Polemik Corat-Coret

0
629
Dian Fadillah

(Jangan sampai Menodai)

Oleh: Dian Fadillah, S.Sos
Wakil Ketua DPD Mapancas Prov Kepri

Arti corat coret dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah 1/co·ret/ /corét/ n garis panjang, coreng, garis-garis yang tidak keruan (pada kertas dan sebagainya); Mencoret berarti 1 membubuhi coretan pada tulisan dan sebagainya; mencoreng; menggaris panjang; 2 ki tidak memasukkan ke dalam bilangan (hitungan dan sebagainya); menghapuskan; meniadakan: karena tidak membayar iuran berbulan-bulan, pengurus ~ namanya dari daftar anggota. Artian corat coret diatas merupakan Aktivitas yang dilakukan pasca Ujian nasional Berbasis Komputer dan Ujian Semester Berbasis Komputer (UNBK/USBK) berakhir. Setiap peserta ujian sudah dengan semangat tinggi menggenggam harapan masing-masing. Tentu saja menunggu kabar dan harapan baik yang diwakili dengan satu kata, “LULUS”.

Secaara Klasiknya, tidak ada harapan untuk menunggui tidak lulus meskipun tidak ada satupun orang di dunia yang maunya tidak lulus. Secara noramtif setiap peserta sudah menjalankan ujian dengan bersusah payah serta berusaha keras. Bagaimana tidak durasi waktu yang dilalui selama masa tiga tahun belajar ditentukan dengan ujian hanya empat hari. Apakah itu dapat terwakilkan untuk sebuah hasil. Selusuh Siswa-siswi yang mengikuti ujian ini tidak hanya mengharap lulus UN akan tetapi lebih dari itu.

Mereka sangat berharap dapat nilai UN sesuai target. Misalnya siswi Sekolah “S” inisital “A” memasang target rata-rata nilai UN cukup tinggi yaitu 9 atau 95 untuk mata ujian Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia atau pelajaran lain yang di UN kan.”Harapannya adalah pada saat kelulusan maka nilai itu harus tercapai atau setidaknya mendekati seperti 8 atau 8,5. Nilai yang diperoleh akan membanggakan diri sendiri, Sekolah dan tentunya oangtua apalagi nilainyanya 100 maka akan dapat apresiasi dari kepala sekolah dan Kepala daerah masing masing.

Menurut sebagai siswa bahwa , target nilai rata-rata UN yang ditetapkannya lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata UN Dekolah Apalagi anak yang bersangkutan dengan semangat ingin engikuti jejak dua kakaknya/kakak kelasnya yang pada UN 2016 mendapatkan prestasi sebagai siswa dengan nilai UN tertinggi se-kepri dan masuk 10 besar nasional tentunya itu perdiket yang sangat menyenangkat.”Kalau pada saat pengumuman nilai tertinggi saja belum tahu dapat diperoleh bagaimana mau bahagia secara penuh ? apalagi tidak lulus pasti akan menjadi beban di tengah kawan-kawannya, keluarga ataupun di masyarkat. Itu semua dioserahkan dan bertawakal kepada Allah. Setidaknya nilai yang diperoleh tidak berbeda jauh dalam optimistis untuk dapat meraih prestasi bagus sehingga harapan masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang diiginkan dapat tercapai.

Corat coret yang bagi sebahagian masyarakat menjadi masalah dengan berbagai alasan. Bagi seorang pendidik di Tanjungpinang berinisal “JL” menyatakan bahwa Corat coret itu boleh saja dilakukan karena itu apresiasi anak terakhir sebelum mereka menempuh kehidupan nyata dalam dunia kerja ataupun dunia perkuliahan. Saat dimana keberadaan mereka sudah berpencar dan berpisah serta Entah kapan lagi waktu dan kesempatan untuk bertemu kembali.

Pengumuman yang selayaknya diumumkan berkumpul dengan memberikan Paper List (kertas) di Sekolah pada tahun sebelumnya maka pada saat ini Pengumuman Kelulusan siswa Kelas XII tahun ajaran 2016-2017 diumumkan pada Wesite Sekolah masing masing pada Hari Selasa, 02 Mei 2017 sehingga siswa tidak perlu datang ke Sekolah, tidak perlu mencorat Coret, dan tidak perlu konvoi. Tujuan dan maksud sekolah itu adalah agar siswa siswi dapat mengaplikasikan kebahagiaannya secara lebih terarah. Hal senada juga disampaikan oleh Sylvia Anggraini dan Sherlly Agusriyanti siswa Kelas X UPW 1 SMK Negeri 1 Tanjungpinang. Mereka sebagai adek kelas memberikan pendapat bahwa ada 3 hal yang menyebabkan terjadinya aksi corat coret :

1. Tradition Culture
Sebagai sebuah kebiasaan Aksi corat coret merupakan aksi tahunan yang sudah dilakukan secara turun temurun tentunya apabila tidaki ada akan menjadi suatu pemandangan yang aneh karena aktivitas itu akan diikuti dengan konvoi kendaraan bermotor di jalan raya yang secara identik akan diikuti oleh Pihak kepolisian dan Satpol PP serta aparat lain yang terkait. Hal ini seperti sesuatu pemandangan tahunan sebagai sesuatu yang rutin sudah dilakukan oleh kakak abang kelas tahun sebelumnya ataupun pendahulu sebelumnya

2. The Great Moment
Saat yang tepat, saat yang sesuai dengan penentuan/pengumuman kelulusan. Saat dimana bercampurnya rasa bahagia sedih ketawa dan tangis dalam diri yang diungkapkan dengan gembira hingar binger sebagai sebuah kenangan yang tidak terlupakan

3.Ever want to see the light of day
Kita tidak akan pernah bertemu lagi saat sepertiini dimana masa masa remaja yang dikenal labil semangat tinggi emosional akhirnya tamat juga dari SLTA sederajat dan mereka ingin menikmati masa itu sehingga timbul semangat baru untuk memulai melihat terangnya hari esok meskipun sebahagian besar tidak tahu akankah bekerja atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Ungkapan perasaan yang ditumpahruahkan merupakan refleksi gabungan gembira ria seorang anak manusia apalagi sudah terlepas bebannya selama 3 tahun bersekolah. Muncul sikap sikap sedikit memberontak akan situasi yang dikungkung selama ini. Meskipun demikian tidak sedikit mereka yang lulus melakukan tindakan anarkis dan berdampak negative kepada masyarakat sekelilingnya terutama padaa saat The Youngstress melakukanb Konvoi secara beramai- ramai.

Seharunya masih banyak cara mensyukuri nikmat yang Allah swt berikan karena memperoleh rezeki atau terkabulnya niat mendapatkan sesuatu diantaranya Sujud syukur, mencium tangan orangtua dan guru, dan bersedikan. Meskipun demikan euphoria kelulusan setidaknya dapat memberikan gambaran untuk kita semua bahwa “ tamatnya sekolah dari suatu tingkat bukan berarti kehidupan sudah selesai”. Kita masuh punya banya tanggungjawab untuk diselesaikan yaitu bekerja agar tidak menjadi benan oangtua, kuliah dengan biaya sendiri sampai dengan menikah dengan orang lain. Itulah akhir sebuah cerita anak muda sehingga beban oangtua sebagai pemilik hak paten kepada anak akan dapat terleselesaikan dengan maksimal.

Semoga polemik corat coret ini tidak menjadi suatu masalah apalagi kalau menodai arti pendidikan itu sendiri. Selamat menerima kelulusan adek adekku semoga generasi kalian dengan pendidikan akan dapat mengangkat penilaian Negara luar kepada Indonesia.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here