President vs Supreme Leader

0
921
Andika Septianto

Oleh: Andika Septianto
Mahasiswa stie Pembangunan Tanjungpinang

Donald Trump dan Kim Jong Un, dua nama yang sudah tidak asing di telinga dunia. Donald Trump, pria 71 tahun yang menjadi Presiden Amerika Serikat ke-45 yang memulai tugasnya sejak 20 Januari 2017. Di lain pihak, Kim Jong Un, seorang pemimpin muda yang masih berusia 33 tahun, merupakan pemimpin dari Negara tertutup Korea Utara.

Kedua pemimpin ini bak air dan minyak, konflik selalu ada diantara kedua pemimpin ini. Sebagai presiden, masyarakat menilai Trump sebagai pribadi yang arogan, intoleran, sangat tegas dan kontroversial, dikarenakan banyak tindakan-tindakannya yang dinilai kurang baik dan merugikan masa depan negaranya. Sedangkan Kim Jong Un, merupakan pemimpin yang dihormati sekaligus ditakuti oleh negaranya sendiri. Nyawalah bayarannya jika ada kesalahan yang terjadi di negaranya.

Sejak terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat, kepercayaan warga internasional terhadap presiden Amerika Serikat menurun drastis, terutama di sejumlah negara Eropa dan Asia. Dari survey yang dilakukan di 37 negara, hanya 2 negara yang memberi penilaian positif yang lebih tinggi dari presiden Amerika sebelumnya, Barrak Obama, yaitu Israel dan Rusia. Salah satu rencana Trump yaitu pembangunan tembok di perbatasan Amerika-Meksiko mendapat penolakan dari 94% masyarakat.

Kim Jong Un mulai memimpin Korea Utara sejak kematian ayahnya, kim Jong Il, pada Desember 2011. Kim Jong Un dianggap pemimpin diktator yang berbahaya oleh masyarakat dunia. Bahkan, Kim Jong Un dinilai sebagai pemimpin yang lebih kejam dibanding pendahulunya, yaitu ayahnya Kim Jong Il,dan Kakeknya Kim Il Sung. Sekutu terbesar Kim Jong Un adalah China dan Rusia, selain itu Kim Jong Un tidak memiliki banyak kerja sama dengan negara lain.

Disinilah perseteruan antara kedua pemimpin terjadi. Dari tahun-tahun sebelumnya, Korea Utara terus menerus melakukan uji coba nuklir dan rudal. Uji coba ini tentunya menjadi ancaman Internasional. Donald Trump mengancam dan mengingatkan Kim Jong Un untuk menghentikan uji coba nuklir tersebut. Tetapi Kim Jong Un menanggapi itu dengan ancaman balik untuk menyerang pangkalan militer Amerika di Guam dan akan menyatakan perang dengan Amerika. PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) juga telah mengecam tindakan Korea Utara. PBB meminta Amerika dan Korea Utara untuk berdialog demi tidak terjadi perang yang tentunya akan merugikan kedua negara begitu juga negara internasional lainnya. Swiss pun telah menyatakan bersedia untuk berperan sebagai penengah negosiasi.

Sampai saat ini negosiasi masih belum terlaksana, yang terjadi adalah perang mulut antara Donald Trump dan Kim Jong Un yang saling mengecam dan menghina. Sampai detik ini, belum ada tanda-tanda Korea Utara akan menghentikan program nuklirnya, melainkan beberapa pihak mengklaim bahwa Korea Utara telah berhasil menciptakan Bom Hidrogen. Sebuah bom yang jauh lebih berbahaya dari Bom Nuklir itu sendiri. Saat ini Amerika masih mencoba untuk melakukan negosiasi tetapi belum ditanggapi dengan baik oleh Korea Utara.

Tanggapan saya sebagai penulis untuk krisis ini, yang pertama alangkah baiknya untuk Presiden Amerika Donald Trump untuk lebih tenang dan jangan terprovokasi oleh aksi dan perkataan Kim Jong Un. Negosiasi harus selalu dicoba guna mencapai kedamaian. Karena jika terjadi perang antara kedua negara, itu hanya akan merugikan kedua negara itu sendiri dan juga negara lainnya. Dan yang paling dirugikan adalah masyarakat-masyarakat yang tidak bersalah yang menjadi korban perseteruan pemerintah negara mereka.

Di lain pihak, alangkah baiknya jika Kim Jong Un dapat memulai dari awal. Dari awal berarti untuk menghentikan sistem pemerintah yang dilaksanakan pemimpin-pemimpin pendahulunya, dan memulai sistem pemerintahan yang baru. Kim Jong Un harus menghentikan ambisinya untuk melakukan uji coba nuklir dan rudal, dan sebaiknya lebih memikirkan perdamaian rakyatnya sendiri. Jika dia tetap melanjutkan uji coba nuklir tersebut, hal itu kelak akan menjadi pedang bermata dua, dimana uji coba itu kelak akan merugikan dirinya dan negaranya sendiri. Salah satu skenario terburuknya adalah perang nuklir dengan amerika. Jika Kim Jong Un menyerang amerika, tentunya amerika akan menyerang balik, ditambah lagi Amerika memiliki banyak sekutu yang memiliki kemungkinan untuk membantu Amerika dalam perang tersebut.

Hal paling bagus yang dapat dilakukan adalah kedua negara dan kedua pemimpin yaitu Donald Trump dan Kim Jong Un dapat mengesampingkan masalah pribadi dan juga mengesampingkan masa lalu, melakukan negosiasi dan menghentikan semua konflik-konflik yang sudah berpuluh-puluh tahun tak kunjung selesai. Damai Itu Indah.. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here