Polemik antara Penipuan atau Keberuntungan

0
1446
FOTO BERSAMA: Relawan UN Swisindo foto bersama di kantornya di Tanjungpinang, kemarin. f-yoan/tanjungpinang pos

UN Swissindo, Fenomena Baru di Tanjungpinang 

UN Swissindo sudah masuk ke Tanjungpinang. Mereka ini melakukan kegiatan
penawaran pelunasan kredit. Benarkah ini untuk membantu atau ada unsur lain? Masyarakat pun tetap diminta hati-hati.

TANJUNGPINANG – Ruangan ruko lantai 2 di kawasan Batu 5 Bawah itu tampak penuh dengan warga Tanjungpinang, suara riuh tersebut menggaung di segala sisi ruangan. Ada apa?

Tidak sedikit yang terpaksa mendekatkan kuping ke arah bibir lawan bicara demi menangkap percakapan dan tidak sedikit juga yang senyum puas.
Padahal di luar sana, tidak sedikit juga warga Tanjungpinang yang membangun benteng proteksi dari United Nations Swissindo.

Awak media ini memberanikan diri berkunjung langsung ke markas UN Swissindo yang sedang menjadi buah bibir masyarakat Tanjungpinang itu, khususnya yang sedang mengalami permasalahan dengan perbankan dalam hal piutang.

Segala duga berkecamuk dalam kepala, mengingat betapa hebohnya pembicaraan masyarakat tidak hanya di Tanjungpinang, melainkan seluruh Indonesia.

Beberapa bekal informasi, baik melalui masyarakat maupun berselancar di jejaring internet sudah dikantongi sebagai bahan percakapan. Anehnya hanya sedikit sekali media siber yang memandang positif dari kelompok organisasi yang mengaku sudah mengantongi uang sebesar Rp 4.500 triliun untuk kemaslahatan warga tersebut.

Baca Juga :  Tabrak Motor, Seruduk Minimarket

Adalah Herman, yang menyambut kedatangan wartawan Tanjungpinang Pos di ruko penjahit Pangeran tersebut. Perawakan yang tinggi dengan kulit putih bersih sudah cukup menjelaskan bahwa Herman memiliki kemampuan daya pikir yang patut dipertimbangkan.

Ia begitu ramah menyambut semua tamunya. ”Silahkan duduk Mas, apa yang perlu saya bantu dalam memberikan informasi,” kata dia bertanya dengan nada bersahabat.

Seperti seorang peramal sakti, Herman seakan mampu menebak kecamuk pertanyaan yang ingin dilontarkan. ”Kalau sudah wartawan datang kemari, apalagi kalau bukan untuk mengupas apa itu UN Swissindo Mas,” ujar mantan pejabat salah satu bank swasta tersebut.

Dari pantauan langsung di lapangan, tak kurang 50 warga Tanjungpinang yang silih berganti untuk mengisi formulir yang mereka sebut dengan M-1 tersebut.
Hanya berbekal fotokopi KTP, pas foto dan cap jempol, warga diyakini sudah mendapatkan jaminan dengan nilai yang cukup menggiurkan yakni jaminan pembebasan hutang individu hingga Rp 2 miliar. Bahkan, di spanduk berukuran sedang tersebut juga mencantumkan sejumlah angka yang mampu bikin logika sibuk mencari jawaban.

Baca Juga :  Lima ABK Dinyatakan Hilang di Laut

”Setiap warga negara pemilik KTP-el berhak mendapatkan USD 1.200 per orang serta jaminan pelajar sebesar USD 600,” begitulah isi tulisan spanduk yang sengaja berwarna merah itu.

Untuk di Tanjungpinang, Herman mengaku organisasi ini sudah berdiri sejak setahun silam, sementara di Indonesia sudah berdiri sejak tahun 2008 yang lalu.

”Kalau kami penipu, kenapa tidak ada satupun penegak hukup yang berupaya untuk mencegah eksistensi kami. Kalau kami merugikan warga, tentu sudah lama kami dipenjarakan. Tapi buktinya hingga detik ini kami baik-baik saja,” jelas Herman yang tidak menyangkal atas segala tudingan yang ditujukan untuk UN Swissindo.

Bahkan, orang yang menjabat sebagai pimpinan Swisindo Tanjungpinang beserta relawan lainnya turut menantang pejabat hukum maupun pemerintah jika memang terbukti melakukan indikasi tindak pidana.

Baca Juga :  Bulan ini, Hasil Tes SKB CPNS Diumumkan

”Saya tidak marah atas tudingan apapun yang ditujukan kepada kami dan kami tidak memaksa siapapun untuk terlibat. Saran saya, pahami dulu sebelum berkomentar,” bebernya dengan berani.

Salah satu pengamat sosial masyarakat, Iwan Fauzi mengatakan, meski program yang ditawarkan cukup sederhana, yakni membantu penyelesaian piutang antara kreditur dengan perbankan namun imbauan kepada masyarakat hendaknya tetap berhati-hati dan senantiasa berpikir dengan matang sebelum mengambil tindakan.

”Proteksi itu perlu, karena yang diserahkan adalah identitas diri, kedewasaan berpikir dan pengayaan informasi adalah poin penting sebelum membuat sebuah keputusan,” kata dia.

Apapun itu, UN Swissindo sudah mampu menjadi bahan pembicaraan hangat di tengah masyarakat, dari mulai isu terkuaknya harta karun Bung Karno, hingga kepada pelunasan hutang Amerika kepada Indonesia yang nilainya tidak terbatas.(YOAN S NUGRAHA)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here