Racun-racun Hati

0
843
Muhhamad Idris DM

Oleh: Muhhamad Idris DM

Perlu diketaui bahwa bahwa semua perbuatan maksiat dalam bentuk apapun merupakan racun bagi hati, yang menyebabkan sakitnya hati, bahkan juga penyebab matinya hati. Berkata Abdullah Ibnu Mubarak “Meninggalkan dosa dan maksiat dapat menjadikan hidupnya hati dan sebaik-baik jiwa adalah yang mampu menghilangkan dan meniadakan perbuatan dosa dalam dirinya. Maka barangsiapa yang menginginkan hatinya menjadi hati yang selamat, hendaklah membersihkan diri dari racun-racun hati. Kemudian dengan menjaganya tatkala ada racun hati yang berusaha menghampirinya dan apabila terkena sedikit dari racun hati bersegeralah untuk menghilangkannya dengan taubat dan istighfar.”
Hati yang bersih adalah hati dipenuhi dengan keimanan dan selamat serta jauh dari kotoran-kotoran baik yang berupa syubhat (kerancuan pemikiran) maupun hawanafsu dan syahwat. Hati yang penuh dengan kotoran akan menjadi redup bahkan bisa mati. Untuk itu mari kita berusaha untuk senantiasa membersihkan hati kita. Di antaranya yaitu dengan menjauhi diri dari berbagai macam racun hati.

Bila kita berbicara tentang racun-racun hati, maka berbagai macam racun-racun di antaranya adalah: Bicara yang Berlebih-lebihan (berlebihan dalam bicara); Memandang yang Berlebih-lebihan (berlebihan dalam memandang); Bergaul/berinteraksi yang Berlebih-lebihan (berlebihan dalam bergaul);Makan yang Berlebih-lebihan (berlebihan dalam makan); Tidur yang berlebih-lebihan (berlebih-lebihan dalam Tidur)
Kelima racun tersebut adalah yang paling banyak tersebar dan paling berbahaya bagi hati.

dijelaskan bahwa di akhirat nanti, tidak berguna apapun yang dimiliki oleh manusia, kecuali jika ia datang kepada Allah SWT dengan hati yang bersih. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam al-Qur’an, yang artinya : “(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (AQS. Asy-Syu’ara : 88-89)

Oleh karena itu hendaknya menjaga hati, agar hati kita tetap bersih dan perlu menghindarkan diri minimal lima acun-racun hati yang berbahaya ini;

Pertama, Bicara yang Berlebih-lebihan (berlebihan dalam berbicara); berbicara merupakan pekerjaan lidah, lidah merupakan nikmat, namun ni’mat bisa berbuah adzab saat manusia tidak pandai menjaga lisannya. Bahkan Rasulullah memperingatkan kepada kita bahwa kebanyakan manusia disiksa di neraka karena tidak mampu menjaga lidahnya (lisannya). Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW, yang artinya : “Tidaklah manusia itu wajahnya dipanaskan dengan api neraka melainkan karena akibat dari lidahnya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Mjaha dan Hakim)

Apabila lidah telah melahirkan dan membuahkan pembicaraan yang berlebih-lebihan, maka pembicaraan yang berlebi-lebihan itu merupakan pembicaraan yang membawa madharat, atau kadar madharatnya lebih banyak daripada kemanfaatannya. Apalagi jika tidak ada kemanfaatan sama sekali dalam pembicaraan tersebut.

Pembicaraan berlebih-lebihan kadang-kadang dapat berwujud dusta, menghina orang lain, mengolok-olok orang lain, atau menyakiti orang lain. Terlebih jika pembicaraan berlebihan itu sudah tergolong fitnah. na’udzubillahi min dzalik .

Sebaliknya, dengan lidah pula, manusia memperoleh kenikmatan yang luar biasa karena dapat menyelamatkan dan mendapatkan Ridha dari Allah SWT. maka dengan demikian, tempat akhirnya adalah surga, di sana ia mendapatkan kebahagiaan abadi, kebahagiaan yang tiada putusnya. Karena lidahnya terjuga dan terpelihara dari pembicaraan yang berlebih-lebihan.

