Pungli BUMD, Seret Nama Asep

0
913
Asep Nana Suryana

Polda Kepri menetapkan Asep Nana Suryana, Direktur Utama PT Tanjungpinang Makmur Bersama (TMB) yang merupakan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemko Tanjungpinang tersangka kasus pungutan liar sewa lapak kios-meja.

Tanjungpinang – ASEP turut terseret dalam pusaran pungutan liar pasar yang dikelola BUMD atas pengembangan penyidikan penangkapan Slamet, pegawai BUMD Tanjungpinang yang ditangkap Tim Saber Pungli Polda Kepri saat Operasi Tangkap Tangan (OTT), tanggal 17 Februari lalu.

Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol Erlangga mengatakan, pihaknya melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap Asep dan saksi-saksi lainnya dan ditemukan ada keterlibatan Asep.

”Polda Kepri sudah melakukan pemeriksaan kepada yang bersangkutan sebagai tersangka,” ujar Erlangga kepada Tanjungpinang Pos, kemarin.

Erlangga menjelaskan, mantan Ketua Komisi II DPRD Kota Tanjungpinang ini dijadikan tersangka terkait seputaran pungli yang dilakukan Slamet dengan menaikkan harga sewa kios di Pasar Bintancentre, Tanjungpinang, belum lama ini.

”Sekarang sudah jadi tersangka. Mereka ditetapkan tersangka karena dilakukan melalui gelar perkara dan penyidik sudah menemukan dua alat bukti. Ini dasar penetapan tersangka,” sebut Erlangga.

Saat disinggung, apakah mantan politisi PDI Perjuangan ini jadi tersangka karena ditemukan aliran dana ke rekening pribadinya yang tidak bisa dipertanggungjawabkan? Erlangga mengatakan, soal itu ia belum mendapatkan informasi.

”Soal itu sedang dikembangkan oleh penyidik,” tegasnya.

Informasi di lapangan, minggu lalu Asep dipanggil Direktorat Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polda Kepri untuk diperiksa.

Pemanggilan dimaksud untuk diambil keterangan atas kasus pungli yang berlangsung di Pasar Bintancenter. Usai diperiksa, Asep sendiri dijadikan tersangka mulai minggu lalu.

Keterangan yang disampaikan Erlangga tidak beda dengan penjelasan Dirkrimsus Polda Kepri, Kombes Budi Suryanto. Dijelaskannya, pemanggilan dilakukan atas Asep sebagai tersangka, kasus pungli Pasar Bintan Centre. Namun hari itu Asep belum terlihat di Polda.

”Pemanggilan pertama, tapi yang bersangkutan belum hadir. Kita tunggu saja yang bersangkutan,” ungkap Budi.

Polda Kepri sendiri masih menunggu kedatangan Asep dimana dijadwalkan pemeriksaan oleh Dirkrimsus Polda Kepri.

Baca Juga :  Pengusaha Diboyong ke Pulau Kusik

”Kita akan menunggu hingga pukul 15.00. Kalau tidak datang hingga jam 3, itu berarti mangkir,” kata Budi.

Jika hari itu Asep tidak hadir di Polda, maka tersangka akan dipanggil lagi melalui surat panggilan kedua.

”Jika tersangka tidak hadir pada hari Senin, kita layangkan lagi surat panggilan ke dua dalam waktu tiga hari ke depan,” beber Budi.

Dijelaskan Budi, penetapan Asep sebagai tersangka sudah diberlakukan sejak Selasa (14/3) lalu. Penetapan status itu dilakukan setelah Polda mendapat keterangan dari Slamet.

Slamet mengungkapkan keterlibatan Asep dalam kasus pungli Pasar Bintan Center.

”Penetapan itu karena ada keterangan keterlibatan Asep dari tersangka Slamet yang tertangkap basah melakukan pungli,” kata Budi menceritakan penangkapan Slamet yang dilakukan Tim Cyber Pungli Tanjungpinang dan Polda Kepri.

Slamet sendiri merupakan koordinator operasional Pasar Bintancenter. Slamet diduga melakukan pungli terhadap penyewa lapak di pasar itu. Sewa lapak di pasar sekitar Rp 250 ribu per bulan secara resminya. Untuk mendapat uang hingga Rp 8 juta, maka surat kontrak yang dimainkan pelaku.

”Besaran setoran dari pedagang ditentukan lokasi lapaknya. Semakin strategis lokasi, uang setorannya semakin besar,” imbuhnya.

Slamet Bongkar Kebusukan BUMD
Slamet, staf di lapangan pegawai BUMD Kota Tanjungpinang yang tertangkap tangan kasus pungli tersebut tak ingin jadi korban.

Ia kemudian mengajukan diri sebagai justice collaborator. Hal ini sesuai dengan Surat Edaran MA (SEMA) No.4 Tahun 2011 tentang Perlakuan Bagi Whistleblower dan Justice Collaborator.

Sekedar diketahui, Justice Collaborator dimaknai sebagai seorang pelaku tindak pidana tertentu, tetapi bukan pelaku utama, yang mengakui perbuatannya dan bersedia menjadi saksi dalam proses peradilan.

Dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) antara Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Kejaksaan Agung, Kepolisian RI, KPK dan Mahkamah Agung, Justice Collaborator adalah seorang saksi, yang juga merupakan pelaku, namun mau bekerjasama dengan penegak hukum dalam rangka membongkar suatu perkara bahkan mengembalikan aset hasil kejahatan korupsi, apabila aset itu ada pada dirinya.

Baca Juga :  Tepilaut Ditimbun Setinggi Tiga Meter

Dengan demikian, Slamet pun ‘bernyanyi’ tentang kebobrokan BUMD serta kemana saja aliran dana itu.

Slamet ditangkap Tim Saber Pungli Polda Kepri dan Polres Tanjungpinang. Dalam penangkapan tersebut, Slamet tidak bisa mengelak setelah terbukti menerima uang dan bukti kwitansi pembayaran yang diserahkan kepada penyewa.

Sejak ditangkap, tim langsung menyita sejumlah berkas dari Kantor BUMD di Jalan Potong Lembu Lorong Mutiara III No.4. Setelah itu, kantor tersebut disegel.

Ladang Pungli
Sewa kios dan meja yang dikelola BUMD sudah lama terdengar. Namun, banyak pedagang yang enggan bercerita karena takut tak kebagian lapak.

Ada tiga tarif sewa kios yakni, Rp 55 ribu per bulan, Rp 90 ribu per bulan, Rp 220 ribu per bulan, sewa meja Rp 6 ribu per hari, Rp 180 ribu per bulan dan perpanjang surat sewa kios dan meja Rp 100 ribu.

Kenyataannya, satu kios itu mau dihargai hingga Rp 6 juta sampai Rp 8 juta tergantung lokasinya strategis atau kurang strategis. Makin strategis lokasinya, harganya makin mahal.

Praktik di lapangan yang pernah dijumpainya. Pedagang selalu membayar lebih dari tarif yang telah ditentukan pihak BUMD Tanjungpinang.

Bahkan Asep Nana pernah mengakui, pedagang harus membayar Rp 30 juta hingga Rp 50 juta per bulan untuk satu meja.

Namun, Asep sudah pernah berupaya mengatas pungli ini dengan cara memberlakukan sistem online. Setiap melakukan transaksi apa saja harus melalui online.

BUMD Tanjungpinang mengelola empat pasar tradisional. Yakni Pasar Baru I, Pasar Baru II dikenal Pasar KUD, Pasar Potong Lembu dan Pasar Bestari Bintancentre (Bincen) Tanjungpinang. Empat pasar tradisional memiliki sekitar 2.000 meja dan kios.

Meja dan kios ini telah disewakan ke pedagang sayur mayur, sembako, bumbu giling, ikan segar, daging sapi segar, ayam segar, sop ikan, lontong sayur sampai jualan pakaian dan lainnya.

Baca Juga :  Pemprov Hibahkan Lahan Pelabuhan Dompak

Beragam cara pedagang menewa kios maupun meja jualan di pasar. Ada pedagang yang menysewa meja maupun kios secara resmi ke BUMD. Ada juga pedagang yang menjual atau menyewakan kembali ke pedagang lainnya.

Belum Satu Tahun Menjabat
Asep Nana Suryana belum satu tahun menjabat sebagai Dirut PT TMB yang merupakan salah satu BUMD Pemko Tanjungpinang.

Setelah tidak menang dalam Pileg 2014 lalu, Asep kemudian mengikuti seleksi calon Dirut PT TMB dan terpilih.

Waktu itu Wali Kota Tanjungpinang H Lis Darmansyah melantik Asep Nana Suryana sebagai Direktur Utama BUMD Kota Tajungpinang terpilih menggantikan Eva Amalia selaku Dirut BUMD yang lama.

Eva Amalia sendiri hingga saat ini masih tersandung kasus dugaan korupsi dana hibah.
Selain Asep, Lis juga melantik Zonderfan sebagai Direktur Operasional BUMD. Pelantikan dilakukan di ruang rapat Kantor Wali Kota Tanjungpinang, Rabu (23/9) 2016 lalu.

Saat itu Lis berpesan kepada direksi yang baru agar dapat menjalankan tugasnya dengan profesional, amanah, tanggungjawab, ikhlas dan tulus sebagai wujud pengabdian kepada rakyat dan negara.

Dalam rangka memajukan perekonomian di daerah, Lis meminta peran BUMD. Sehingga bisa mengurangi angka pengangguran dan menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pemko Tanjungpinang.

Kata lis, berkembangnya BUMD tentunya didasari oleh orang-orang yang mampu bekerja secara profesional di bidangnya dan menguasai tentang BUMD.

Selaku pemegang saham, Lis memberikan harapan dan kepercayaan yang besar kepada dewan direksi maupun dewan komisaris yang baru agar dapat menjalankan fungsinya sebagai Agent of Development yang mampu menunjukkan kinerja dan menambah PAD.(Abas-Martua)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here