Program Germas Sebagai Strategi Menghadapi Transisi Epidemiologi

0
372
Indra Martias, SKM, MPH

Oleh: Indra Martias, SKM, MPH
Dosen Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang

Indonesia saat ini tengah menghadapi masalah kesehatan triple burden yaitu masih tingginya penyakit infeksi menular (TB paru, ISPA, Diare dll), disamping itu meningkatnya penyakit tidak menular (Hipertensi, jantung, diabetes, dll) dan penyakit-penyakit lainnya yang seharusnya sudah teratasi dan muncul kembali (kusta, campak, rubella dll). Perubahan gaya hidup masyarakat salah satu penyebab terjadinya pergeseran pola penyakit (transisi epidemiologi). Dari paparan Menteri Kesehatan RI pada Rapat Kerja Kesehatan Nasional (Rakerkesnas) pada Bulan Februari 2019 menunjukkan penyakit tidak menular terus meningkat sebagai penyebab kematian. Peringkat 3 besar adalah stroke, jantung dan diabetes, sedangkan penyakit Alzheimer meningkat signifikan dalam 5 tahun terakhir. Meningkatnya Penyakit Tidak Menular (PTM) dapat menurunkan produktivitas Sumber Daya Manusia bahkan kualitas generasi bangsa. Hal ini berdampak pula pada besarnya beban pemerintah karena penanganan penyakit membutuhkan biaya yang besar.

Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) merupakan suatu tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup. Pelaksanaan Germas harus dimulai dari diri sendiri dan keluarga, karena keluarga adalah bagian terkecil dari masyarakat yang membentuk prilaku. Germas merupakan gerakan nasional yang mengedepankan upaya pencegahan dan promosi kesehatan sebagai payung besar tercapainya hidup sehat. Pada awalnya Germas berfokus pada 3 kegiatan besar yaitu 1) melakukan aktivitas fisik 30 menit per hari 2) Konsumsi buah dan sayur 3) Rutin melakukan cek kesehatan.

Kemudian germas berkembang dengan kegiatan lain seperti tidak merokok, tidak minum minuman beralkohol, menjaga kebersihan lingkungan dan menggunakan jamban sehat. Program GERMAS yang diluncurkan oleh Kementerian Kesehatan tentunya membutuhkan dukungan nyata lintas sektor terkait antara lain Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang berfokus pada pembangunan akses air minum, sanitasi pemukiman laik huni yang mendukung Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Transisi epidemiologi adalah keadaan yang ditandai dengan adanya perubahan dari angka kesakitan dan angka kematian. Dulunya lebih disebabkan oleh penyakit infeksi atau penyakit menular (TBC, ISPA, diare dll). Tetapi sekarang lebih sering disebabkan oleh penyakit yang sifatnya tidak menular dan penyakit penyakit yang sifatnya degeneratif (Diabetes, jantung, kolesterol, dll).

Kebanyakan orang akan peduli dengan kesehatan mereka jika telah jatuh sakit. Sehingga yang terjadi adalah saat seseorang memeriksakan diri dimana kondisi kesehatannya sudah sangat buruk. Hal ini sangat berbahaya apabila seseorang divonis oleh dokter terkena penyakit degeneratif maka tidak ada obat yang dapat menyembuhkan secara total.

Lain halnya dengan penyakit infeksi atau penyakit menular yang disebabkan oleh mikroorganisme patogen atau virus. Penyakit infeksi segera hilang setelah penderita diberikan obat. Namun hal ini tidak berlaku bagi penyakit infeksi berat seperti TBC dan HIV/AIDS.

Terjadinya perubahan pola penyakit dengan peningkatan penyakit tidak menular didorong oleh beberapa hal antara lain perubahan struktur masyarakat yaitu dari agraris ke industri, dan perubahan struktur penduduk yaitu penurunan anak usia muda dan peningkatan jumlah penduduk usia lanjut karena keberhasilan KB. Penyakit tidak menular yang berkembang di masyarakat disebabkan umumnya bawaan/keturunan, kecacatan akibat kesalahan proses kelahiran maupun pola hidup yang tidak sehat seperti dampak dari konsumsi makanan serta minuman , prilaku merokok, konsumsi alkohol , narkoba , kurangnya olahraga, tipe pekerjaan yang banyak duduk dan pola makanan berkolesterol tinggi serta kurang serat mulai banyak dilakukan oleh angkatan muda terutama perkotaan.

Siapakah yang melaksanakan Program Germas ini ?. Seluruh elemen masyarakat seharusnya melaksanakan program germas ini. Adapun bentuk-bentuk kegiatan yang sederhana yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari seperti mempraktekkan pola hidup sehat yang dimulai dari diri sendiri, keluarga dan msayarakat. Menggerakkan institusi dan organisasi masing-masing baik itu di dunia pendidikan (akademisi), dunia usaha (pemerintah dan swasta) dan organisasi masyarakat.

Dalam dunia pendidikan sebaiknya menyisipkan kurikulum pendidikan yang berhubungan dengan germas. Siswa harus sedini mungkin diajarkan pentingnya hidup sehat sehingga menciptakan generasi bangsa yang cerdas dan berkualitas. Perguruan tinggi melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat harus dapat menjadi fasilitator pengembangan program Germas ini.

Program germas ini juga harus didukung oleh kementerian dan lembaga yang terkait, bukan hanya menjadi tanggung jawab Kementerian Kesehatan sebagai leading sector tapi juga didukung oleh kementerian dan lembaga yang terkait. Bentuk dukungan kementrian PUPR terhadap suksesnya program germas ini seperti program PAMSIMAS (Penyehatan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat), BSPS (Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya), Kotaku dan bentuk kegiatan lainnya. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPPOM) juga telah menyumbang kegiatan untuk suksesnya program ini antara lain kampanye pasar aman dari bahan berbahaya, laboratorium keliling di sekolah untuk menguji jajanan anak sekolah, dan beberapa bentuk kegiatan lainnya.

Peran kabupaten /kota juga sebagai kunci penentu berhasilnya program Germas ini. Kegiatan yang perlu mendapat perhatian penuh dari pimpinan daerah yaitu (1) penyebarluasan informasi melalui media advokasi & sosialisasi ke setiap jajaran fasilitas pelayanan kesehatan primer serta jaringannya (2) Mempromosikan program Germas dengan menggandeng mitra kerja & mitra usaha di tingkat kabupaten/kota. (3) Menggerakkan setiap elemen organisasi perangkat daerah, akademisi dan organisasi masyarakat serta dunia usaha di tingkat kabupaten/kota untuk mempraktikkan pola hidup sehat (4) memfasilitasi kecamatan, desa/kelurahan untuk mendukung program Germas ini.

Organisasi kesehatan dunia (WHO) memperkirakan pada tahun 2020 penyebab kematian karena penyakit tidak menular akan mencapai 73 % dari seluruh penyebab kematian. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) terakhir menyebutkan bahwa sebanyak 60% kasus kematian di Indonesia disebabkan oleh penyakit degeneratif yaitu stroke, jantung dan diabetes. Untuk itu mari kita sukseskan Program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat sebagai salah satu strategi pemerintah dalam menghadapi transisi epidemiologi di Indonesia. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here