Reaktualisasi Peran Pemuda

0
51
Rini Pratiwi, M.MPd

Oleh: Rini Pratiwi, M.MPd
Dosen STAI MU Tanjungpinang

“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia,” kata Sukarno.

Pemuda harus melaksanakan pembangunan bukan membuat bangsa ini menjadi babak belur oleh pemudanya sendiri. 10 November di Surabaya pemuda pemuda Indonesia berjuang bersama tentara hidup dan mati meneriakkan kata Merdeka atau Mati.

Ya, Kota Surabaya menjadi merah dengan tetesan darah yang tumpah. Pemuda dan kalangan tua berjuang dengan alat seadanya untuk menunjukkan kepada penjajah bahwa bangsa Indonesia sudah merdeka. Jadi jangan coba-coba kaum imperialis Barat masuk lagi untuk menjajah. Membawa harta pribumi ke Eropa sana. Itulah hari heroik bagi pemuda pemuda Indonesia khususnya arek Suroboyo berjuang mempertahankan kemerdekaan yang sudah diproklamirkan.

Dengan bambu runcing, tak ada rasa gentar sedikit pun melawan senapan mesin musuh. Dan dunia pun mengakui hari itu Indonesia masih ada. Negara yang masih berdaulat dan ada pemiliknya. Kini peran pemuda bukan lagi diminta untuk berjuang mengangkat senjata di medan perang. Pemuda berperan sebagai agent of change, di mana peran generasi muda alias generasi melenial memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan Indonesia menuju Walfare State.

Pemuda atau generasi sekarang diharapkan lebih mentransformasi kesadaran akan masalah bangsa. Bukan hanya turun ke jalan memprotes kebijakan yang dibuat pemerintah tanpa tahu apa yang harus diberikan solusi atas persoalan yang menggerogoti sendi sendi kehidupan kebangsaan kita.

Pemuda yang diharapkan mereka yang memiliki jiwa kesatria, memberikan solusi inovatif dan tepat sasaran terhadap permasalah bangsa saat ini. Mengutif apa yang dikatakan mantan Presiden ketiga Indonesia  BJ Habibie, hanya pemuda yang kuat dapat melaksanakan pembangunan bangsa ini ke depan. Tanpa pemuda yang bisa menyesuaikan dengan dinamika perkembangan zaman, tentu kelebihan bonus demografi yang dianugerahkan Tuhan kepada Indonesia atas pemuda usia-usia produktif akan sia sia.

Dan itu bisa saja menjadikan Indonesia negara yang terperangkap tak bisa bergerak ke arah negara maju (middle income trap). Karena bonus demografi yang harusnya menjadi mesin pertumbuhan ekonomi dan menyerap lapangan pekerjaan, berubah menjadi beban negara. Karena mereka tak bisa bekerja dan banyak pengangguran yang diakibatkan sedikitnya tenaga kerja terampil yang bekerja sesuai dengan perubahan zaman.

Padahal era revolusi industri 4.0 menuntut pemuda pemuda Indonesia berjuang menyesuaikan perkembangan zaman yang kekinian. Inilah kondisi di mana kita pemuda harus memahami apa yang terjadi saat ini.

Karena tuan sendirilah yang memahami isi rumahnya dan pemuda Indonesia sendiri yang harus berjuang bertanggungjawab atas bangsanya sendiri. Kita tidak bisa banyak berharap dari bangsa lain untuk membantu Indonesia dalam menuju kesejahteraan adil dan makmur. Hanya dengan pemuda yang kuat kreatif inovatif bangsa ini dapat berjalan sesuai dengan harapan pendiri bangsa.

Pesta demokrasi yang berlangsung saat ini janganlah menjadikan kita saling bermusuhan. Sumpah pemuda 90 tahun lalu sudah mengikat nurani nurani pemuda se Indonesia untuk berbangsa satu Bangsa Indonesia, berbahasa satu Bahasa Indonesia dan bertanah air satu Tanah Air Indonesia.

Kita tidak boleh lagi mempertanyakan komitmen kebangsaan kita. Pemilu tak boleh mencabik cabik rasa kemanusiaan bangsa Indonesia yang dikenal santun dan berbudaya tinggi. Pemilu sebuah pesta rutin yang sudah pernah kita buat sejak 1955. Maka pengalaman pengalaman dalam pemilu tak boleh membuat kita saling membenci dan menebarkan kebencian sesama anak bangsa.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here