Puspa Ramadan

0
226
AGUSTAR

Oleh: Agustar
Warga Batam

Marhaban ya Ramadhan. Selamat datang bulan pengampunan. Dengan wajah yang penuh coreng-moreng ini izinkanlah hamba menapak di altar bulan suci-Mu, untuk mencoba membasuh kedekilan nurani yang semakin memekat. Kedekilan akibat polusi kehidupan hedonistik duniawi, oleh jelaga-jelaga pergeseran nilai peradaban kemanusiaan, oleh debu-debu proses “pembusukan” kultural, akibat dahsyatnya hantaman revolusi teknologi berlabel sekuler.

Kedatanganmu ya Ramadan, membuat hamba tersentak dari alam bawah sadar dengan sejuta rona spektrum kehidupan ini. Ingin hamba meratap menumpahkan segenap air mata di atas sajadah yang rapuh ini. Betapa hari-hari kemarin hamba telah gagal dan jatuh bangun mengejar salaksa fatamorgana kehidupan fana ini. Berilah hamba sejumput waktu untuk menginsyafi dosa-dosa dan kesalahan masa lalu. Atau tunjukkanlah kepada hamba tanah pertobatan yang mesti hamba kembarai guna melakukan proses eskalasi diri dari kenistaan ini.

Malu hamba kepada fajar-Mu yang akan terbit besok pagi, karena hamba tidak mampu berperan sebagai “rahmatan lilalamin” di sudut bumi ini. Sebab, tangan hamba adalah tangan-tangan keserakahan, pikiran hamba adalah kumpulan metodologi eksploitatif kaum lemah, detak jantung hamba adalah irama konglomerasi materi, aliran darah hamba nuansa mata rantai monopolistik ekonomi serta visi politik hamba adalah meraih kepentingan atas pentas adu domba massa.

Hutan-hutan telah hamba babat, isi perut bumi sudah hamba keruk, kandungan samudera telah hamba kuras, gunung dan bukit-bukit hamba pangkas, sungai dan kali hamba cemari dengan limba. Tidak ada lagi yang tersisa, kecuali sebuah mimpi buruk bagi orang banyak. Bangsa semut pun akan marah besar kepada hamba, karena hamba telah tega mengunyah sebatang tebu sampai ke akar-akarnya.

Pada dimensi kehidupan mana prediket “khalifatul fil ardhi” (khalifah di bumi) harus hamba letakkan, jika hamba tidak mampu menegakkan panji-panji keadilan dalam hidup ini. Karena hukum hamba nina-bobokan dalam keranda kematian. Korupsi pun menjelma menjadi budaya dan kolusi merupakan bagian dari gaya hidup. Hamba tentang korupsi dan kolusi secara berapi-api sekedar pemanis agitasi dan penguat retorika politis belaka.

Akan tetapi tidak pernah hamba baca berita di koran atau siaran televisi hari ini tentang koruptor yang menangis terseduh-seduh karena beratnya vonis yang didapat. Hanya yang sering hamba dengar, berita pilu maling jemuran yang babak belur dan mati dibakar massa. Atau pencuri ayam yang karena tak tahan lagi menahan lapar dihujat habis-habisan di depan sidang pengadilan jalanan. Sudah tumpulkah pedang keadilan, ataukah altar suci dewi kebenaran tidak lagi steril dari pengaruh kezaliman?

Pantaskah hamba ini menjadi seorang pemimpin, jika hamba tidak lagi mampu mengasuh putera-puteri hamba sebagai amanah alam pewaris masa depan? Di rumah mereka adalah “anak-anak mama” yang manis dan manja. Tetapi kenapa di luar mereka menjelma menjadi singa yang menyeringaikan taringnya, siap tawuran massal, aktor berbagai kriminalitas, menjadi anarkis jalanan yang tidak segan-segan memperkosa dan membunuh? Mengapa kuncup harum harapan bangsa yang semestinya bersemi di taman-taman kedamaian, berubah menjadi onak menyakitkan, penebar pilu pembawa petaka? Kawula muda yang hamba harapkan sebagai pelanjut kisah penerus sejarah, mengapa berubah menjadi generasi penenggak ekstasi, terbuai oleh mabuk miras, pencandu narkoba, berperilaku seks bebas dan larut dalam pesta tripping?

