Pulau Penyengat Objek Wisata yang Melegenda

0
324
Casmiraelsa Syamsurizal

Oleh: Casmiraelsa Syamsurizal
Mahasiswa Ilmu Administrasi negara, FISIP, UMRAH

Pulau Penyengat salah satu objek wisata di Kepulauan Riau. Pulau Penyengat sudah sejak dulu menarik bagi pendatang. Sejak jayanya kerajaan melayu. Panoramanya yang memukau bahkan sudah melegenda. Pulau kecil ini amsuk wilayah Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, yang berjarak kurang lebih 2 mil dari pusat kota. Pulau ini berukuran panjang 2.000 meter dan lebar 850 meter, berjarak lebih kurang 35 km dari Pulau Batam. Pulau ini dapat ditempuh dari pusat Kota Tanjungpinang dengan menggunakan perahu bermotor atau lebih dikenal pompong yang memerlukan waktu tempuh kurang lebih 15 menit. Nama pulau ini sendiri menurut sejarahnya berasal dari nama hewan jenis serangga yang mempunyai sengat.

Menurut cerita tersebut, ada para pelaut yang melanggar pantang-larang ketika mengambil air, maka mereka diserang oleh ratusan serangga berbisa. Binatang ini yang kemudian dipanggil Penyengat dan pulau tersebut dipanggil dengan Pulau Penyengat. Sementara orang-orang Belanda menyebut pulau tersebut dengan nama Pulau Mars. Pada 1803, Pulau Penyengat telah dibangun dari sebuah pusat pertahanan menjadi negeri dan kemudian berkedudukan Yang Dipertuan Muda Kerajaan Riau-Lingga sementara Sultan berkediaman resmi di Daik-Lingga. Pada tahun 1900, Sultan Riau-Lingga pindah ke Pulau Penyengat. Sejak itu lengkaplah peran Pulau Penyengat sebagai pusat pemerintahan, adat istiadat, agama Islam dan kebudayaan Melayu. Pulau ini juga dikenal sebagai mas kawin salah satu sultan Kerajaan Riau Lingga ketika mempersunting seorang permaisuri bernama Raja Hamidah atau Engku Puteri, yang makamnya juga ada di pulau tersebut. Sejak tanggal 19 Oktober 1995, Pulau penyengat dan kompleks istana di Pulau Penyengat telah dicalonkan ke UNESCO untuk dijadikan salah satu Situs Warisan Dunia.

Di pulau ini terdapat berbagai peninggalan bersejarah yang di antaranya adalah Masjid Raya Sultan Riau yaitu salah satu masjid tua dan bersejarah di Indonesia.Masjid ini dibangun oleh Sultan Mahmuad pada tahun 1803. Menurut sejarahnya, karena keterbatasan material di masa itu, masjid ini dibangun dengan menggunakan campuran putih telur, kapur, pasir, dan tanah liat.Di dalam masjid ini juga terdapat mushaf Al-Qur’an yang konon sudah berusia ratusan tahun. Uniknya, mushaf ini ditulis tangan oleh salah seorang pemuda setempat yang dikirim Kerajaan Lingga ke Mesir untuk memperdalam ilmu agama. Kemudian komplek makam-makam para raja, makam dari pahlawan nasional Raja Ali Haji seorang pujangga syair gurindam 12. Raja Ali Haji dikenal sebagai pencatat pertama dasar-dasar bahasa Melayu lewat Kitab Pengetahuan Bahasa yang menjadi standar bahasa Melayu, dan kemudian ditetapkan sebagai Bahasa Nasional Indonesia pada Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928. Pada tanggal 5 November 2004, Raja Ali Haji ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan keputusan presiden Republik Indonesia nomor 089/TK/2004. Makam Raja Ali Haji terletak satu komplek dengan makam Engku Puteri Raja Hamidah seseorang yang dikenal sebagai pemegang regalia atau alat kebesaran kerajaan Riau Lingga.

Beliau mangkat dan dimakamkan di Pulau Penyengat pada tahun 1844. Selanjutnya ada kompleks Istana Kantor yaitu istana Raja Ali Yang Dipertuan Muda Riau VIII (1844-1857), atau juga disebut dengan Marhum Kantor. Bangunan ini dibangun pada tahun 1844. Selain berfungsi sebagai kediaman, bangunan ini juga digunakan oleh Raja Ali sebagai kantor. Selanjutnya Balai Adat yang merupakan rumah panggung khas Melayu yang terbuat dari kayu. Saat ini Balai Adat difungsikan untuk menyambut tamu atau mengadakan perjamuan bagi orang-orang penting.Di bagian bawah bangunan ini, terdapat sebuah sumur air tawar yang konon usianya sudah ratusan tahun. Sampai saat ini airnya masih mengalir dan dapat langsung diminum. Dan terakhir benteng pertahanan di Bukit Kursi

Pulau ini telah menjadi salah satu saksi sejarah perjuangan Kerajaan Kesultanan Riau terhadap penjajah di abad ke 18, dan di pulau ini terdapat pula cerita tentang beberapa tokoh tokoh dengan nama besar yang sangat berpengaruh dalam sejarah bangsa Indonesia pada masa itu. Saat ini Pulau penyengat telah menjadi salah satu magnet destinasi wisata di Kepulauan Riau Apalagi dengan dipermudahkannya fasilitas becak motor yang dapat mempermudah dalam menuju tempa-tempat bersejarah itu. Tak heran wisatawan berdatangan hampir dari seluruh daerah di tanah air , negeri Jiran hingga mancanegara, menyempatkan untuk berkunjung ke pulau ini. Sebagian besar wisatawan adalah wisatawan muslim, mereka singgah ke pulau ini untuk berziarah dan salat di Masjid Sultan Riau yang terkenal indah itu.

Jumlah wisatawan meningkat pada hari raya Idul Fitri, menurut penduduk setempat jumlah wisatawan bisa mencapai ribuan setiap harinya di awal bulan Syawal. Uniknya, pada saat hari raya Idul Fitri banyak wisatawan dari negeri jiran seperti dari singapura dan Malaysia datang ke pulau ini, mereka melakukan ziarah atau sekedar napak tilas leluhur leluhur mereka yang di kebumikan di pulau penyengat dan menemui sanak saudara mereka yang masih tinggal di pulau ini. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here