Puncak HAN: Ingin Kembali Ke Sekolah

0
211

TANJUNGPINANG – Peringatan Hari anak nasional tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana pada tahun ini puncak peringatan Hari anak Nasional 2020 diselenggrakan secara virtual. Harapan terbesar anak ingin kembali ke sekolah

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Tanjungpinang Raja Khairani disela peringatan puncak HAN secara virtual bersama Forum Anak Kota Tanjungpinang Kamis (23/7) mengharapkan agar anak-anak selalu semangat meskipun harus belajar di rumah pada masa pandemi covid-19. Ia juga mengingatkan untuk tetap melaksanakan protokol kesehatan, rajin mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak. “Jangan merasa kebal dari covid, namun tetap meningkatkan kewaspadaan agar pandemi ini cepat berakhir”, ujar Khairani.

Ia juga menambahkan, Anak-anak diharapkan untuk memanfaatkan waktu luang di rumah dengan hal-hal yg bermanfaat, disamping itu juga dapat belajar secara virtual. Gunakan televisi, google, maupun medsos untuk menambah wawasan.

Sementara itu Kepala Bidang Perlindungan Anak Elvi Arianti menambahkan, bahwa banyak orang tua yang mengeluhkan tidak bisa mengajarkan anak di rumah dengan baik sebagaimana guru di sekolah yang bisa memberikan pemahaman kepada muridnya, disamping itu juga bagi orang tua yang bekerja tidak bisa mendampingi anaknya belajar, ditambah lagi keluarga yang terdampak covid -19 harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memebeli paket internet, dan ada juga daerah signal kurang baik. Disisi lain, mereka juga kawatir akan cepatnya penularan covid.

Baca Juga :  Jalan TPU Batu 16 Segera Diperbaiki

Sedangkan keinginan terbesar anak-anak saat ini adalah kembali ke sekolah, karena belajar tatap muka akan lebih mudah anak-anak menyerap ilmu yang disampaikan oleh guru daripada secara virtual.

Lebih lanjut dipaparkan Elvi, dengan terlalu lamanya anak berada di rumah sejak bulan maret hingga Juli dan belum ada ketetapan pasti kapan akan belajar tatap muka kembali ke sekolah, maka pola fikir anak juga berubah, tingkah lakunya juga berubah dan ketergantungan akan geget semakin tinggi, bukan hanya HP untuk belajar, tapi lebih cendrung untuk main game hingga larut malam. Hal tersebut dapat membahayakan kepada diri anak itu sendiri karena radiasi, anak juga kurang bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya.

Anak yang biasanya bangun pagi berangkat ke sekolah, sore kembali ke rumah dengan berbagai aktivitas, namun selama masa pandemi justru sebaliknya. Untuk itu Elvi berharap agar anak dapat kembali ke dunianya, dunia pendidikan yang sesungguhnya, ada sekolah tempat mereka menimba ilmu pengetahuan dan bermain, terutama bagi siswa-siswi yang duduk di bangku SMA dan SMP, yang sudah faham bagaimana menerapkan protokol kesehatan sebagaimana aturan yang sudah ditetapkan agar pendidikan anak tidak ketinggalan karena covid, sesuai dengan tema Hari anak nasional tahun ini “anak terlindungi, Indonesia Maju”. “Lain halnya bila guru dan murid memang sudah benar-benar siap dengan sistem pendidikan daring yang sudah terpola dengan sempurna, juga tanpa membebankan orangtua murid akan paket internet, mungkin hal tersebut tidak menjadi problema”, tambahnya.

Baca Juga :  Pagar Poltekkes Pemicu Banjir di Jalan Pemuda

Forum anak Kota Tanjungpinang, Haleza, Ajeng, fikri, aidil, dan beberapa orang lainnya mewakili suara hati anak Kota Tanjungpinang menginginkan untuk belajar tatap muka langsung disekolah seperti biasa dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Mereka juga mengatakan, mungkin dari pihak sekolah bisa mengarahkan para siswa untuk membawa handsanitizer, memakai masker, bagi yg kurang sehat bisa menyusul menyelesaikan tugas di rumah saja yang sudah diberikan guru. Disamping itu, setiap murid membawa bekal dari rumah untuk menghindari kerumunan dikantin, membawa perlengkapan sholad sendiri.

Baca Juga :  Jalan Raya Kembali Menelan Korban

Ajeng mengatakan, banyak sekali keluhan yang dialami selama pembelajaran daring ini oleh saya sendiri bahkan dominan teman-teman saya juga merasakan hal yg sama seperti:
kesuliatan memahami pelajaran yang dipaparkan melalui media online, kesulitan dalam mengirim tugas karena gangguan jaringan atau habis kuota dan tidak bisa membeli karena sedang tidak ada uang ataupun yg lainnya.

Ditambahkannya, rata-rata setiap sekolah beberbeda-beda dalam menerapkan sistem pelajaran secara daring. Ada sekolah yg setiap gurunya menggunakan aplikasi yang berbeda-beda . “Jujur saja, banyak sekali dari kami merasa kesulitan disini, yaitu penyimpanan hp yg penuh dan juga sulitnya memahami dalam penggunaan masing-masing dari aplikasi tersebut.

Hal ini menyebabkan beberapa murid yang merasakan problem ini tertinggal pelajaran, tidak terkumpulnya tugas karena deadline yg ditentukan oleh masing-masing guru”, tuturnya. “Kami berharap agar kami bisa kembali ke sekolah belajar tatap muka dengan guru”, ujarnya. (bas)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here