Tidak adilkah zaman yang mengasuh dan membesarkan mereka? Astaghfirullah! Hamba tidak bermaksud mau mengingkari segala nikmat-Mu. Serangga yang melata di balik daun-daun kering sekalipun tidak terlepas dari curahan rahmat-Mu. Hambalah yang sering salah mengukir sejarah. Menempa hajat hidup pada batasan materi duniawi semata, alpa terhadap sandaran vertikal firman dan sunnah rasul-Mu. Sehingga anak-anak berkembang di bawa bayang-bayang hedonisme dan budaya materialistik, terombang-ambing oleh krisis moralitas sehingga tidak memiliki identitas diri.

Ya, Rabbi Tuhan yang maha tahu. Jernihkanlah pikiran hamba dari penyakit anarkisme dan kezaliman serta sejukkanlah hati hamba dengan siraman kesabaran. Bingung hamba mencari metodologi sosiologi yang bagaimana untuk menterjemahkan fenomena sosial dan politik yang terjadi di sekeliling hamba, karena terasa absurd hal-hal yang terjadi di depan mata akhir-akhir ini.

Telah hamba baca dari jejak zaman, sesuai dengan penuturan arif orang tua-tua, sudah menjadi pusaka kebanggaan bangsa, bahwa negeri ini adalah negeri ramah-tama, santun antara sesama, agama sebagai pegangan jiwa, dituntun adat-istiadat yang menabukan kedengkian. Tetapi mengapa dari balik selimut agung kerukunan tiba-tiba memercik api kebencian penyulut rusuh? Kenapa dari tengah sejuknya telaga kedamaian menyembur mata air panas pembawa nestapa?

Luluh-lantak rasanya kalbu, melihat darah muncrat justru ditempat orang menyemaikan kebaikan, raung duka yang tak kunjung usai dari mereka yang kehilangan arti dan makna kesalahan, seolah-olah kekerasan menjadi agenda keseharian. Seolah-olah pentas politik dan budaya kami begitu dekilnya oleh hiasan percikan darah, uang dan genangan air mata. Akibatnya, kekerasan bagaikan hal yang biasa, demonstrasi menjadi ajang penghujatan dan caci maki. Bom meledak di mana-mana. Mengapa jiwa hanya dihargai sebatas salah prasangka?

Alangkah zalim dan bodohnya kami ini ya Allah, karena tega membakar beranda sendiri dan menyakiti saudara sepembaringan. Di sudut bumi mana kami harus sembunyi, karena tidak ada lagi tirai yang dapat dijadikan pembingkai malu. Dengan aksara apa mesti hamba ungkapkan kepada musyafir-musyafir yang lewat, sekedar basa-basi untuk melakukan pembelaan atas sebuah kebodohan, bahwa negeri ini masih tetap seperti yang dulu-dulu, tanah nan damai sentosa penuh budaya.

Kami bangun negeri ini dengan penuh cinta kasih, biar kelak di atas prasasti sang waktu terpatri cerita yang tak memuat angkara murka. Sehingga kami senantiasa berharap pada Yang Kuasa, ketika kuncup-kuncup pembangunan beranjak bersemi, jangan hendaknya ada kelopak harapan yang patah. Lestarikanlah kedamaian di sanubari kami, sebagaimana telah Engkau abadikan sang malam menjemput siang, senja menyongsong remang petang, subuh berganti pagi hari.

Ya, Rahman Tuhan yang maha pengampun. Malam ini hamba sujud di atas hamparan sajadah rapuh rumah suci-Mu. Ingin hamba lupakan sejenak hiruk pikuk pentas duniawi, menghirup wanginya puspa Ramadhan-Mu, untuk berusaha kembali meng-eja setiap detak jantung nurani, menata lagi langkah-langkah gontai untuk esok pagi. Semoga ya Rabbi kedatangan bulan suci-Mu akan memberi proses eskalasi diri pada hamba-Mu yang hina ini, sehingga hamba selamat menuju pembaringan abadi nanti. Amin ! Selamat menunaikan ibadah Ramadhan 1439 H. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here