Plus-Minus Full Day School

0
704
Dodi Zulakbar, S.Pd

Oleh : Dodi Zulakbar, S.Pd
Tenaga Pengajar SMAN 2 Tanjungpinang

Pendidikan merupakan hal yang paling penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan yang pertama kali kita terima adalah pendidikan di dalam keluarga. Walaupun pada kenyataannya banyak siswa-siswi hanya bisa bertemu dengan kedua orang tuanya hanya pada saat malam hari saja, itupun ketika weekend. Intensitas pertemuan hanya sekitar 4 – 6 jam saja. Itu khusus untuk mereka yang tinggal di daerah perkotaan. Lain halnya ketika mereka yang tinggal di daerah pedesaan, bahkan mereka hanya bisa bertemu dengan ayah dan ibu mereka sekali dua minggu, karena kesibukan orang tua untuk menafkahi hidup mereka. Salah satu contoh di daerah Tambelan, kebetulan saya pernah mengabdi selama 7 tahun di sana. Intensitas pertemuan anak dengan kedua orang tuanya terutama ayah mereka sangat kurang. Mereka menyerahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah. Hal ini sangat bertentangan dengan nurani saya sebagai seorang cikgu. Selama 5 hari sekolah siswa-siswi hadir dari jam 7.00 wib sampai 15.45 wib, sekitar 8-9 jam mereka berada di sekolah selebihnya di luar tanggung jawab sekolah. Sisanya itu semua merupakan tanggung jawab keluarga. Jadi, yang paling banyak tahu bagaimana keadaan siswa itu sepenuhnya adalah keluarga,sekolah hanya sebagai fasilisator.

Pendidikan yang paling penting dan paling mendasar adalah pendidikan agama dan budi pekerti. Sehebat apapun manusianya ketika pendidikan agama dan budi pekerti diabaikan maka akan hancurnya manusia tersebut. Agama itu adalah tiangnya, dan keluarga adalah pondasinya dan keduanya harus punya hubungan yang erat. Sekolah bukan berarti tidak penting, sekolah adalah tempat pembentukan karakter, memanusiakan manusia dari yang tidak baik menjadi baik bahkan jauh lebih baik. Sekolah tidak menjadikan manusia menjadi orang hebat tapi sekolah hanya sebagai pengarah, motivator, fasilisator dan mendidik. Banyak orang hebat yang tidak bersekolah tapi dari hal etika, norma dan sopan santun masih jauh dari mereka yang bersekolah. Lain halnya ketika mereka ditempa dari pendidikan agama yang bagus, sekolah di tempat yang bagus (fasilitas lengkap dan guru yang berkompeten didalamnya), insya Alllah lepas dari pendidikan ini mereka jauh lebih baik dari mereka yang tidak bersekolah walaupun sama-sama sukses.

Saya memang berkecimpung di dunia pendidikan dan yang menjadi hal penting yang saya bicarakan untuk hal ini adalah yang berhubungan dengan “Full Day School”. Pro dan kontra itu hal biasa, itulah hidup. Kalau hidup itu hanya datar saja kurang bergairah, menoton tentu tidak indah. Ttapi ketika hidup itu banyak kerikil-kerikil tajam di dalamnya maka akan menjadi tantangan. Kritikan, masukan untuk kehidupan yang lebih baik. Berganti presiden berganti pula menteri , berganti mentri berganti pula kurikulum. Untuk tahun ini sekolah SMA di bawah naungan provinsi yang menggunakan kurikulum 13 yang di dalamnya ada embel-embel “Full Day School” . Sekolah selama 5 hari dan pulangnya jam 15.45 wib kecuali hari Jumat yang pulangnya jam 11.45 wib. Hari Sabtu diisi dengan kegiatan ekstra kurikuler.

Baca Juga :  51 Tahun Indonesia Menambang Kerugian

Banyak pro dan kontra yang keluar dari bibir masyarakat. Salah satunya adalah siswa terlihat lelah karena waktu banyak dihabiskan di sekolah. Siswa tidak bisa mengikuti kegiatan di luar sekolah misalnya, les, mengaji, membantu orangtuanya dan lain-lain. Positifnya siswa bisa bercengkrama dengan keluarganya. Di hari Sabtu dan Minggu,banyak hal yang intens yang dibicarakan di rumah bersama anggota keluarga. Lain halnya dengan guru, sebagai guru professional tetap menjalankan tugas dan tanggung jawab sesuai dengan porsinya dan tidak bertentangan dengan agama, Pancasila dan UUD 1945.

Terlepas semua tergantung dari individu yang menjalaninya, ketika segala sesuatu dijalani dengan ikhlas, insya Allah akan membuahkan hasil yang maksimal. “Full Day School” untuk kota Tanjungpinang baru dijalani semester ini, tinggal bagaimana sekolah menanggapi hal yang positif terhadap wali murid dan menjelaskan secara detail tentang fungsi dan manfaat dari “Full Day School” tersebut. Fungsi dari Full Day School menurut pendapat saya adalah siswa selama kurang lebih 8-9 jam berada di sekolah menerima ilmu dari guru, baik formal maupun nonformal intens selama 5 hari yang berada di sekolah ditambah beberapa jam dari jam biasa normal. Manfaatnya banyak yang didapat dari kedua belah pihak baik siswa maupun guru. Bagi siswa belajar jauh lebih full dan sekolah sepenuhnya bertanggung jawab terhadap kemampuan anak didiknya. Siswa juga diberi kesempatan untuk istirahat dirumah hari sabtu dan berkumpul besama keluarganya masing-masing. Buat siswa dengan waktu yang dipersingkat menjadi lima hari membuat mereka bereksplorasi,berimajinasi dan mengeluarkan uneg-uneg mereka jauh lebih terarah dan terbimbing. Tugas atau pekerjaan rumah menjadi beban tersendiri buat peserta didik di sekolah karena waktu yang relative singkat membuat mereka benar-benar bisa amembagi waktu semaksimal mungkin. Kemudian Kelelahan dari masing-masing individu menjadi beban tersendiri buat guru. Guru harus mempunyai strategi pembelajaran yang jitu,metode pembelajaran yang bervariasi,media pembelajaran yang up to date sesuai anak zaman now,katanya.

