Putar Musik, Harus Bayar Royalti

0
1087
Ketua Umum Karya Cipta Indonesia Dharma Oratmangun didampingi Ketua Umum Pappri dan Bapak Musik Indonesia Enteng Tanamal di Hotel Aston Tanjungpinang, Jumat (6/4) kemarin.f-suhardi/tanjungpinang pos

KCI Hadir di Provinsi Kepri

TANJUNGPINANG – Memutar lagu di rumah makan, minimarket serta tempat hiburan tidak boleh lagi suka-suka. Karena royalti harus dibayar kepada pemilik hak cipta atau pengarang lagu.

Tidak tanggung-tanggung, sanksi yang diberikan mulai teguran lisan, tersurat hingga hukum bagi pengusaha rumah makan, minimarket, sampai tempat hiburan yang memutar musik tanpa mengantongi izin kepada hak cipta.

Dalam waktu dekat, tim Karya Cipta Indonesia (KCI) wilayah Kepri akan melakukan survei lapangan. Sebagai informasi, KCI Kepri saat ini resmi berkantor di Ruko Niaga Mas, Batam Centre dengan diketuai Bung Berto Doko.

Hal itu disampaikan langsung Ketua Umum Yayasan Karya Cipta Indonesia (KCI) Dharma Oratmangun serta pendiri Persatuan Artis Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia (Pappri) pusat, Enteng Tanamal saat ditemui di Hotel Aston, Tanjungpinang, Jumat (6/4).

Baca Juga :  RoRo Kandas Tiga Jam di Dompak

”Jadi alasan kami (KCI, red) hadir di Kepri untuk membantu para pengguna karya cipta, agar mudah mendapatkan izin dari para pemilik hak cipta, supaya dalam kegiatan usahanya, para pengguna tersebut tidak melanggar undang-undang hak karya hak cipta,” tegas Ketua KCI Dharma kepada Tanjungpinang Pos.

KCI hadir di Kepri saat ini mendapatkan tugas untuk membantu para pemilik hak cipta, supaya mendapatkan legalitas hak-hak ekonominya. Meskipun pihaknya bersama Pappri sudah melakukan inventarisir terkait kegiatan usaha, namun itu beberapa tahun lalu.

Baca Juga :  Toleransi di Kepri Makin Membumi

”Kini kita berharap kantor perwakilan KCI di Kepri yang sudah diberikan kewenangan penuh untuk melakukan pengawasan dan kegiatan intensif di lapangan kembali,” tegas Dharma.

”Sedangkan pendaftaran hak cipta ini ke KCI gratis, tidak dikenakan biaya,” tambahnya.

Seiring dengan Ketua Umum Pappri Enteng Tanamal mengatakan, bahwa alasan mereka mendirikan KCI berkantor di Kepri supaya mengakomodir hak cipta yang selama ini kurang mendapat perhatian.

Sehingga kegiatannya seperti dilegalkan. Padahal, kata dia, musik-musik (hak cipta) yang diputar tersebut harus mendapatkan izin dari hak cipta, jika tidak maka dinilai melanggar undang-undang Hak Cipta No.28 tahun 2014.

”Kita melihat Kepri saat ini sudah banyak perubahan, terutama Batam, Tanjung Balai Karimun, serta Tanjungpinang sudah bagus. Kalau dulu masih sangat sepi, sekarang sudah sepantasnya aktif di Kepri. Kita minta si pengguna ini, bisa mendukung undang-undang ini, kebanyakan selama ini, pengusaha ngeles terus,” terang pria yang juga biasa akrab disapa Bung Enteng itu.

Baca Juga :  Banyak Warga Miskin, Nurdin Tak Yakin

Bung Enteng sendiri menegaskan, UU Hak Cipta No 28 tahun 2014 membeberkan, bahwa dalam pasalnya ada mengatur tentang setiap kegiatan usaha yang menggunakan lagu dalam kegiatan usahanya, harus ada izin dan membayar royalti. (ais)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here