Raport Hitam Putih Arus Mudik dan Balik Lebaran

0
444
Dian Fadillah

Oleh: Dian Fadillah S.Sos
Pemerhati Sosial Jalan-Jalan, Sanggar Lembayung Kepri

Lebaran dan liburan sudah selesai dimana memiliki berbagai sisi positif dan negative yang tidak dapat dielakkan. Secara positif Indonesia yang memiliki beberapa lokasi strategis dengan dikelilingi berbagai pulau besar dan kecil. Meskipun demikian akan tetapi tetap sampai dikampoeng halaman dengan kemacetan dan antrian panjang serta lama. Segala penderitaan yang dialami dijadikan bahagia karena tujuan dapat bertemu dengan saudara jauh yang sudah lama tidak bertemu muka. ecara Etimologi kata berdasarkan Kamus Umum besar Bahasa Indonesia bahwa “Hitam” melambangkan perlindungan, pengusiran, sesuatu yang negatif, mengikat, kekuatan, formalitas, misteri, kekayaan, ketakutan, kejahatan, ketidak bahagiaan, perasaan yang dalam, kesedihan, kemarahan, sesuatu yang melanggar (underground), modern music, harga diri, anti kemapanan.

Hitam secara umum Sangat tepat untuk menambahkan kesan misteri. Warna hitam dapat menampilkan perspektif dan kedalaman. Sangat bagus untuk menampilkan karya seni atau fotografi karena membantu penekanan pada warna-warna lain. Sedangkan arti “Putih” sangat bertolak belakang dimana Menunjukkan kedamaian, permohonan maaf, pencapaian diri, spiritualitas, kedewaan, keperawanan atau kesucian, kesederhanaan, kesempurnaan, kebersihan, cahaya, tak bersalah, keamanan, dan persatuan yang sangat bagus untuk menampilkan atau menekankan warna lain serta memberi kesan kesederhanaan dan kebersihan.

Hitam Putih Kehidupan mudik dan arus balik . Hitam dan Putih diibaratkan dua mata pisau yang sama tajamnya dengan posisi yang sama kekuatan daya tariknya. Kalau mengikuti hitam secara penuh maka kelamlah kehidupan yang dijalankan dengan masalah yang tidak dapat diselesaikan akan tetapi apabila kita mengikuti putih maka kitapun tahu serta yakin bahwa dampak positf perubahan dapat dilakukan dengan bertahap yang akan berafiliasi pada prospecting di masa ke depan.

Secara klasikal bahwa Kelamnya Hitam diibaratkan dengan suatu kehidupan yang penuh dengan lika liku pemasalahan keras penuh dengan kesadisan dan kejahatan dengan konotasi yang menakutkan sementara sisi Putih memberikan kebahagiaan dan harapan dengan suatu kehidupan yang penuh dengan nuansa kebaikan kehandalan dan agamis serta meyakini aka nada titik temu kecerahan masalah yang dialami secara lebih baik. Yakinlah siapapun kita pasti memiliki kedua sisi kehidupan itu dengan kejelasan warna dan tujuannya tapi juga tidak menutup kemungkinan untuk “abu abu” serba tidak jelas. Kehidupan sebagai suatu yang tidak jelas posisinya berada yang harus diwaspadai dan bisa mengarah kepada kemunafikan sifat manusianya. Ketuaan umur dunia dan lebih tua dari umurnya tetap memiliki nilai alternative.

Kita bisa mengikuti selera dalam menjalankan aktivitas apapun dengan melupakan yang lain tapi ingatkah kita akan jauh dan menjauh dari aturan dan etika yang sudah ada di masyarakat Timur. Gejolak arus mudik dan arus balik lebaran memiliki histori tersendiri dengan dilemma masing-masing. Meskipun demikian masyrakat Indonesia tidak pernah kapok untuk yang namanya Pulang Ke Kampung. Apakah itu dilihat dari jarak dekat ataupun jauh. Apakah itu ditinjau dari biaya murah apalagi mahal ataupun tingginya tingkat resiko kecelakaan jalan raya.

Tidak ada yang mengatakan kapok pulang kampong kalau begini. Meskipun ada yang berpendapat begitu tapi akan dilakukan kembali di tahun berikutnya. Fenomena tabrakan mulai dari tabrakan kendaraan sampai menghilangkan nyawa perseorangan apalagi keluarga yang seolah-olah nyawa menjadi tidak berharga saat itu. Ingin rasanya tayangan kehidupan buruk itu dihapus dari memori pikiran dan dapat kembali melakonkan sandiwara hidup kembali. Jalan tol yang rusak, kurangnya rest area sebagai derita dari dan sampai ke tujuan akan tetap menjadi kenangan selamanya sampai ke anak cucu. Begitu banyaknya komentator, motivator, dan reporter yang menyampaikan informasi terkini kemacetan jalan raya akan membuat keramaian semakin padat mulai -7 sampai dengan +7 yang dijalankan. Itulah pola konstruktif aktivitas unik masyarakat Indonesia dari tahun ke tahun yang sangat kelihatan di masa libur lebaran yang tidak dimiliki oleeh negara tetangga Malaysia Singapore Australia.

Sedih tapi juga bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia yang beraneka ragam etnik dan budaya serta agama tapi tetap dapat menghargai antar sesame dengan rukun damai yang bukan hanya sebatas khayalan belaka.

Kehidupan yang meskipun hanya bersinyalemen dalam lakonan sandiwara kehidupan pragramatis Indonesia kini. Perbaikan demi perbaikan memang dilakukan tapi seiring dengan itu kendaraan dan manusia terus juga tumbuh dengan suburnya. Konon Krisis moneter yang katanya sudah melanda Indonesia dari tahun 1998 seolah olah terasa terhenti seketika pada saat masyarakat menikmati suasana sirkulasi liburan lebaran dengan beraneka ragam kue dan ketupatnya.

Kita semua memang menginginkan egara hadir dalam permasalahan tahunan berkelanjutan ini meskipun masih belum maksimal apakah itu ditinjau dari pengadaan fasilitas transportasi yang bagus, penambahan jadwal dan armada termasuk keamanan yang perlu ditingkatkan sehingga masalah apapun dapat diantisipasi sebelum terjadi dengan adanya Plan A, B, dan C untuk urusan arus mudik dan arus balik.

Semoga hitam putih perjalanan mudik dan arus balik lebaran dapat menjadi momentum perubahan untuk masyarakat dalam merencanakan perjalanannya, pemerintah dalam melengkapi fasilitas umumnya dengan perhitungan estimasi cuaca yang sangat tidak dapat diprediksi sehingga menjadikan mudik sebagai suatu tontonan yang mengasyikkan untuk dilihat dengan nilai tinta hitam (buruk) dan putihnya (baik). Selamat kepada semua yang sudah balik mudik dan kembali ke rumah masing-masing. Selamat beraktivitas dan semoga menjadi pribadi yang lebih baik dengan menjadi pribadi yang “Zero Dosa”. Wassalam.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here