Ramadan, Aku Menyambutmu

0
249
DRS.Nazaruddin,MH

Oleh : DRS.Nazaruddin,MH
Dosen STAI Miftahul ‘Ulum Tanjungpinang, Dosen STAIN SAR Kepri Wakil Ketua Orda ICMI Tanjungpinang

Marhaban ya Ramadan 1439 H/2018 M, pasti kalimat ini yang pertama terlontar oleh umat Islam yang berada di seluruh belahan dunia, kalimat ini pulalah yang menunjukan bahwa tamu agung disambut dengan lapang dada, dan penuh kegembiraan yang tiada tara. Alasannya, mungkin orang orang beriman dapat berjumpa lagi dengan penghulu dari sekalian bulan yang mempunyai kelebihan dan keistimewaan yang tidak ada bandingannya. Bulan dimana orang yang beribadah di dalamnya mendapatkan ganjaran pahala kebaikan yang berlipat ganda.

Sebagai umat yang beriman, kita wajib bersyukur kepada Allah SWT, karena sampai saat ini kita masih dipertemukan kembali dengan bulan suci ramadhan 1439 H / 2018 M, yaitu bulan yang didalamnya sarat dengan anugerah, berkah,rahmat,nikmat dan tentu saja ampunanya, ini berarti kita masih diberi nikmat kesehatan, kekuatan, kesanggupan dan kesempatan oleh Allah SWT untuk meraih kembali momentum ilahiah dan sekaligus merangkuli kembali nilai tambah ramadhan dengan cara mengerjakan berbagai amal kebaikan pada bulan suci ini dengan penuh apresiasi keimanan dan ketaqwaan.

Memang sudah seharusnya kita secara sadar dapat memaknai momentum ramadhan ini dan sekaligus merengkuh nilai-nilai tambah yang terkandung di dalamnya, agar ibadah puasa dan ibadah lainnya di bulan suci ini memiliki relevansi, korelasi, dan signifikansi dalam perjalanan pengalaman kerohanisan kita sebagai hambanya.

Puasa ramadhan merupakan satu bentuk ritual keagmaan yang secara universal telah di bakukan dalam struktur ajaran islam, berjumlah hari dan cara yang berbeda, Allah Swt juga telah mewajibkan ibadah puasa ini sebagai salah satu ibadah pokok kepada umat-umat terdahulu sebelum umat Nabi Muhammad Saw. Allah Swt menetapkan puasa ramadhan sebagai salah satu dari lima pilar ibadah islam, empat rukun islam yang lain adalah membaca syahadat, sholat wajib lima waktu, zakat dan haji.

Puasa ramdhan dilakukan dengan cara menahan diri dari makan, minum, dan hubungan seksual antara suami istri dari sejak terbit fajar sampai dengan terbenam matahari, puasa ini dilakukan selama satu bulan.

Perintah Allah Swt, yang menjadi dasar kewajiban bagi umat islam untuk berpuasa ramadhan terdapat dalam al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 183 “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu sekalian berpuasa sebagaimana di wajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, semoga dengan puasa itu, kamu sekalian menjadi orang-orang yang bertaqwa, bagi kita sebagai umat islam yang beriman, momentum illahiah ramahdan ini mempunyai seperangkat hikmah yang sangat berkorelasi positif, saling terkait dan tak terpisahkan, memiliki makna teologis-psikologis, sosiologis, dan mengandung nilai tambah yang sangat luas dan mendalam, antara lain :

Pertama :puasa ramadhan dapat membentuk para pribadi pengamalnya (shaimun) menjadi sosok manusia yang bertaqwa. Derajat taqwa tidak secara otomatis kita peroleh dengan hanya menyatakan iman kepada Allah Swt, tetapi harus secara intens mengupayakan secara berkesinambungan dan dengan penuh ikhlas mengabdi dan berbakti kepada-Nya. Kita harus beribadah secara benar, intens, tekun dan tulus ikhlas kepada sang khalik untuk meraih derajat takwa itu, pribadi yang takwa adalah sosok pribadi yang secara konsisten mampu melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya.

