Profesi Guru Kurang Diminati

0
402
Syarifah Nurfadilah

Oleh: Syarifah Nurfadilah
Mahasiswa jurusan Tadris Bahasa Inggris
STAI Miftahul Ulum Tanjungpinang

Dulu, menjadi guru adalah cita-cita mayoritas pelajar. Namun di era milinial ini, jurusan-jurusan yang berhubungan dengan keguruan semakin sedikit peminatnya dibandingkan dengan jurusan lainnya. Teknik mengajar saat ini tentu sangat berbeda jauh dengan sistem pengajaran yang sudah-sudah. Di era milinial ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan ilmu teknologi sudah semakin pesat. Para guru dituntut untuk menguasai teknologi sebagai media belajar mengajar.

Umumnya pelajar kini memiliki smartphone. Mungkin mengajar dengan menggunakan teksbook akan membuat siswa menjadi jenuh. Akibatnya banyak siswa yang tidak konsentrasi dengan monotonnya cara belajar. Pola belajar yang konvensional ini tentu akan membuat siswa tidak tertarik menjadi guru karena menganggap profesi guru merupakan profesi kuno yang menjenuhkan. Untuk menghindari ini, pemerintah harus cepat mengubah sistem pembelajaran yang mengikuti trend jaman dan kebutuhan dunia kerja. Jika pola mengajar tidak ada perkembangan dari masa ke masa tentu selain kualitas pendidikan di negara kita akan semakin tertinggal dibanding negara lain juga akan membuat generasi muda tidak tertarik dengan profesi yang selama ini dianggap mulia ini.

Mengajar dan mendidik pada abad 20-21 ke atas tantangannya akan semakin berat. Hal ini berhubungan langsung dengan karakter jiwa anak milenial dan teknologi akan terus berkembang. Generasi milenial cenderung bersikap “aware” teknologi, warga global, otentik, liberal, progresif, serta sikap percaya diri yang tinggi. Oleh sebab itu,guru dituntut agar bisa memenuhi kebutuhan zaman tersebut.

Kecenderungan anak suka bolos sekolah yang bisa kita lihat di berhagai tempat saat jam sekolah, ini juga dipengaruhi karena bosannya sistem belajar mengajar yang monoton, diperparah dengan pengawasan sekolah yang lemah hingga banyak siswa yang dengan mudah keluar dari sekolah saat jam belajar masih berlangsung.

Di zaman milenial ini, guru dituntut untuk memiliki karakteristik yang berbeda dari guru biasanya. Salah satunya dengan menjadi guru producer, mempelajari teknologi baru, serta mampu berkolaborasi dengan dunia digital. Teknik yang digunakan guru mesi dikaitkan dengan karakteristik peserta didik. Dengan sistem yang dinamis, maka apa yang disampaikan oleh guru akan menarik perhatian peserta didik, guru juga dituntut untuk mengaplikasikan pembelajaran melalui media sosial, terutama penggunaan sistem belajar dengan laptop atau gedget.

Khususnya gedget dipercaya mampu menambah minat generasi milenial, tidak hanya itu, kelihaian guru dengan gedget memungkinkan mudahnya mengidentifikasi peran dan karakter yang berbeda-beda pada siswa. Sehingga selain guru mampu mengoperasikan penggunaannya. Dengan meningkatkan kemampuan menggunakan teknologi, tentu ini juga sebagai upaya guru meningkatkan kompetinsi dirinya sebagai tenaga pendidik.

Ada 4 kompetensi yang harus dipenuhi oleh seorang guru yaitu kompetensi pandagogik,kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial. Jika guru dapat memenuhi 4 kompetensi tersebut, maka guru layak disebut sebagai guru yang profesional. Hal tersebut termuat juga sudah tercantum dalam UU No.14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada PAUD, jalur pendidikan formal, Pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Namun, sebagian guru belum layak dinyatakan sebagai guru yang professional, karrna masih ada yang melakukan pelanggaran norma-norma dan pelanggaran hukum yang membuat kurangnya nilai dari seorang suru. Seringkali kita melihat guru yang menyalah gunakan perannya. Contohnya saat memberikan pelajaran, lalu meninggalkan kelas saat pelajaran berlangsung dengan urusan yang tidak penting. Hal tersebut sudah dapat dikatakan suatu pelanggaran, bahkan sebagian guru dengan sengaja meninggalkan murid di kelas lalu malah asyik bercerita dengan guru lainnya.

Contoh lainnya saat guru terlambat datang saat mengajar, namun tidak dipermasalahkan, sedangkan jika murid terlambat, maka akan mendapatkan sanksi. Aapakah ini adalah tindakan adil? bagaimana kita bisa mendisiplinkan murid, jika kita sendiri masih belum bisa mendisiplinkan diri kita sendiri.

Hal tersebut merupakan contoh yang tidak baik dalam dunia pendidikan. Jika hal tersebut terus dibiasakan maka akan mendapat nilai apatis dari masyarakat terhadap profesi guru. Belum lagi ditambah dengan guru yang tidak memahami teknologi, lalu timbullah cibiran-cibiran masyarakat mengenai guru.

Apalagi para guru yang umumnya berusia diatas 40 tahun yang kurang familiar dengan teknologi. Celakanya, banyak dari mereka yang menolak mengikuti workshop tentang keprofesian, seperti diklat, bimtek, dan lain sebagainya.

Ada beberapa cara agar para guru dianggap mampu menjalani tanggungjawabnya sesuai dengan kebutuhan jaman, diantaranya jika guru mau mengikuti peningkatkan kuantitas dan kualitas kegiatan yang berkaitan dengan guru seperti bimtek, workshop, seminar,diklat dan sebagainya. Selain itu diperlukan peningkatan pelatihan di bidang kognitif , pelatihan di bidang mental dan penguatan karakter juga harus dilakukan.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here