Uqbah pernah bertanya kepada Nabi SAW: “Wahai Rasulullah, apa yang bisa menyelamatkan diriku?” Rasulullah menjawab: “Amsik ‘Alaika Lisaanaka” (Jagalah lidahmu). (HR. Tirmidzi dan Ahmad)
Boleh dikatakan bahwa belumlah bisa istiqamah iman seseorang sebelum istiqamah lisannya. Oleh karena lurus dan istiqamahnya hati dalam memegang dan memantapkan keimanan itu dimulai dari lisan yang istiqamah, Islam mengajarkan kepada umatnya agar tidak banyak bicara tanpa disertai dzikir kepada Allah karena akan mengakibatkan kerasnya hati.

Apabila berlebihan dalam bicara maka dapat menyebabkan kelalaian dan membuat hati semakin keras. Dalam hadits Rasulullah banyak menggandengkan antara keimanan dan menjaga lisan. Diantaranya Rasulullah SAW bersabda, yang artinya: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam..” (HR.Bukhari dan Muslim)

Dalam penjelasan yang lain Rasulullah juga memperingatkan kepada kita bahwa seseorang dapat terjerumus kedalam api neraka karena lisannya, artinya tidak menjaga lisannnya atau lidahnya, tidak menjaga pembicaraannya. Sebagaimna ditegaskan oleh Rasullah dalam bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya ada seseorang yang mengucapkan sebuah kalimat yang mana ia anggap biasa tetapi karenanya ia terjun selama 70 tahun ke dalam neraka” (HR Tirmidzin)

Kedua, Memandang yang berlebih-lebihan (berlebihan dalam memandang); Allah SWT juga memberikan nikmat mata dan penglihatan kepada kita, yang merupakan nikmat yang sangat besar, bahkan orang-orang yang tidak berfungsi penglihatannya rela dan sanggup membayar mahal untuk mendapatkan penglihatan yang sempurna. Namun dalam memandang ada racun hati saat pandangan tidak dapat terkendalikan.
Allah SWT memberikan petunjuk mengenai pandangan kepada orang beriman baik laki-laki maupun perempuan untuk ghadhul bashar (menahan pandangan), sebagai mana Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an yang artinya: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan mdnjaga kemaluannya,…” (AQS. An-Nur : 30-31)
Jadi memandang berlebihan merupakan racun-racun hati, pada saat kita melihat atau memandang lawan jenis tanpa kendali, dengan disengaja, Bukan pada pandangan pertama yang secara kebetulan kita dapatkan. Rasulullah bersabda, yang artinya: “Janganlah engkau ikuti pandangan yang pertama itu dengan pandangan yang berikutnya. Bagimu pandangan yang pertama, dan tidak untuk yang berikutnya” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).

Pandangan berlebihan ini sudah tergolong perbuatan keji yang biasa ulama menyebutnya zina mata dan ia adalah racun hati yang sangat berbahaya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya: “Telah ditetapkan atas anak Adam atau manusia bagiannya dari zina, ia pasti mendapatkan hal yang demikian itu, zinanya kedua mata adalah memandang…” (HR. Ahmad). Menjaga pandangan merupakan satu kunci untuk menjaga kesucian hati, sebaliknya, mengumbar pandangan akan menyebabkan hati terkotori.

Ketiga, Bergaul/berinteraksi yang berlebih-lebihan (berlebihan dalam bergaul); Dalam hidup dan kehidupan manusia memerlukan pergaulan dan interaksi dengan sesamanya, kareana manusia adalah makhluk sosial yang takkan mampu hidup sendiri tanpa campur tangan orang lain, namun pergaulan dengan sesama kita harus tetap dalam kerangka agama, bukan pergaulan yang seenaknya, tanpa batas dan tanpa aturan, pergaulan yang berlebih-lebihan tanpa aturan merupakan racun-racun hati yang sangat berbahaya.

Mencari dan memilih teman sepergaulan juga harus diperhatikan. Sebab interaksi dengan orang lain atau lingkungan selalu mengakibatkan salah satu dari dua hal: dipengaruhi atau memepengaruhi, terwarnai atau mewarnai. Oleh karena itu perlu menjaga dengan siapa kita bergaul dan bagaimana agar pergaulan itu tetap dalam batas-batas ketentuan sya’ri, terutama jika pergaulan itu terhadap lawan jenis.