Kedua: sebagai momentum intropeksi diri, ramadhan merupakan momen yang tepat untuk mengevaluasi diri, diawali dengan flashback atas apa yang telah dilakukan selama ini sehingga menentukan rancangan resolusi terbaik. Aspek yang dijadikan bahan intropeksi diri bisa meliputi kebiasaan sehari-hari, hubungan silaturahim dengan orang-orang yang dikenal, amanah yang sedang diemban, grafik kenaikan amal harian, dan besarnya usaha yang dilakukan dalam meraih target-target yang telah direncanakan. Jika sudah baik maka harus ditingkatkan, namun sebaliknya jika belum maksimal maka harus diperbaiki semua dimulai di ramadhan ini.

Ketiga: sebagai momentum mempertajam aspek spiritual, ramadhan merupakan waktu yang sangat tepat untuk meningkatkan ritual-ritual ibdah yang wajib maupun yang sunnah, shalat tarawih dan tadarusan Al-Qur’an, misalnya akan membantu terciptanya Suasana kondusif bagi kita untuk melakukan perbaikan diri berbagai kesempatan ritual ibadah dibulan suci ramadhan ini memberikan pembinaan dan pendidikan ruhiyah kepada diri kita. Dan melaksanakan amalam ibadah di bulan ramadhan ini kaum muslimin diharapkan dapat mengubah diri masing-masing menjadi lebih bik dan mendapatkan ampunan Allah Swt.

Keempat : sebagai momentum peningkatan kualitas dan kapasitas, saatnya untuk membuat daftar skill apa saja yang sduah dimiliki dan apa yang belum. Kemampuan yang ingin dimiliki dapat diasah di ramadhan ini. Sekalian agar hari-hari ramadhan lebih produktif, sebagai contoh antara lain kemampuan menulis, berbicara, dan kemampuan yang berhubungan dengan hobi-hobi adalah opsi-opsi bagus untuk ditingkatkan di ramadhan ini, selain itu, ramadhan dapat dijadikan momen untuk meningkatkan kuantutas pemberian asupan gizi untuk otak dan hati sehingga kualitas dan kapasitas diri bertumbuh dari aspek ilmu pengetahuan (Al-Qur’an)

Puasa ramadhan yang dijalani oleh masyarakat muslim merupakan opsi yang bisa mengembalikan derajat kemanusiaan dalam strata keagungannya. Pasalnya, manusia yang semestinya dalam kekalahan, menjadi pengabdi kemarahan, kerakusan serta sifat-sifat kebinatangan diri.akan diselamatkan hingga dirinya tetap menjadi pemenang atau memiliki “Pibadi yang Cerdas”, mampu keluar dari belitan kecendrungan berlaku apa yang dimaksud THOMAS HOBBES, Homo Homini Lupus (manusia adalah serigala bagi manusia lain). Kalau kita percaya, bahwa agama islam itu merupakan suatu kanopi suci (canopy of sacre), maka kewajiban berpuasa yang sudah digaris kan syariat ini, tepat untuk dijadikan sebagai opsi penyelamatan manusia dan peradabannya.

Didalam kewajiban ini, terkandung hikmah bahwa setiap muslim yang berpuasa akan menuai ketenangan batin, terdidik dalam kearifan, hidup dalam solidaritas, berbingkai kesantunan, walaupun telah disebutkan begitu banyak keutamaan dan kemuliaan ramadhan, pada akhirnya sikap terhadap ramadhan kembali pada individu masing-masing. Ada orang-orang yang menganggap istimewa ramadhan, sehingga mereka mempersiapkan pertemuan dengan ramadhan ini jauh di bulan-bulan sebelumnya. Akhirnya marilah kita berdoa kepada Allah Swt, agar kita betul-betul dipertemukan dengan bulan ramadhan yang mulia ini dan semoga kita bisa meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah kepada Allah Swt. Ramadhan, aku menyambutmu. Amien. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here