Program RTLH Tak Boleh Nyasar

0
475
Tinjau RTLH: Wali Kota Batam, Rudi SE saat meninjau RTLH tahun lalu. f-ist/humas pemko batam

Batam –  Pemko Batam memiliki dana Rp 2,2 miliar untuk program bedah rumah atau Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Dalam penyalurannya yang diminta harus tepat sasaran. Hal ini diungkapkan anggota Komisi IV DPRD Batam, Ruslan Pasole.

”Harus verifikasi lapangan, jangan hanya minta laporan. Jangan rumah yang disewa-sewakan atau yang kosong yang dibedah,” tegas Ruslan, kemarin.

Kata dia, data warga miskin di Batam yang punya selisih antara data pemerintah pusat dan Badan Pusat Statistik, diminta diikuti juga dengan verifikasi di Kota Batam.

Ia mengingatkan agar program rumah tidak layak huni (RTLH) juga harus benar-benar diverifikasi ke lapangan. Sehingga program itu tidak salah sasaran, untuk program bedah rumah atau RTLH. Dalam penyalurannya yang diminta harus tepat sasaran.

DPRD Batam juga dijanjikan akan mengawasi proses realisasi program ini. Alasannya, selama ini banyak keluhan warga, terkait bedah rumah ini. Dalam laporan warga, ada kejanggalan, karena yang direnovasi, bukan yang berpenghuni.

”Ada yang tak berpenghuni dan ada yang lahan atau kaveling kosong dibangun. Itu menjadi salah. Program ini kan untuk rehab. Bukan untuk bangunan dari nol,” katanya.

Ruslan mengatakan, masyarakat yang memiliki rumah dengan kriteria yang sudah ditetapkan, agar melaporkan ke kelurahan untuk didata serta ditindaklanjuti oleh Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Batam.

”Kalau perlu pemerintah gandeng penegak hukum dalam menyalurkan bantuan ini,” ujarnya.

Kepala Bagian (Kabag) Humas dan Protokol Setdako Batam Ardiwinata mengatakan, pihaknya menganggarkan dana lebih kurang Rp 2,2 miliar untuk program pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).

”Ada 100 unit rumah yang masuk program tersebut tahun ini. Sifatnya rehab, dan ini kita peruntukkan bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Rumahnya memang tidak layak huni. Dinding, atap sudah tidak layak tapi masih ditempati,” kata Ardi.

Setiap rumah akan mendapatkan bantuan senilai Rp 22 juta. Namun tidak dalam bentuk uang tunai, melainkan material bangunan. Dana bantuan itu,diserahkan secara bertahap. Untuk tahap pertama setelah pembangunan berjalan 30 persen dan tahap kedua setelah rampung.(Martua)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here