut Julie Hart, pakar hubungan sosial dari The Hart Centre, Australia, ada tiga faktor hubungan sosial yang menjadi tumpul karena phubbing. Pertama adalah akses informasi, di mana kemampuan mendengar dan membuka diri akan informasi dari lawan bicara.  Kedua adalah respon, yakni usaha untuk memahami apa yang disampaikan lawan bicara dan mengerti maksud yang disampaikan. Ketiga adalah keterlibatan, yakni saat dua faktor sebelumnya diabaikan, seseorang tidak akan terlibat dari wacana yang dilontarkan dan hanya mengiyakan saja. Lawan bicara pun akan tersinggung dan yang terburuk malas bicara lagi.

Sekarang kita tidak dapat menolak perkembangan teknologi dan komunikasi yang terjadi ,namun bukan berarti kita tidak dapat meminimalisir segala kemungkinan terburuk atas efek negatif yang dihasilkan. Jika memang diharuskan untuk membuka gadget akan lebih baik untuk pengguna meminta izin terlebih dahulu terhadap lawan bicara supaya lawan bicara merasa tetap dihargai, selain itu penggunaan Gadget pun tidak dilakukan sepanjang pembicaraan berlangsung, dan yang terakhir adalah kesadaran dari satu sama lain individu untuk saling mengingatkan jika salah satu sudah bersikap berlebihan. Karena teknologi berfungsi mendekatkan yang jauh ,bukan malah menjauhkan yang dekat. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here