Baca Juga :  Waspadai Darurat Maksiat saat Pergantian Tahun

Semua diatas hanya sekelumit saja. Penampilan juga menjadi sangat prioritas ketika guru tersebut berada di dalam kelas. Dengan penampilan rapi, bersih dan mempunyai ciri khas tersendiri akan membuat pembelajaran menjadi sangat menyenangkan. Penampilan hanya bonus, tapi penting. Apalagi pembelajaran di sekolah akan terasa membosankan pada saat-saat 4 jam terakhir. Di sinilah profesionalisme seorang guru dituntut. Guru yang berkualitas adalah guru yang bisa menempatkan diri dalam situasi apapun dengan berbagai trik yang menghipnotis siswa-siswi untuk tetap belajar dan mendengarkan apa-apa yang disampaikan oleh guru. Siswa merasa kehilangan sosok guru ketika beliau tidak hadir di sekolah, siswa merasa rindu dengan pembelajaran yang diberikan.

Belajar di sini yang dinginkan di kurikulum K 13 adalah adanya proses perubahan secara signifikan dari individu siswa ke arah yang lebih baik. Memberi kesempatan kepada siswa untuk bereksplorasi untuk berbagai hal,tidak dari segi pembelajaran saja tapi bakat dan minat dari siswa -siswi terarah mau dibawa kemana nantinya masa depan mereka. Di zaman now ini tidak ada lagi paksaan dari orang tua atau guru untuk membentuk masa depan mereka, tapi siswa diberi bimbingan, arahan bakat dan minat ini mau dibawa kemana oleh mereka. Merekalah yang menentukan masa depan mereka, bukan kita guru ataupun orang tua.

Tantangan terbesar dari beberapa sekolah yang pernah saya singgahi adalah banyak permasalahan-permasalahan kecil yang dihadapi oleh siswa-siswi salah satunya adalah kurangnya perhatian ayah atau ibunya terhadap anaknya, disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya karena hubungan orang tua yang kurang harmonis dengan anaknya, kemudian orang tua yang berpisah, orang tua yang bekerja berbeda daerah, sehingga mereka (anak didik) mencari perhatian di sekolah, dia menjadi orang yang ingin diperhatikan atau bahkan mencari-cari perhatian untuk dapat pengakuan. Di sinilah tugas guru tidak saja mengajar sesuai kurikulum tapi juga mendidik, memberi arahan, ketika ia mulai goyah beradaptasi dengan lingkungannya atau mereka tidak dapat pengakuan di rumah.

Baca Juga :  Mengembalikan Pendidikan Pancasila

Tugas guru tidak terlepas saja buat mereka yang mengajar di sekolah, tapi juga buat mereka yang berbagi ilmu untuk orang lain dan orang lain dapat memanfaatkan ilmunya untuk orang banyak. Dalam salah satu hadist nabi mengatakan bahwa ada tiga hal yang penting ketika jasad sudah kembali kepada sang khalid dan amalannya masih terus berlanjut yaitu doa anak saleh, amal jariah, dan ilmu yang bermanfaat.

Akan lebih baik menekankan opsi yang ketiga yaitu ilmu yang bermanfaat. Ketika seseorang bisa memberikan ilmunya dan bermanfaat buat orang lain maka amalannya akan terus masuk kedalam dirinya sepanjang ia ikhlas memberikan ilmunya. Begitu berharganya profesi seorang guru. Bukan berarti dua opsi sebelumnya tidak penting. Saat saya kuliah di salah satu universitas terkemuka di Pekanbaru sangat sedikit mereka yang ingin melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi mengambil FKIP. Berbeda dengan zaman now, mereka semua berbondong-bondong mengambil fakultas keguruan dan ilmu pendidikan dan mereka tahu bahwa profesi guru begitu berharga dan diperhitungkan.

Di media sosial baru-baru ini terdengar sangat miris mengenai guru yang ada di daerah Sampang, Madura, Jawa Timur. Seorang guru begitu tidak berharganya, begitu dianggap sepele pekerjaannya, sampai-sampai siswa-siswanya berani mencekik gurunya. Ini salah satu kasus yang mencoreng dunia pendidikan. Walaupun pelakunya siswanya sendiri dan telah dihukum 7 tahun penjara. Ini menjadi pelajaran kita semua, tidak guru saja, tapi semua lapisan masyarakat untuk tetap menghargai, menghormati profesi guru. Ruang gerak guru tidak terbatas lagi, apa-apa lapor KPAI, alangkah lucunya negeri ini, ketika prestasi yang luar biasa yang muncul kepermukaan dipersulit untuk meraihnya, ketika aibnya muncul kepermukaan walaupun tujuannya baik, dibesar-besarkan biar dihukum dan diproses.

Semuanya sebenarnya berpulang dari kita semua mau kurikulum apa yang digunakan, mau K 13, KTSP atau yang lainnya, yang jelas Pemerintah melalui kementrian Pendidikan sudah mengkaji bahkan mensurvei , menguji cobakan kurikulum tersebut. Baik atau tidak baik semua tergantung pelaksanaan dilapangan. Guru merupakan tokoh sentral dari semuanya dan siswa sebagai objek untuk terlaksananya proses pembelajaran. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here