Quo Vadis Pembangunan Pariwisata Kepri?

0
760
Panusunan Siregar

Oleh: Panusunan Siregar
Bekerja di Badan Pusat Statistik Provinsi Kepri

Di penghujung tahun 2016 dalam rapat paripurna Kabinet Kerja, Presiden Joko Widodo memberikan arahan dan meminta para Menteri Kabinet Kerja secara sinergis untuk mendukung Kementerian Pariwisata dalam mewujudkan target Wisman pada 2017 sebanyak 15 juta orang/kunjungan.

Presiden menekankan bahwa sektor pariwisata harus mampu menjadi salah satu mesin penggerak ekonomi Indonesia.

Obsesi Bapak Presiden itu tidaklah muluk-muluk mengingat kekayaan dan pesona alam serta keindahan pantai/laut Indonesia yang begitu luar biasa. Hal ini terbukti dengan dianugerahinya Indonesia sebagai “World Best Destination 2017” pada Travel Awards 2017 dari majalah DIVE yang merupakan majalah scuba asal Inggris dan telah berdiri sejak 1995.

Majalah ini secara khusus menyoroti dan mengekspos pesona habitat ikan keragaman jenis, panorama bawah laut, reviu destinasi diving, dan panduan diving, atau reviu alat-alat diving.

Secara finansial, sektor pariwisata telah terbukti tangguh dalam memasok devisa. Merujuk pada hasil rilis Kementerian Pariwisata, tahun ini sektor pariwisata mampu mendatangkan devisa sebesar US$ 17 miliar yang diperoleh dari kunjungan Wisman yang meningkat cukup signifikan. Bahkan, tercatat paling tinggi bila dibandingkan dengan raihan negara lain di Asia Tenggara. Peningkatan devisa itu beriringan dengan melonjaknya kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sebagaimana ditunjukkan oleh hasil rilis Badan Pusat Statistik (BPS) setiap bulan.

Pengertian Wisman
Ketika kita berbicara Wisatawan Mancanegara (Wisman atau foreign tourist), sering terancu membedakannya dengan tamu asing (foreign guest). Sering dipahami bahwa setiap tamu asing yang sedang melancong di suatu wilayah, adalah wisman. Padahal, tamu asing belum tentu wisman, tetapi wisman pasti tamu asing. Sebab, wisman adalah setiap pengunjung yang mengunjungi suatu negara di luar tempat tinggalnya, didorong oleh satu atau beberapa keperluan tanpa bermaksud memperoleh penghasilan (bekerja) di tempat yang dikunjungi dan lamanya kunjungan tersebut tidak lebih dari 12 bulan. Kegiatan-kegiatan yang termasuk wisata mancanegara, a.l.: berlibur/rekreasi, bisnis/usaha, dinas, mengunjungi teman/keluarga, MICE/rapat, kegiatan keagamaan/ziarah, keperluan kesehatan/kecantikan, pelatihan, dan misi olah raga/budaya. Kemudian, wisman dicatat pada pintu masuk (check in) Imigrasi di wilayah yang dikunjungi.

Sementara itu, tamu asing (foreign guest) adalah setiap warga negara asing yang sedang berkunjung atau melancong di suatu wilayah tanpa memperhatikan dimana orang tersebut melakukan check in Imigrasi. Misalnya, jumlah orang asing dengan tujuan seperti diuraikan di atas melakukan check in Imigrasi di Bintan hanya 50 orang yang berarti Wismannya ada 50 orang, tetapi ada tercatat 150 orang tamu asing dimana 70 dan 30 orang check in masing-masing di Tanjungpinang dan Batam yang melanjutkan perjalanan/kunjungannya ke Bintan. Dengan kata lain, di Bintan ada 50 wisman (sebagai dasar hitung jumlah wisman), tetapi tamu asingnya ada 150orang yang sudah barang tentu akan memberikan efek ganda ekonomi ke Bintan baik melaui jasa akomodasi dan konsumsi, maupun transportasi atau yang lainnya.

Performa Wisman Kepri
Berdasarkan hasil rilis BPS Provinsi Kepri baru-baru ini, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia selama Januari hingga Oktober 2017 mencapai 11,62 juta, atau naik 23,55% terhadap periode yang sama 2016. Sementara itu, jumlah wisman yang datang ke Kepri pada periode yang sama selama 2017 baru mencapai 1,65 juta kunjungan, atau meningkat 5,20% dari 2016. Capaian ini, masih jauh dari angka yang ditargetkan ke Kepri oleh Kemenpar yang jumlahnya 2,6 juta pengunjung.

Bila dicermati lebih jauh, perkembangan jumlah wisman di Kepri dalam 5 tahun terakhir relatif fluktuatif baik antarbulan dalam setiap tahun maupun antartahun. Secara rata-rata, angkanya masih berfluktuasi pada kisaran 125 s/d 175 ribu perbulan dan hanya pada setiap bulan Desember angkanya melebihi 200 ribu pengunjung. Jadi tidak mengherankan bila jumlah wisman yang datang ke Kepri masih berada di bawah angka 2,1 juta per tahun.

