Produksi Beras Kepri Hanya 0,2 %

0
118
Penanaman padi di sawah Desa Gunung Putri Kecamatan Batubi Natuna, baru-baru ini

Penambahan Sawah Terus Berlanjut

Produksi gabah kering di seluruh persawahan di Provinsi Kepri hanya mampu memenuhi 0,2 persen kebutuhan beras warga Kepri setiap tahun. Itu pun karena sudah banyak sawah yang dibuka sejak tahun 2016 di Lingga dan Natuna.

DOMPAK – Berdasarkan data dari Dinas Pertanian, Peternakan dan Ketahanan Pangan Pemprov Kepri, luas sawah di Kepri saat ini sekitar 1.076 hektare. Sawah yang sudah ditanami sekitar 362 hektare dengan produksi beras 2,1 ton per hektare dan satu tahun dua kali panen.

Artinya, produksi beras setahun dari seluruh sawah yang sudah ditanami di Kepri sekitar 1.520 ton saja atau 0,2 persen. Sedangkan kebutuhan beras di Kepri setahun sekitar 760 ribu ton atau sekitar 2.082 ton sehari.

Sehingga, produksi beras Kepri satu tahun tak mampu menutupi kebutuhan warga Kepri satu hari.

Beras sebanyak 760 ribu ton tersebut untuk dikonsumsi penduduk Kepri yang jumlahnya saat ini diperkirakan 2 juta hingga 2,1 juta jiwa.

Namun, belum diketahui apakah ini sudah terhitung dengan kebutuhan wisatawan nusantara (wisnus) di Kepri yang diperkirakan 5-7 juta jiwa setahun dengan waktu lama tinggal 4-7 hari dan wisatawan mancanegara sekitar 2,3 juta hingga 2,5 juta setahun dengan lama tinggal 1-3 hari di Kepri.

Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Ketahanan Pangan Pemprov Kepri Ahmad Izhar mengatakan, tahun 2019 ini cetak sawah baru masih terus dilakukan di Kepri.

”Tahun ini 100 hektare sawah baru akan dicetak lagi di Lingga,” ujarnya kepada wartawan di Dompak, Jumat (11/1).

Ketika ditanya apakah ada batasan berapa hektare sawah yang akan dicetak di Lingga, Ahmad Izhar mengatakan, sejauh ini tidak ada pembatasan. Selagi ada lahan dan cocok untuk persawahan, maka pencetakan sawah akan terus dilakukan.

Kementerian Pertanian RI, kata dia, sejak 2016 lalu menjalankan program pencetakan sawah di seluruh daerah di Indonesia termasuk di Kepri. Anggaran untuk membuka persawahan Rp16 juta per hektare.

Untuk daerah Pulau Jawa, anggaran sebesar itu sudah mencukupi atau bisa lebih. Namun untuk Kepri, anggaran sebesar itu sangat minim untuk membuka persawahan mengingat lokasinya yang jauh dan biaya transportasinya berat karena melewati laut.

”Ongkos membawa alat beratnya ke lokasi itu sudah berapa? Belum lagi untuk mengerjakannya hingga jadi, membuat irigasi, bibit, pupuk dan lainnya. Tapi karena menyangkut ketahanan pangan, tetap harus dibuka,” ungkapnya.

Berdasarkan data dari Kementan, luas persawahan di Indonesia makin berkurang setiap tahun. Sawah banyak dibangun untuk rumah, industri dan penggunaan komersil lainnya.

Karena itulah, Kementan membuat kebijakan baru untuk mencetak sawah di lahan tidur yang kerja sama dengan pemerintah daerah termasuk dengan TNI. Jika pencetakan sawah tidak dilakukan, maka Indonesia akan mengimpor beras.

Ini yang rawan. Kalau beras produksi sendiri, harganya masih bisa dijaga. Kalau impor terus menerus, awalnya mungkin murah. Setelah itu, harga naik setiap saat hingga akhirnya sangat mahal.

Mau tak mau tetap harus impor karena produksi beras lokal (dalam negeri) makin sedikit akibat sawah yang makin minim. Sementara kebutuhan beras makin meningkat tiap hari seiring bertambahnya penduduk. Saat ini, jumlah penduduk Indonesia sekitar 250 juta jiwa.

Jika dilihat dari biaya produksinya, maka hasil penjualan beras dari sawah di Kepri untungnya sangat tipis. Biaya produksi tinggi, namun hasilnya juga tidak begitu banyak.

Meski demikian, seluruh sawah ini akan dipertahankan. Tidak bisa dikurangi lagi, namun akan terus ditambahnya.

”Karena biaya produksi besar, maka beras Kepri ini membidik konsumen kalangan menengah ke atas. Harganya memang lebih mahal. Tapi kualitasnya juga bagus. Itulah beras lokal kita,” ungkapnya didampingi beberapa stafnya.

Sawah di Kepri yang sudah dicetak, selanjutnya akan diusahai masyarakat. Yang bertani adalah mereka penduduk transmigrasi.

”Kan masih ada yang sisa itu penduduk transmigrasi yang lalu di Lingga, Natuna dan Anambas. Kalau di Anambas, ada di Letung. Memang, penduduk trans yang bersawah di sana,” beber mantan Kadis Pertanian Pemkab Bintan tersebut.

Data nasional, produksi beras Indonesia tahun 2018 sekitar 32,4 juta ton. Kebutuhan beras warga Indonesia setahun sekitar 110 Kg/orang. Jika penduduk Indonesia sekitar 250 juta jiwa, maka kebutuhan beras Indonesia sangat tinggi.(MARTUNAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here