PPTMA Lingga, Mengangkat Roh Tradisi

0
739
Dedi Arman

(Sebuah Catatan)

Oleh: Dedi Arman
Staf Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepri

Pemkab Lingga menggelar Perhelatan Pemuliaan Tamadun Melayu Antarbangsa (PPTMA) tanggal 17-26 November 2017 mendatang. Ini event kebudayaan terbesar yang digelar sejak Kabupaten Lingga berdiri. Sebelumnya event kebudayaan yang pernah digelar di Lingga hanya Ramai Seni Budaya Melayu (RSBM) Kabupaten Lingga dan Parade Tari Daerah Provinsi Kepri. Barulah tahun ini dibuat helat akbar bersempena Hari Jadi Kabupaten Lingga ke-14.

Ada sejumlah catatan dan harapan dengan kegiatan PPTMA ini. Tanpa mengenyampingkan harapan untuk kehadiran Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam kegiatan ini, namun ada hal besar yang mengembirakan. Sultan Mahmud Riayat Syah (SMRS), Yang Dipertuan Besar Kesultanan Riau Lingga Johor dan Pahang diangkat sebagai pahlawan nasional tahun 2017. Dalam helat PPTMA, Pemkab Lingga menggelar malam apresiasi dan syukuran pengangkatan SMRS sebagai pahlawan nasional. Ini momen yang hebat bagi masyarakat Kepri, khususnya masyarakat Lingga.

Kita mengapresiasi Pemkab Lingga melalui Dinas Kebudayaan Lingga yang telah memilih sejumlah kegiatan dalam helat PPTMA. Ada upaya mengangkat roh tradisi. Ada pertunjukkan permainan tradisional, penampilan teater khas Melayu, seperti bangsawan makyong. Selain itu juga festival tari dan musik Melayu. Tak ketinggalan acara seminar Tamadun Melayu, pameran,bazar kuliner dan pawai budaya, serta mendaki gunung. Intinya dalam PPTMA berbagai khazanah budaya Melayu ditampilkan. Potensi-potensi budaya itu semuanya dipertunjukkan kepada khalayak. Inilah kekayaan Lingga sebagai Bunda Tanah Melayu, bukan sekedar julukan belaka.

Baca Juga :  Pertanggungjawaban di Hadapan Allah SWT

Membawa nama ‘Tamadun Melayu’ diharapkan kegiatan Pemkab Lingga ini jangan seperti pohon pisang yang berbuah hanya sekali dan setelah itu mati. Pemprov Kepri melalui Dinas Kebudayaan Kepri yang punya catatan buruk soal ini. Event Tamadun Melayu yang dibuat tahun 2012 tak berkelanjutan. Belakangan Pemprov Kepri membuat perhelatan besar lagi bertajuk Festival Bahari Kepri. Meski bertajuk ‘bahari’ event-event yang digelar dalam festival hanya sebagian kecil yang menunjukkan sisi kebaharian. Lebih tepat kalau kegiatannya disebut festival budaya saja. Ada penampilan grup band Wali dari Jakarta, panggung penyair, festival drum band, pentas seni dan festival Gurindam 12. Ini tak ada kaitan langsung dengan tajuk bahari.

Kesuksesan penyelenggaraan PPTMA sangat tergantung kelihaian Bupati Lingga mengkoordinasikan semua organisasi perangkat daerah (OPD) untuk mensukseskan kegiatan. Semuanya bekerja sesuai dengan peran masing-masing dan tak hanya mengandalkan Dinas Kebudayaan Lingga. Koordinasi yang intensif juga gencar harus dilakukan ke provinsi, lembaga adat, termasuk ke mitra yang nantinya terlibat dalam kegiatan. Termasuk kerjasama dengan seniman dan budayawan lokal juga penting untuk kesuksesan kegiatan. Jangan mereka jadi tamu dan penonton saat event budaya besar dibuat di kampungnya.

Baca Juga :  Komoditi Pertanian Inflasi, Siapa yang Menikmati?

Selain masalah kepesertaan, kelancaran dan kesuksesan PPTMA sangat ditentukan kesiapan akomodasi penginapan dan transportasi. Daik Lingga belum memiliki hotel berbintan yang representatif. Hanya satu hotel yang daya tampungnya cukup besar, yakni Hotel Lingga Pesona, selebihnya hanya penginapan-penginapan kecil. Bisa dibayangkan jika rombongan Wapres Jusuf Kalla dan rombongan datang ke Lingga. Belum lagi rombongan dari negara serumpun. Termasuk rombongan gubernur dan jajaran, termasuk dari forum komunikasi pimpinan daerah (Forkominda). Penginapan penuh. Rumah penduduk jadi solusi. Betapa hebat kegiatan kalau akomodasi penginapan tak dikelola baik nantinya berdampak bagi nama baik Kabupaten Lingga.

Transportasi laut dalam penyelenggaraan PPTMA juga hal penting yang harus dijaga. Kesiapan transportasi dari Tanjungpinang ke Lingga, termasuk dari Batam ke Lingga. Transportasi dalam daerah juga jangan dianggap sepele. Masyarakat Lingga dari berbagai kecamatan bakalan menyerbu Daik Lingga selama event PPTMA digelar. Transpotrtasi laut yang layak harus jadi perhatian. Transportasi darat juga jadi catatan. Adanya layanan transpotasi dari pelabuhan menuju ke tempat kegiatan. Mobil dan motor sewa bakal laku dan ini perlu dikelola dengan baik oleh panitia. Kalau tak diatur dengan baik nantinya berdampak pada imej Kabupaten Lingga.

Berkaca pada helat yang pernah ditaja sebelumnya, partisipasi masyarakat untuk menonton perlu jadi perhatian. Helat sukses kalau penontonnya membludak. Disinilah sangat penting peranan panitia dalam sosialisasi event PPTMA melalui media massa atau pun sarana lain. Masyarakat bisa mengetahui jadwal kegiatan. Dengan kultur masyarakat Lingga yang masih peduli dengan budaya, diyakini kegiatan pertunjukkan seperti bangsawan, makyong atau festival tari bakal ramai. Masyarakat antusias menyaksikan event tradisi itu digelar.

Baca Juga :  Pengentasan Kemiskinan atau Peningkatan Kesejahteraan?

Solusi mudah Dinas Pendidikan Lingga meminta sekolah-sekolah agar mengerahkan para pelajar untuk meramaikan acara selama PPTMA. Para pelajar bisa menonton dan mempelajari berbagai tradisi yang ada di daerahnya, seperti bangsawan, makyong, permainan tradisional dan juga kuliner. Orang tua juga merasa nyaman dan aman kalau ada arahan dari sekolah agar anaknya bisa berpartisipasi dalam kegiatan.

Selain soal akomodasi penginapan, transportasi, kepesertaan, kegiatan di Daik Lingga akan sukses kalau didukung kesiapan pasokan listrik. Dalam situasi normal, pemadaman listrik bergilir sering terjadi di Daik. Dengan adanya event besar ini, kesiapan masalah kelistrikan tak bisa dianggap main-main. Panitia pasti sudah memikirkan solusi soal listrik ini. Alangkah malu dan tak elok acara berantakan karena masalah listrik.***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here