Allah SWT mengingatkan dalam Firman-Nya, yang artinya “… janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi : 28)

Dalam berfirman Allah yang lain, yang artinya: “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS Az Zukhruf: 67)

Oleh karena itu berkawan, bersahabat, berteman dan bergaulah dengan orang-orang baik, karena akan mendekatkan diri kita kepada kebaikan betapa banyak orang mendapatkan hidayah karena teman dekatnya. Dan sebaliknya. betapa banyak pula orang yang terjerumus dalam kemaksiatan atau dosa karena pengaruh teman dekatnya. Jadi dalam pergaulan tidak diragukan lagi bahwa teman dekat akan memberikan pengaruh pada diri seseorang, karena itu memilih teman tentu harus selektif dalam bergaul. Rasulullah SAW mengingatkan dalam besabdanya, yang artinta: “Seseorang itu tergantung agama teman dekatnya. Maka hendaknya salah seorang diantara kalian melihat dengan siapa berteman” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

Keempat, Makan yang Berlebih-lebihan (berlebihan dalam makan); Makan merupakan nikmat, tapi makanan yang berlebih-lebihan merupakan racun-racun hati, bahkan biasa menjadi sumber penyakit fisik, bahkan juga bisa mengotori dan mematikan hati (menjadi penyakit rohani). Selain porsinya yang wajar dan seimbang, makanan yang masuk ke dalam perut kita hendaklah dijaga agar memenuhi dua kriteria yakni halalan dan thayyibah (halal dan baik).

Ketika kita makan tentu harus menjaga keseimbangan, karena makan yang ideal adalah sepertiga kapasitas perut, sepertiganya lagi diisi air, dan sepertiganya lagi ruang untuk udara. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: yang Artinya: “Tidaklah manusia memenuhi suatu bejana yang lebih jelek dari perutnya. Cukuplah ia memakan beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang belulangnya. Jika ia harus mengisi perutnya, maka sepertiga untuk makannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga untuk pernafasannya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Makan hingga kekenyangan dapat memperlemah kekuatan tubuh. Tubuh akan menjadi kuat jika memperoleh nutrisi yang dibutuhkan, bukan dari banyaknya makanan yang dimakan. Sebagian besar penyakit terjadi karena konsumsi makanan yang berlebihan atau melebihi kebutuhan tubuh yang menyebabkan matinya hati.

Allah SWT memperingatkan kita dalam Al-quran, yang artinya: “Hai anak Adam (manusia), pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (AQS. al-A’raf : 31)

Dapat diambil pengertian bahwa Allah SWT dalam Firman-Nya itu memerintahkan kepada umat manusia untuk memanfaatkan rizki yang Allah SWT telah anugrahkan kepadanya, salah satu diantranya adalah untuk makan dan minum, dan semua yang telah Allah halalkan untuk manusia tanpa berlebih-lebihan. Firman Allah dalam Al-Qur’an, yang artinya “Makanlah di antara rezki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia.” (AQS. Thaahaa : 81)

Kelima, Tidur yang berlebih-lebihan (berlebih-lebihan dalam tidur) ini biasanya berhubungan erat dengan makanan. Makan yang berlebihan cenderung mengakibatkan tidur yang berlebihan. Jika dua paket ini sudah berkumpul, maka berikutnya adalah kejelekan dan kemaksiatan yang mendominasi, yang merupakan racun-racun hati, oleh karena itu perlu kita berhati-hati.

Apabila banyak tidur atau tidur berlebih-lebihan dapat mengakibatkan efek samping yang tidak baik bagi orang yang selau melakukan kebiasaan dalam terlalu banyak tidur anrata laian: Pertama, timbul penyakit diabetes. Penelitian para ilmuan Amerika yang membuktikan tidur terlalu banyak akan menyebabkan diabetes. Pola tidur yang berlebih-lebihan akan memicu peningkatan kadar gula darah di tubuh. Apalagi jika dalam riwayat keluarga Anda ada yang pernah menderita diabetes, karena itu, perlu membiasakan pola tidur yang baik agar terhindar dari diabetes.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here