Sasar Singapore dan Malaysia
Berdasarka hasil-hasil penelitian di berbagai negara, sektor Pariwisata cukup dahsyat dalam menopang kekuatan perekonomian suatu negara/wilayah dan oleh karena itulah maka Presiden R.I memberikan perhatian dan upaya besar untuk mendongkrak sektor ini. Beberapa upaya diantaranya adalah membangun infrastruktur lapangan udara berskala internasional di wilayah destinasi wisata dan menetapkan 10 wilayah destinasi wisata prioritas.

Memang Provinsi Kepri tidak termasuk di antaranya, tetapi Batam dan Bintan merupakan wilayah destinasi wisata terbaik ke 5 dan 8 di Indonesia berdasarkan penilaian Travellers’ Choice Award 2017 yang dilansir pada situs travel TripAdvisor. Tentunya predikat ini harus menjadi salah satu kekuatan (strength) untuk mendongkrak petensi pariwisata Kepri di luar Anambas dengan Pulau Bawah-nya yang sungguh mempesona dan Natuna dengan keindahan pantai Tanjung Senubing yang dihiasi dengan lekuk bukit batuan granit raksasanya.

Merujuk pada fakta empiris di atas dan dikaitkan dengan semangat Presiden RI untuk menjadikan sektor Pariwisata sebagai salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia, lalu bagaimana Kepri menyikapi dan menyiasatinya?.

Mau didorong kemana arah pembangunan pariwisata Kepri, alias quo vadis pembangunan pariwisata Kepri? Apakah pembangunan Pariwisata Kepri hanya sebatas pernyataan-pernyataan verbal ataukah dalam tindakan nyata? Untuk menjawab pertanyaan ini, pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten/kota) harus cerdas dalam memaknai dan menyusun strategi berdasarkan fakta empiris yang ada.

Bila Wisman yang datang ke Kepri diurai menurut asal negara, pelancong utamanya berasal dari Singapura, Malaysia, Tiongkok, India, Korsel, Filipina, dan Jepang. Tiga yang pertama memberi kontribusi hampir mencapai 70 persen dimana masing-masingnya mengambil porsi sebesar 49,56 %, 12,16%, dan 7,4%.

Itu artinya, bahwa ketika Kepri ingin mendongkrak jumlah Wisman pada tahun 2018, hendaknyalah ketiga negara tersebut dijadikan target prioritas atau fokus pasar utama. Dengan demikian, dalam menentukan target Wisman tahun depan, tidak lagi sekedar menetapkan angka total Kepri (misalnya 2,6 juta pada 2017), tetapi harus spesifik ditetapkan dari masing-masing negara yang disebutkan. Bila ini yang dilakukan, maka Pemprov/Pemkab/Pemko dapat merancang program-program atau kegiatan-kegiatan aksi untuk menarik dan memikat para pelancong dari ketiga negara sesuai budaya, minat, dan selera masing-masing.

Ada beberapa keuntungan komparatif yang dimiliki Kepri sebagai faktor penarik (pull factor) bagi ketiga negara. Pertama, letak geografis (terutama untukSingapore dan Malaysia) yang relatif dekat ke Batam dan Bintan dimana share Wisman dari kedua negara tersebut mencapai hampir 63 %, menjadikan biaya transportasi antarnegara relatif murah. Kedua adalah kuliner yang murah dan beragam dengan citarasa yang relatif berbeda dari kedua negara. Ketiga adalah keramahan masyarakat yang direfleksikan indeks kebahagiaan yang tinggi (ke 7 tertinggi se Indonesia) juga faktor yang tidak kalah penting untuk memikat para pelancong asing. Keempat produk-produk manufaktur Kepri yang sudah berkualitas ekspor namun harganya relatif lebih rendah dibandingkan harga di negara asal Wisman, juga memiliki daya pikat tersendiri.

Dengan bermodalkan keunggulan-keunggulan di atas hendaknyalah Singapore dan Malaysia dijadikan target pasar yang paling prioritassebagai sumber Wisman bagi Kepri. Untuk itu, pemerintah daerah dan pelaku usaha di sektor akomodasi (perhotelan) harus bersinergi dan saling bahu membahu untuk meningkatkan jumlah tamu Wisman dari kedua negara tersebut. Caranya, dengan meminta para pelaku usaha akomodasi untuk memberikan potongan tarif kamar (room-discount rate) pada setiap akhir pekan dan bukan malah sebaliknya menaikkan tarif sebagaimana yang telah lazim dipraktekkan.

Kemudian, info discount rate tersebut berikut keindahan objek wisatanya dipasarkan melalui internet/website dan media sosial seperti facebook, instagram, dan youtube. Bila strategi ini bisa dilakukan, niscaya jika ditargetkan 1,5 juta pengunjung per tahun dari Singapore optimis bisa dipikat dan 0,6 juta pengunjung dari Malaysia. Hal yang sama, arus pelancong dari Tiongkok, India, Korsel, Filipina, dan Jepangpun akan juga mengalir deras.

Dan jika dikombinasikan dengan program-program besar tahunan Pemprov dan Pemkab/Pemko, maka angka tersebut bisa lebih tinggi lagi. Dengan demikian, jika tahun 2018 ditargetkan 3 juta wisman, maka sangat feasible untuk dapat diwujudkan. Tentunya masalah infrastruktur dan fasilitas kepariwisataan di tempat-tempat objek wisata harus dibenahi, seperti penataan tempat para pedagang kuliner, fasilitas WC, kamar mandi untuk membilas badan seusai mandi di laut, dan toko/kios souvenir. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here